Macam-Macam Jenis Penyakit Gula: Diabetes Tipe 1, Tipe 2, Diabetes Gestasional, dan Diabetes Labil

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Diabetes atau dikenal dengan diabetes melitus adalah salah satu penyakit kronis yang paling umum di Indonesia. Penyakit diabetes dapat menyebabkan komplikasi jika kondisinya terus bertambah parah sehingga penting untuk segera mendapatkan penanganan yang tepat. Namun, pengobatannya harus disesuaikan dengan tipe diabetes yang dimiliki. Sayangnya, tidak semua orang tahu jenis diabetes melitus. Memangnya, apa saja tipe diabetes yang ada di dunia?

Supaya lebih paham, simak ulasan mengenai klasifikasi diabetes melitus berikut ini.

Tipe diabetes yang perlu Anda ketahui

Selama ini Anda mungkin mengira kalau penyakit diabetes hanya ada dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 (kencing manis).

Faktanya, diabetes dibagi sesuai klasifikasi faktor penyebab utamanya, karakteristik kondisinya, dan siapa yang memilikinya.

Mari bahas satu per satu jenis diabetes melitus di bawah ini.

Prediabetes

penyakit diabetes melitus

Prediabetes merupakan salah satu klasifikasi diabetes melitus yang ditandai dengan kenaikan gula darah di atas normal. Namun, kenaikannya belum dapat digolongkan secara resmi sebagai diabetes, khususnya diabetes tipe 2.

Idealnya, kadar gula darah puasa pada orang sehat kurang dari 100 mg/dl. Sementara jika Anda mengalami jenis diabetes ini, kadar gula darah Anda lebih dari itu, yaitu sekitar 100-125 mg/dl. Nah, bila kadar gula darah Anda lebih dari 125 mg/dl, maka Anda dikatakan sudah mengalami diabetes.

Sebelum didiagnosis diabetes, tipe diabetes ini masih bisa disembuhkan. Jadi, tak semua orang yang dinyatakan prediabetes sudah pasti akan terkena penyakit diabetes.

Meski begitu, Anda juga harus waspada bila mengalami tipe diabetes ini. Pasalnya, prediabetes jadi peringatan bahwa Anda sudah berisiko tinggi terkena penyakit diabetes.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, tipe diabetes ini tidak menunjukkan tanda maupun gejala. Namun, kemungkinan besar orang dengan kondisi ini memiliki warna kulit yang lebih gelap di beberapa bagian tubuh tertentu.

Tanda dan gejala akan muncul bila pradiabetes telah beralih menjadi diabetes tipe 2, seperti cepat haus, sering buang air kecil, mudah lelah.

Penyebab tipe diabetes ini tidak diketahui secara pasti. Namun, riwayat kesehatan keluarga dan genetika turut berperan berkembangnya penyakit ini. Ditambah dengan kelebihan lemak perut akibat kebiasaan buruk, seperti malas olahraga dan sering makan makanan manis.

Yang jelas, orang yang didiagnosis mengalami jenis diabetes ini, insulin sudah mulai bekerja secara tidak benar sehingga tekanan gula darah lebih tinggi dari seharusnya.

Orang yang mengalami tipe diabetes tidak terlalu memerlukan obat-obatan untuk mengendalikan gula darahnya. Biasanya, dokter akan meminta para pasien untuk mengubah pola hidup agar menjadi lebih sehat, sehingga gula darah jadi lebih terkontrol.

Beberapa perubahan pola hidup sehat yang bisa Anda lakukan untuk mencegah jenis diabetes ini menjadi penyakit diabetes, seperti:

  • Menurunkan berat badan
  • Mengatur pola makan yang lebih sehat
  • Menghindari makanan tinggi gula, lemak, dan garam
  • Rajin olahraga atau aktif melakukan aktivitas fisik
  • Berhenti merokok dan minum alkohol

Jika Anda dinilai berisiko sangat tinggi terkena penyakit diabetes, dokter mungkin akan meresepkan beberapa obat tertentu membantu menurunkan kadar gula darah serta kadar kolesterol Anda.

Diabetes tipe 1

diabetes pada anak

Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika tubuh kurang atau sama sekali tidak dapat menghasilkan hormon insulin.

Orang dengan jenis diabetes ini akan mengalami gejala cepat haus dan lelah, sering buang air kecil, berat badan menurun drastis, serta mudah lapar.

Diabetes tipe 1 kemungkinan besar disebabkan oleh  sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan patogen (bibit penyakit), keliru dan bermasalah sehingga menyerang sel-sel penghasil insulin di pankreas.

Kekeliruan sistem imun pada penderita diabetes tipe 1 tersebut bisa difaktori oleh genetika dan paparan virus di lingkungan.

Insulin adalah hormon penting yang berfungsi menjaga kadar gula darah selalu dalam rentang normal. Jika produksi insulin terganggu, maka tubuh akan kesulitan untuk mengendalikan gula darah. Akibatnya, gula darah orang dengan diabetes tipe 1 selalu tinggi.

Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan tipe diabetes ini berisiko tinggi terkena penyakit diabetes tipe 1.

Tak hanya itu, jenis diabetes ini juga bisa disebabkan karena seseorang memiliki riwayat penyakit tertentu yang memengaruhi pankreas, seperti cystic fibrosis, peradangan yang parah pada pankreas (pankreatitis), dan baru atau pernah mengalami operasi pengangkatan pankreas.

Sering kali penderita diabetes tipe 1 memerlukan terapi insulin seumur hidup untuk mengendalikan gula darahnya. Insulin sendiri tidak dapat dikonsumsi melalui mulut, tapi diberikan dengan jarum suntik, pena insulin, dan pompa insulin.

Namun, perlu dipahami bahwa pemberian terapi insulin pada pasien diabetes jenis ini mungkin akan berbeda-beda. Jumlah insulin yang akan Anda perlukan setiap hari akan bergantung pada berbagai faktor termasuk pola makan, tingkat aktivitas fisik, dan seberapa parah penyakit diabetes yang Anda miliki.

Dibandingkan diabetes tipe 2, tipe diabetes ini memang terbilang kurang umum. Walau begitu, kondisi ini dapat terjadi pada usia berapa pun, terutama anak-anak, remaja, atau dewasa muda

Diabetes tipe 2

penyebab diabetes

Selain diabetes tipe 1, ada juga yang disebut dengan diabetes tipe 1. Jenis diabetes ini lebih umum terjadi di dunia ketimbang diabetes tipe 1.

Mengutip dalam laman CDC, diperkirakan sekitar 95 persen kasus diabetes adalah diabetes tipe 2. Secara umum, jenis diabetes ini dapat menyerang siapa saja pada semua kalangan usia. Namun, diabetes tipe 2 biasanya lebih mungkin terjadi pada orang dewasa dan lansia karena faktor gaya hidup.

Jenis diabetes ini terjadi akibat banyak faktor, yakni genetik, riwayat kesehatan keluarga, dan gaya hidup yang buruk. Pada diabetes tipe 2, tubuh tidak menghasilkan cukup insulin. Padahal, insulin dibutuhkan untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.

Kondisi tersebut akan menimbulkan gejala yang sama dengan diabetes tipe 1. Gejala jenis diabetes ini meliputi cepat lelah dan lapar, terus-menerus haus dan buang air kecil, serta berat badan menurun.

Kekurangan hormon insulin pada orang dengan diabetes tipe 2 membuat tubuh tidak bisa menggunakan insulin untuk mengolah gula darah menjadi energi secara efektif. Dalam istilah medis kondisi ini disebut dengan resistensi insulin.

Ketika resistensi insulin akibat diabetes tipe 2 terjadi, semakin banyak insulin yang dibutuhkan supaya kadar gula dalam tubuh bisa tetap stabil.

Nah, guna mengimbangi meningkatnya kebutuhan insulin akibat diabetes tipe 2, sel-sel penghasil insulin di pankreas (disebut sel beta) akan menghasilkan insulin yang lebih besar. Dengan harapan, semakin banyak insulin yang dihasilkan, semakin banyak pula darah yang bisa masuk ke dalam tubuh.

Sayangnya, karena terus-terusan dipaksa menghasilkan banyak insulin, sel beta justru tidak mampu merespons perubahan gula darah dalam tubuh dengan baik.

Respons sel tubuh yang tidak wajar ini mengakibatkan insulin tidak bekerja sebagaimana mestinya. Alhasil, banyak glukosa yang tidak terserap oleh sel tubuh dan mengalir bebas dalam pembuluh darah dalam jumlah banyak.

Untuk mengatasi gejala dan keparahan kondisi, pasien perlu mendapatkan obat diabetes dan mengikuti terapi insulin. Pasien juga perlu mengimbangi pengobatan dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat, seperti mengatur pola makan dan aktivitas fisik.

Diabetes gestasional

risiko diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang terjadi pada ibu hamil. Tipe diabetes yang terjadi selama kehamilan bisa menyerang ibu hamil, walau tidak memiliki riwayat diabetes. Tipe diabetes ini muncul karena plasenta ibu hamil akan terus menghasilkan sebuah hormon khusus.

Nah, hormon inilah yang menghambat insulin bekerja dengan efektif. Akibatnya, kadar gula darah Anda pun menjadi tidak stabil selama kehamilan.

Sebagian besar wanita tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami diabetes jenis ini karena seringnya diabetes gestasional tidak memunculkan gejala dan tanda yang spesifik.

Namun, jika ibu hamil merasa lemas, lesu, tidak bertenaga, sering lapar, kehausan, atau buang air kecil, segera periksakan diri Anda ke dokter.

Pasalnya, jika dibiarkan tanpa pengobatan yang tepat, tipe diabetes ini juga bisa menyebabkan komplikasi. Komplikasi diabetes gestasional ini dapat meningkatkan risiko ibu mengalami preeklampsia dan menyebabkan bayi cacat lahir atau mengalami gangguan pernapasan.

Kabar baiknya, kebanyakan wanita yang mengalami jenis diabetes ini akan sembuh. Ini disebabkan oleh kadar gula darah yang kembali normal selepas melahirkan. Akan tetapi, wanita hamil yang pernah mengalami jenis diabetes ini lebih rentan mengalami kekambuhan di kemudian hari.

Agar tidak menimbulkan komplikasi, ibu hamil yang mengalami diabetes tipe ini perlu mengecek kesehatan dan kehamilannya pada dokter secara rutin. Selain itu, gaya hidup juga perlu diubah jadi lebih sehat.

Wanita yang hamil di usia 30 tahun, memiliki berat badan berlebih, pernah mengalami keguguran atau bayi lahir mati (stillbirth), atau punya riwayat penyakit hipertensi dan PCOS, berisiko tinggi mengalami diabetes gestasional.

Diabetes labil

Diabetes labil juga disebut dengan “brittle diabetes” atau diabetes rapuh merupakan klasifikasi diabetes melitus yang cukup parah. Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah dalam tubuh Anda naik turun tidak menentu.

Naik turunnya gula darah ini dapat terjadi dengan cepat dan tidak bisa diprediksi, sehingga bagi beberapa orang, kondisi ini menyebabkan rasa tidak nyaman.

Seseorang yang memiliki riwayat penyakit diabetes tipe 1 berisiko tinggi mengalami diabetes labil. Namun, tidak berarti semua orang dengan diabetes tipe 1 sudah pasti akan mengalaminya. Selain itu, tidak menutup kemungkinan bila pasien diabetes tipe 2 juga bisa mengalaminya.

Pasalnya, beberapa dokter menggolongkan diabetes labil sebagai salah satu bentuk komplikasi diabetes. Sementara beberapa dokter lainnya menganggap diabetes labil sebagai turunan dari diabetes tipe 1.

Ada beberapa hal yang membuat wanita hamil berisiko mengalami tipe diabetes ini. Wanita usia 20-30an yang hormonnya tidak seimbang, memiliki kelebihan berat badan, punya riwayat gangguan hipotiroidisme (kadar hormon tiroid rendah), mengalami stres bahkan depresi, berisiko tinggi terkena diabetes rapuh.

Untungnya, kondisi ini sudah jarang terjadi berkat kemajuan dalam pengobatan diabetes. Meski begitu, jenis diabetes ini masih menjadi momok menakutkan bagi para penderita diabetes.

Ya, perubahan gula darah yang drastis dan terjadi secara cepat ini bisa membuat orang dengan diabetes diopname di rumah sakit karena mengalami koma diabetes.

Selain itu, jika tidak mendapatkan perawatan tepat, tipe diabetes ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi lain yang serius, seperti penyakit tiroid, gangguan kelenjar adrenal, berat badan naik, hingga depresi.

Nah, supaya Anda tidak terkena diabetes labil, berikut beberapa hal yang perlu Anda lakukan:

  • Berusaha untuk mendapatkan berat badan ideal
  • Sering melakukan relaksasi atau meditasi untuk mengurangi stres pikiran dan fisik
  • Bijak dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi sehari-hari
  • Perbanyak aktivitas fisik dan rutin berolahraga
  • Menghindari pola hidup tidak sehat, seperti merokok dan minum alkohol
  • Pastikan setiap malam Anda cukup tidur
  • Rutin cek kesehatan ke dokter untuk memantau kesehatan Anda secara menyeluruh

Punya nama mirip, diabetes insipidus bukan penyakit gula

merinding saat buang air kecil

Anda mungkin mengira kalau diabetes insipidus adalah salah satu klasifikasi diabetes melitus. Faktanya, walau sama-sama memiliki nama diabetes, kondisi ini tidak berhubungan sama sekali dengan penyakit diabetes mellitus.

Diabetes melitus disebabkan oleh masalah insulin dan kadar gula darah yang tinggi, sementara diabetes insipidus menyerang kerja ginjal Anda dalam mengolah urin. Jadi, keduanya tidak memiliki kaitan.

Diabetes insipidus adalah penyakit langka yang menyebabkan ketidakseimbangan cairan dalam tubuh akibat gangguan produksi hormon antidiuretik (ADH) dari otak. Hormon antidiuretik (ADH) juga dikenal juga sebagai vasopresin.

Hormon ini diproduksi oleh kelenjar hipotalamus otak. Salah satu tugasnya adalah untuk membantu ginjal menyerap dan mengeluarkan cairan tubuh. Sayangnya ketika seseorang mengalami kondisi ini, hormon vasopresin di dalam tubuhnya mengalami masalah sehingga ginjal tidak bekerja semestinya.

Gejala diabetes insipidus yang mirip dengan tipe diabetes adalah terus merasa kehausan walau sudah banyak minum air. Tak hanya itu, kondisi ini juga menyebabkan seseorang lebih sering buang air kecil dalam jumlah yang sangat banyak.

Inilah yang membuat pengidap diabetes insipidus sering kali merasa haus terus-terus walau sudah minum banyak air. Asupan cairan yang berlebih ini membuat orang dengan kondisi ini juga akan lebih sering untuk buang air kecil.

Sama seperti jenis diabetes dan penyakit lainnya, diabetes insipidus yang tidak mendapat perawatan dapat menyebabkan komplikasi, yakni dehidrasi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 28, 2018 | Terakhir Diedit: Januari 14, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca