Autisme adalah gangguan perkembangan interaksi sosial, komunikasi, serta gerakan berulang yang terjadi seumur hidup. Tidak ada obat untuk autisme, tetapi ada banyak cara untuk membantu mengurangi gejala sekaligus meningkatkan kemampuan fungsional. Dengan perawatan dan terapi autisme yang tepat, anak atau orang dewasa yang punya autisme bisa menggunakan semua keterampilan dan kemampuannya untuk menjalani hidup lebih baik.

Berikut adalah berbagai pilihan perawatan dan terapi autisme yang mungkin dianjurkan oleh dokter. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kondisi autisme pada masing-masing orang itu berbeda. Karenanya, seseorang mungkin cuma butuh satu atau dua jenis terapi saja, sementara yang lainnya membutuhkan rangkaian terapi yang lebih beragam.

Terapi manajemen perilaku

Terapi manajemen perilaku mengutamakan dukungan positif, latihan keterampilan, dan bantuan diri sendiri untuk mengembangkan perilaku yang diinginkan sekaligus mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Pendekatan perawatan yang diterima secara umum kepada orang dengan autisme disebut dengan analisis perilaku terapan (ABA). ABA memiliki beberapa jenis, yang dapat meliputi:

  • Perilaku dan dukungan positif (PBS): PBS membantu menentukan mengapa seseorang memiliki masalah perilaku. Terapi ini mencoba untuk mengubah lingkungan, mengajarkan keterampilan baru pada pengidap autisme, dan membuat perubahan lainnya untuk mendukungnya berperilaku dengan benar.
  • Intervensi perilaku intensif dini (EIBI): EIBI ditujukan untuk anak usia dini (biasanya di bawah usia 5 tahun). Terapi ini membutuhkan instruksi satu orang-ke-orang lainnya atau dalam kelompok kecil.
  • Pelatihan tanggapan vital (PRT): PRT berlangsung dalam kehidupan sehari-hari si penderita untuk meningkatkan motivasi belajar, mengendalikan perilakunya sendiri, dan mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Perubahan dalam perilaku-perilaku ini bisa membantu penderita mengatasi situasi lainnya.
  • Pelatihan percobaan diskrit (DTT): DTT adalah jenis pengajaran yang menggunakan cara langkah demi langkah. Pelajaran dibagi menjadi beberapa bagian dan guru menggunakan umpan balik positif untuk memberi penghargaan atas perilaku positif dan jawaban.

Terapi perilaku kognitif (CBT) 

Terapi perilaku kognitif atau CBT menggunakan kaitan antara perasaan, pikiran dan perilaku untuk membantu penderita autisme mengatasi kecemasan, menghadapi situasi sosial dan menyadari emosinya dengan lebih baik.

Dalam terapi ini, dokter, penderita autisme, dan orang tuanya (atau pengasuhnya) bekerja bersama untuk menetapkan tujuan yang spesifik. Penderita akan belajar menentukan dan mengubah pemikiran yang menyebabkan perilaku dan perasaan yang bermasalah secara perlahan-lahan. 

Terapi perilaku kognitif dapat disesuaikan dengan kelemahan dan kekuatan masing-masing orang sehingga lamanya waktu terapi akan menyesuaikan pula.

Terapi edukasi

Tim spesialis akan bekerja sama untuk menyiapkan berbagai aktivitas lewat terapi edukasi. Tujuannya yaitu membantu penderita autisme mengasah keterampilan, perilaku, serta kemampuannya berkomunikasi. Program ini bisa sangat terstruktur dan memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik masing-masing orang.

Penderita autisme sering menerima kombinasi dari kelas pribadi, kelas kelompok kecil, dan kelas biasa.

Memantau asupan nutrisi dan pola makan

Karena beberapa alasan, beberapa penderita autisme bisa kekurangan nutrisi. Misalnya beberapa pengidap autisme hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Beberapa orang yang lain menghindari makan karena mereka sensitif terhadap pengaturan cahaya atau perabotan di ruang makan. Yang lain tidak ingin makan karena percaya bahwa makan bisa bikin gejala kumat. Hal ini tentu berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Karenanya, orangtua dan pengasuh harus bekerja bersama ahli gizi untuk membuat rencana makan untuk penderita autisme. Nutrisi yang baik sangat diperlukan karena penderita autisme cenderung memiliki tulang yang lebih tipis dan masalah pencernaan (sembelit, sakit perut, muntah).

Terapi okupasi

Terapi okupasi bertujuan untuk membantu penderita autisme menyelesaikan tugas sehari-harinya. Mereka akan belajar untuk mengatasi masalah dalam kehidupan dan memaksimakan kemampuan mereka, serta kebutuhan dan minat mereka. Misalnya, penderita autisme akan diajarkan bagaimana cara menggunakan sendok atau cara berpakaian.

Terapi keluarga

Terapi keluarga berfokus pada mengajarkan orangtua, pengasuh, dan anggota keluarga lainnya untuk berkomunikasi dan bermain dengan penderita autisme dengan berbagai cara khusus. Cara-cara tersebut bisa membantu anak atau orang dewasa dengan autisme belajar keterampilan baru dan memperbaiki perilakunya yang tidak diinginkan.

Obat-obatan

Obat-obatan hanya memberikan sedikit manfaat untuk gejala utama autisme, tetapi bisa memperbaiki masalah yang dan kondisi yang berkaitan seperti depresi, gangguan tidur, gangguan cemas, epilepsi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan perilaku agresif seperti melukai diri sendiri. Para ahli biasanya menganjurkan penggunaan obat-obatan bersamaan dengan terapi autisme lainnya, misalnya CBT.

Obat yang umum digunakan dalam perawatan autisme meliputi selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), trisiklik, dan obat-obatan antipsikotik. Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping, jadi penting untuk mengikuti petunjuk dokter.

Terapi fisik

Beberapa penderita autisme bisa mengalami masalah pergerakan. Terapi fisik mencakup latihan spesifik untuk meningkatkan kesehatan, kekuatan, keseimbangan, dan postur mereka. Terapis fisik akan membantu penderita autisme dengan merancang program tepat dan mengajarkannya cara melakukan aktivitas fisik.

Pelatihan keterampilan sosial

Salah satu terapi autisme yang sangat bermanfaat yaitu pelatihan keterampilan sosial. Pelatihan ketrampilan sosial membantu penderita autisme belajar cara berinteraksi dengan orang lain. Misalnya bekerja sama dalam tim, menjawab dan mengajukan pertanyaan, melakukan kontak mata, memahami bahasa tubuh, hingga mencari penyelesaian masalah bersama dengan orang lain. 

Terapi wicara

Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan berkomunikasi penderita autisme. Beberapa orang memiliki masalah dengan ketrampilan komunikasi verbal seperti berbicara atau memahami apa yang orang lain katakan.

Terapi wicara akan membantu mereka dalam memberikan penjelasan yang lebih baik atas pemikiran dan perasaan mereka, menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat, atau memperbaiki ritme berbicara mereka.

Kemampuan berkomunikasi secara nonverbal juga akan dilatih. Misalnya kemampuan mengartikan gerak-gerik tubuh, mengenal berbagai ekspresi wajah, dan sebagainya. 

Intervensi dini

Diagnosis dan perawatan dini dapat membantu mengendalikan gejala autisme. Intervensi dini mengajarkan anak atau orang dengan autisme untuk belajar keterampilan dasar seperti berpikir dan membuat keputusan serta ketrampilan sosial dan emosional.

Terapi dan intervensi yang tepat dapat membantu penderita autisme memaksimalkan dan mendorong kemampuan mereka. Jika Anda curiga anak Anda atau Anda sendiri mengidap autisme, berkonsultasilah pada dokter sesegera mungkin sehingga perawatan dan terapi autisme dapat dimulai di waktu yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca