7 Jenis Obat yang Efek Sampingnya Bisa Bikin Gula Darah Naik

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Saat seseorang mengalami diabetes, ada begitu banyak komplikasi yang bisa mengganggu kesehatan secara umum. Untuk itu, dibutuhkan perawatan lain di luar pengobatan diabetes untuk mengobati kondisi tersebut. Sayangnya, ada beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan gula darah naik. Hal ini harus diwaspadai pasien diabetes dan keluarganya. Lantas, obat apa saja yang dapat menyebabkan gula darah naik?

1. Dekongestan

Jenis obat pertama yang dapat membuat gula darah naik ialah dekongestan. Dekongestan sendiri merupakan jenis obat flu untuk meredakan gejala hidung tersumbat serta bersin-bersin. Biasanya golongan obat ini termasuk pseudoephedrine dan phenylephrine.

Kedua obat ini memang tidak mengandung gula, tetapi bisa merangsang tubuh untuk melepaskan gula ke dalam aliran darah. Karena itulah dekongestan dapat menyebabkan kadar gula darah lebih tinggi dari biasanya.

2. Beta blocker

Golongan obat ini biasanya digunakan untuk menurunkan tekanan darah, mengobati aritmia (detak jantung tidak teratur), hingga mengurangi kecemasan. Sayangnya, obat ini dapat menghambat produksi dan kerja hormon insulin, yaitu hormon yang bertugas untuk mengolah gula. Akibatnya glukosa dalam darah menjadi tidak terkontrol.

3. Niasin (asam nikotinat)

Niasin adalah jenis vitamin B yang biasa digunakan untuk menurunkan lemak darah sehingga mampu mengurangi kadar kolesterol buruk dan meningkatkan kolesterol baik. Akan tetapi, obat ini juga dapat menaikkan kadar gula darah pada pengidap diabetes.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Heart tahun 2016 juga menyatakan bahwa niasin dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes. Selain itu, niasin juga bisa memicu resistensi insulin, yakni kondisi di mana insulin tidak bekerja semestinya. Karena itu, niasin bisa membuat gula darah naik dan sulit dikendalikan.

4. Kortikosteroid

Obat-obatan ini digunakan sebagai antiradang dan dapat menyembuhkan nyeri sendi, asma, dan alergi. Obat yang termasuk dalam golongan kortikosteroid dapat merangsang produksi glukosa dalam tubuh. Selain itu, obat ini juga mencegah protein pembawa glukosa dalam jaringan untuk mencapai membran sel. Padahal, di membran sel inilah terjadi proses penghilangan glukosa dari darah.

Obat kortikosteroid yang diminum dan disuntikkan lebih berisiko meningkatkan kadar gula darah dibandingkan dengan obat yang digunakan dalam inhaler atau dioleskan sebagai krim kulit. Pasalnya, obat minum dan suntik memasuki aliran darah dalam jumlah besar sehingga efeknya juga sangat besar.

Akan tetapi, menurut dr. Timothy In-Chhu Hsieh, kepala endokrinolog di Kaiser Permanente West Los Angeles Medical Center di California, pengobatan jangka pendek dengan kortikosteroid tidak akan memiliki efek yang terlalu signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan jangka panjang. Maka, sebenarnya penggunaan obat ini masih sah-sah saja dengan syarat Anda mengonsumsinya di bawah pengawasan dokter dan tidak digunakan dalam jangka panjang. 

5. Antipsikotik

Antipsikotik digunakan untuk mengobati berbagai penyakit mental berat, salah satunya skizofrenia. Meskipun skizofrenia bukan penyakit umum yang diderita orang dengan diabetes, di antara pengidap skizofrenia angka kejadian diabetes dan risikonya mencapai 2-3 kali lipat lebih besar dari populasi umum. Hal ini biasanya dikaitkan dengan riwayat keluarga, pola makan yang buruk, dan kurang olahraga. Bukti terbaru juga menunjukkan bahwa beberapa obat yang digunakan untuk mengobati skizofrenia dapat meningkatkan risiko diabetes.

Pernyataan dari American Diabetes Association dan American Psychiatric Association menyatakan bahwa obat antipsikotik khususnya olanzapine dan clozapine dapat meningkatkan glukosa darah, meningkatkan berat badan, dan meningkatkan kadar lemak darah. Obat-obatan ini juga meningkatkan risiko seseorang terkena ketoasidosis diabetik, yakni komplikasi diabetes yang tidak umum tapi sangat serius.

6. Statin

Statin termasuk jenis obat yang digunakan untuk menurunkan kolesterol buruk (LDL) dan mencegah penyakit jantung dan stroke. Namun, penggunaanya bisa memicu gula darah tinggi. Selain itu, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Open Diabetes and Research Care yang meneliti pasien pradiabetes selama 10 tahun, ada kaitan antara penggunaan statin dengan naiknya risiko pradiabetes menjadi diabetes.

7. Antibiotik tertentu

Golongan antibiotik yang disebut fluoroquinolones digunakan untuk mengobati penyakit seperti pneumonia dan infeksi saluran kemih (ISK). Kedua obat ini juga telah terbukti menyebabkan penurunan dan peningkatan kadar gula dalam darah. Selain itu, pentamidine, obat antimikroba yang digunakan untuk mengobati jenis pneumonia tertentu, juga dapat menyebabkan peningkatan gula darah.

Namun, hanya karena kelompok obat ini mampu meningkatkan gula darah, bukan berarti Anda tidak boleh mengonsumsinya dengan alasan tidak aman. Anda memang perlu mewaspadai kemungkinannya terburuknya. Membicarakannya dengan dokter sebelum memutuskan untuk meminumnya bisa menjadi cara bijak untuk mendapatkan manfaat sekaligus menghindari efek samping yang bisa membahayakan kesehatan Anda.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: April 25, 2018 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca