Mengenal Jenis-Jenis Neuropati Diabetik

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 04/02/2020 . 5 mins read
Bagikan sekarang

Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf serius dan terjadi akibat diabetes melitus. Studi memperkirakan 50% dari penderita diabetes akan mengalami kondisi ini. Ada beberapa hal yang harus Anda ketahui tentang berbagai jenis neuropati diabetik. Simak penjelasan lengkapnya di sini.

Neuropati diabetik adalah komplikasi diabetes

Neuropati diabetik awalnya tidak menunjukan gejala, mengingat banyak penderita diabetes yang baru mengembangkan kerusakan saraf satu atau dua dekade setelah pertama kali didiagnosis.

Pada tahun 2010, British Medical Journal melaporkan bahwa pasien diabetes tipe 2 sangat berisiko mengalami komplikasi diabetes bila tekanan darahnya tinggi.

Setiap penurunan tekanan darah bisa bermanfaat banyak untuk mengurangi risiko komplikasi, dengan risiko terendah berada pada orang-orang dengan tekanan darah sistoliknya kurang dari 120 mm/Hg.

Bagaimana neuropati diabetik bisa terjadi?

Neuropati diabetik adalah kondisi yang sering disebabkan karena tingginya kadar gula darah.

Kadar gula darah tinggi yang terjadi dalam waktu lama bisa melukai pembuluh darah pemasok nutrisi dan oksigen yang cukup ke saraf tubuh. Setelah bertahun-tahun kekurangan pasokan nutrisi dan oksigen karena aliran darah yang buruk, hal ini dapat menyebabkan saraf mati rasa.

Beberapa orang dengan  neuropati merasakan nyeri, tetapi seiring berlangsungnya gangguan, rasa sakit biasanya akan hilang. Namun lama kelamaan rasa sakit bisa menjadi hebat, bahkan ketika kulit Anda hanya disentuh.

Jenis neuropati diabetik yang umum

Neuropati diabetik adalah kondisi yang bukan hanya 1 jenis. Ada beberapa istilah lain yang membedakan jenis kerusakan saraf akibat diabetes ini. Berikut merupakan penjelasan dari berbagai jenis neuropati diabetik:

1. Neuropati Perifer

tangan mati rasa

Dalam diabetes tipe 2, kerusakan saraf akibat neuropati perifer adalah kondisi yang memengaruhi bagian kaki, lengan atau tangan. Gejala bervariasi dari gejala ringan sampai berat. Gejala tersebut termasuk mati rasa, kesemutan atau sensasi terbakar, sensitivitas ekstrim terhadap sentuhan, ketidakpekaan terhadap suhu panas dan dingin, nyeri atau kram. Beberapa orang dengan pengaruh neuropati merasakan  sebagian besar gejala di malam hari.

Neuropati perifer dapat menyebabkan kelemahan otot dan hilangnya refleks, yang sering menyebabkan perubahan gerak seseorang, gaya berjalan, dan keseimbangan. Perubahan berjalan kadang-kadang menyebabkan nyeri sendi dan cedera kaki.

Risiko dari cedera kaki sangat berbahaya untuk penderita diabetes karena kombinasi neuropati dan sirkulasi darah yang buruk membuat luka yang muncul nanti makin susa disembuhkan. Penyembuhan yang lebih lama dapat meninggalkan luka yang rentan terhadap infeksi. Dalam kasus ekstrim, infeksi dapat menyebabkan amputasi.

2. Neuropati Autonom

terkena penyakit kelamin

Neuropati autonom yang dialami orang diabeets adalah jenis kerusakan saraf ini memengaruhi respon saraf “otomatis” dari organ internal tubuh. Penderita diabetes tipe 2 yang menderita kondisi ini dapat menyebabkan buang air kecil terus menerus (inkontinensia) atau masalah seksual seperti impotensi. Bahkan kelenjar keringat dan mata dapat melemah.

Gejalanya sendiri bervariasi dan juga berkisar dari ringan sampai parah. Gejala neuropati otonom lainnya juga bisa dilihat  seperti berkeringat banyak, nyeri di lengan, punggung, leher, rahang, atau perut, sesak napas, mual, dan pusing.

Kerusakan saraf pada sistem pencernaan dapat menyebabkan sembelit, kesulitan menelan, atau gastroparesis, suatu kelainan yang menyebabkan keterlambatan dalam pencernaan. Gastroparesis dapat memburuk dari waktu ke waktu sampai seseorang merasa lelah karena sering mual dan muntah.

Pencernaan yang tertunda ini bisa bikin tubuh jadi lebih sulit mengendalikan kadar gula darah. Dalam kasus gastroparesis yang parah, seseorang dapat bertahan hidup dengan diet cair atau diberi makan melalui tabung pengisi.

Sedangkan kerusakan saraf pada sistem kardiovaskular dapat menyebabkan perubahan tekanan denyut jantung dan darah seseorang. Misalnya, penderita diabetes tipe 2 dengan neuropati otonom mungkin mengalami penurunan tekanan darah setelah duduk atau berdiri, menyebabkan mereka merasa pusing dan kunang-kunang.

3. Neuropati Proksimal

sakit pinggang belakang

Neuropati diabetik adalah kondisi juga dapat dibedakan jenisnya, yaitu jenis neuropati proksimal. Kondisi ini sering memengaruhi penderita diabetes tipe 2 pada orang dewasa, terutama yang lebih tua. Jenis neuropati ini sering memengaruhi bagian pinggul, paha, bokong, atau kaki dan biasanya dimulai pada satu sisi tubuh.

Neuropati proksimal dapat melemahkan kaki, dan pada kasus yang berat, seseorang bisa kehilangan kemampuan ototnya untuk berpindah posisi dari duduk ke posisi berdiri tanpa bantuan. Kerusakan saraf jenis ini sering menyakitkan.

4. Neuropati Fokal

sakit kepala sebelah kiri

Kepala, tubuh bagian atas, atau kaki dapat terserang neuropati fokal. Kondisi ini umumnya punya ciri gejala yang suka muncul tiba-tiba dan adanya rasa nyeri hebat. Tidak seperti bentuk lain dari neuropati, kondisi ini biasanya hilang dalam beberapa minggu atau bulan dan tidak meninggalkan kerusakan permanen.

Gejala neuropati fokal bisa termasuk susah untuk fokus, penglihatan ganda, sakit di belakang mata, kelumpuhan wajah pada satu sisi (Bell palsy), carpal tunnel syndrome, dan nyeri di daerah tertentu, seperti di depan paha, punggung bawah, daerah pinggul , dada, perut, di dalam kaki, dan tulang kering.

Nyeri (neuropati fokal) ini dapat menjadi salah satu hal yang paling sulit perawatannya dalam menjaga kondisi diabetes. Bagi sebagian orang, rasa sakit tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bisakah Mencegah Neuropati pada Diabetesi?

Mencegah neuropati di kalangan penderita diabetes (diabetesi) dapat ditempuh dengan cara yang sehat, termasuk melalui konsumsi suplemen vitamin B.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Diabetes, Health Centers 17/04/2020 . 4 mins read

Edema Makula Diabetik, Komplikasi Diabetes yang Bisa Sebabkan Kebutaan

Edema makula diabetik adalah komplikasi diabetes yang bisa memicu kebutaan. Bagaimana cara mencegahnya? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Diabetes, Health Centers 13/02/2020 . 4 mins read

Diabetes Meningkatkan Risiko Rematik Hingga 20 Persen

Penyakit diabetes dapat meningkatkan risiko rematik hingga sebesar 20 persen apabila tidak ditangani dengan baik. Apa yang menjadi penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Diabetes, Health Centers 10/02/2020 . 3 mins read

Suka Makan Jantung Pisang? Ini 5 Manfaat yang Wajib Anda Tahu

Manfaat jantung pisang mampu menangkal beragam bakteri yang menyebabkan penyakit tertentu. Jantung pisang juga membantu mengatasi komplikasi diabetese.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Nutrisi, Hidup Sehat 29/12/2019 . 4 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat terapi akupuntur

Manfaat Terapi Akupuntur untuk Gangguan Sistem Saraf Tepi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 28/06/2020 . 4 mins read
penderita diabetes meninggal covid-19

Studi: 1 dari 10 Pasien COVID-19 dengan Diabetes Berisiko Meninggal Dunia

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 10/06/2020 . 5 mins read
diabetes dan kanker hati

Diabetes Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Hati, Ini Tips Mencegahnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 16/05/2020 . 4 mins read
neuropati diabetik

Apakah Neuropati pada Diabetesi Bisa Disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 20/04/2020 . 4 mins read