Jika Anda sedang berusaha mengendalikan gula darah, pemanis buatan mungkin adalah jawaban yang tepat untuk memaniskan makanan atau minuman Anda tanpa risiko. Namun terkadang ada beberapa hal yang mungkin membuat Anda ragu. Banyak mitos tentang pemanis buatan beredar di luar sana, sebagian memang ada yang benar, namun sebagian lagi tidak terbukti secara ilmiah.

Apa saja anggapan tentang pemanis buatan yang harus dihilangkan dari benak Anda?

Sejak awal kehadirannya, pemanis buatan telah menuai kekhawatiran berbagai pihak. Efek toksik yang mungkin ditimbulkannya kerap dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan. Kanker, stroke, bayi lahir dengan berat badan rendah, tekanan darah tinggi, muntah, pusing, dan kejang adalah sederet kondisi kesehatan yang dikaitkan dengan penggunaan pemanis buatan.

Lantas, mitos pemanis buatan mana yang benar-benar fakta dan mana yang hanya menjadi mitos? Anda bisa cek di bawah ini.

1. Mitos: pemanis buatan sebabkan kanker

Anda mungkin pernah membaca artikel bahwa pemanis buatan bisa menyebabkan kanker. Pemanis buatan yang sering disebut memiliki efek karsinogenik atau senyawa kimia penyebab kanker adalah aspartam.

Faktanya, keamanan penggunaan aspartam telah diteliti dan diakui oleh banyak organisasi nasional dan internasional, termasuk FAO/WHO Commitee of Experts on Food Additives (JEFCA) dan disetujui oleh badan parlemen Eropa untuk digunakan sebagai pemanis buatan di bahan makanan pada 30 Juni 1994.

Bahkan, di Prancis telah disetujui sejak 1988. Nilai ambang batas/acceptable daily intake (ADI) yang telah disetujui oleh JEFCA adalah 40 mg/kgBB/hari yang apabila dikonversikan sebanyak 18-19 kaleng diet cola pada individu yang mempunyai berat badan 68 kg.

Memang, penggunaan aspartam yang masih menjadi kontroversi  tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di Amerika dan sejumlah negara lainnya. Akan tetapi, sejauh ini FDA dan beberapa organisasi kesehatan lainnya masih menyatakan aman untuk dikonsumsi berdasarkan banyaknya penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia dari masa ke masa.

Jadi, Anda tidak boleh lagi percaya mitos pemanis buatan menyebabkan kanker, Anda hanya perlu mengonsumsinya secara wajar dalam batas aman dan tidak berlebihan.

2. Mitos: Pemanis buatan menyebabkan gula darah naik

Mitos. Mitos pemanis buatan yang satu ini sering kali membuat takut diabetesi. Sebuah penelitian yang dilakukan di Israel menemukan bahwa pemanis buatan dapat mengubah komposisi normal dari bakteri baik di dalam usus seseorang. Hal ini tampaknya juga mempengaruhi bagaimana tubuh mengendalikan gula di dalam makanan yang Anda konsumsi, yang membuat kadar gula darah meningkat.

Gangguan ini menyebabkan terjadinya gangguan toleransi glukosa, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya diabetes. Faktanya, jumlah pemanis buatan yang diberikan pada para peserta penelitian ini lebih banyak daripada yang biasa dikonsumsi oleh seseorang setiap harinya, walaupun masih dalam batas yang direkomendasikan setiap harinya.

Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai benar tidaknya hasil penelitian tersebut. Seperti yang dilansir Mayo Clinic, salah satu keunggulan pemanis buatan dibandingkan dengan gula adalah tidak menimbulkan kenaikan kadar gula darah. Berbeda dengan gula, pemanis buatan bukanlah karbohidrat. Karena keunggulan inilah pemanis buatan sering direkomendasikan bagi seseorang yang memiliki diabetes.

Meski sering dijadikan rujukan, pemakaian pengganti gula tetaplah tidak bisa sembarangan. Para diabetesi yang hendak mengganti asupan gula dengan pemanis buatan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau ahli gizi.

3. Mitos: Pemanis buatan hanya berasal dari bahan kimia

Mitos. Tahukah Anda bahwa meskipun pemanis buatan adalah pengganti gula sintetis, namun bisa saja ia berasal dari bahan alami? Bahan alami yang bisa dijadikan bahan pengganti gula bisa berasal dari tumbuhan atau bahkan gula itu sendiri.

Jika selama ini Anda hanya tahu aspartam, sukralosa, atau sakarin, ada pemanis buatan atau pengganti gula yang berasal dari tumbuhan yaitu stevia. Stevia merupakan pemanis dan pengganti gula yang diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana.

Stevia terasa manis berkat kandungan steviol glycosides yang ada di dalamnya. Senyawa tersebut membuat stevia terasa 250-300 kali lebih manis dari sukrosa atau gula biasa.

Satu penelitian menunjukkan bahwa selain tidak mengandung karbohidrat dan kalori, stevia juga tidak akan memengaruhi gula darah atau respons insulin. Dengan mengonsumsi stevia, para diabetesi pun diduga bisa mengonsumsi lebih banyak jenis makanan dan memenuhi rencana makan sehat.

Penelitian lain melaporkan jika stevia sangat sedikit, bahkan tidak memberikan efek apa pun terhadap kadar insulin, glukosa darah, hipertensi, dan berat badan. Kadar gula darah setelah makan pada diabetesi pun dilaporkan berkurang ketika mengonsumsi stevia.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca