Folat merupakan salah satu zat gizi yang harus dipenuhi oleh ibu hamil. Bahkan, sebelum hamil pun wanita sudah disarankan untuk memperbanyak asupan folat. Folat merupakan zat gizi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, terutama perkembangan otak, di awal-awal kehamilan. Kekurangan folat di awal-awal kehamilan dapat meningkatkan risiko bayi cacat lahir.

Apa itu folat?

Folat atau vitamin B9 dapat ditemukan pada sayuran dan buah-buahan, seperti bayam, asparagus, brokoli, jeruk, alpukat, pepaya, pisang, kacang-kacangan, produk susu, daging, ayam, telur, dan ikan. Terigu juga sudah difortifikasi dengan asam folat (bentuk sintesis dari folat). Sebelum hamil, wanita direkomendasikan untuk mengonsumsi 400 mcg folat per hari.

Sel dalam tubuh ibu hamil dan janin berkembang dengan cepat sehingga dibutuhkan asupan folat yang cukup untuk membantu kerja sel tersebut. Folat dibutuhkan ibu hamil untuk membantu perkembangan awal janin, yaitu pada pertumbuhan awal otak dan sumsum tulang belakang. Selain itu, folat juga dibutuhkan untuk mencegah anemia pada ibu hamil. Kekurangan folat pada ibu hamil dapat menyebabkan cacat lahir, seperti neural tube defect (NTD), bibir sumbing, celah pada langit-langit mulut bayi, dan gangguan perkembangan lainnya.

Di samping penyakit yang telah disebutkan di atas, folat juga ternyata berhubungan dengan autisme pada anak yang dilahirkan.

Terlalu banyak folat diduga memicu autisme

Folat mempunyai peran penting pada pertumbuhan dan perkembangan janin. Namun, kelebihan folat ternyata juga membawa dampak buruk bagi kesehatan janin. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi terlalu banyak folat disebut-sebut dapat memicu autisme pada anak.

Penelitian dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menunjukkan bahwa jika ibu memiliki kadar folat yang sangat tinggi (4 kali dari jumlah yang direkomendasikan) tepat setelah melahirkan, maka ini akan meningkatkan risiko 2 kali lipat untuk anaknya menderita autism spectrum disorder (ASD) atau autisme. Autisme adalah gangguan pada perkembangan otak yang dapat menyebabkan masalah kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, dan perilaku repetitif (berulang). ASD berhubungan dengan ketidakmampuan intelektual, kesulitan koordinasi motorik dan perhatian, serta masalah kesehatan fisik, seperti gangguan tidur dan gangguan pencernaan.

Berdasarkan penelitian ini juga ditemukan bahwa kadar vitamin B12 yang sangat tinggi pada ibu tepat setelah melahirkan juga berisiko 3 kali lipat untuk mengembangkan ASD pada anak. Jika kadar folat dan vitamin B12 ditemukan sangat tinggi pada ibu, maka risiko anaknya menderita ASD meningkat menjadi 17,6 kali lipat. Penelitian ini melibatkan 1391 ibu yang melahirkan anak antara tahun 1998 sampai 2013 dan diikuti dalam waktu beberapa tahun. Kadar folat dalam darah ibu diperiksa sekali pada hari pertama sampai ketiga setelah kelahiran.

Namun, kekurangan folat juga bisa memicu autisme

Peneliti menemukan bahwa 1 dari 10 ibu memiliki kadar folat yang berlebih (lebih dari 59 nanomole per liter) dan 6% ibu memiliki kadar vitamin B12 yang berlebih (lebih dari 600 picomole per liter). Kelebihan kadar folat dalam tubuh ibu bisa disebabkan karena terlalu banyak konsumsi makanan yang difortifikasi asam folat, terlalu banyak konsumsi suplemen folat, atau secara genetik mampu menyerap jumlah yang lebih besar, metabolisme lebih lambat, atau gabungan antar keduanya.

Namun, kekurangan asupan folat pada awal kehamilan juga dapat meningkatkan risiko ASD pada anak. Sehingga calon ibu dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan folat untuk menurunkan risiko ASD pada anaknya. Penelitian yang melibatkan 85176 anak yang lahir antara tahun 2002-2008 menunjukkan bahwa konsumsi suplemen asam folat sebelum kehamilan berhubungan dengan menurunnya risiko ASD pada anak (Suren, 2013). Penelitian kasus-kontrol di California pada anak ASD juga menunjukkan bahwa ibu yang mengonsumsi asam folat dan vitamin selama 3 bulan sebelum kehamilan dan selama bulan pertama kehamilan berhubungan dengan menurunnya risiko ASD pada anaknya. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa asupan folat sebelum kehamilan dapat menurunkan risiko ASD pada ibu yang metabolisme folatnya tidak efisien (Schmidt, 2012).

Bagaimana agar asupan folat berada dalam jumlah yang cukup?

Kesimpulan dari beberapa penelitian di atas adalah ibu harus memenuhi kebutuhan folatnya sebelum dan setelah hamil dalam porsi yang cukup, tidak terlalu banyak dan juga tidak kekurangan. Terlalu banyak asupan folat maupun kekurangan asupan folat, keduanya dapat meningkatkan risiko ASD pada anak yang dilahirkan ibu. Jika ibu mengalami masalah dalam memenuhi kebutuhan folat tubuhnya, konsumsi suplemen dianjurkan dalam jumlah yang cukup.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum ibu memutuskan untuk mengonsumsi suplemen agar mengetahui batasannya. Namun, usahakan untuk mendapatkan folat hanya dari sumber makanan jika ibu tidak mempunyai masalah dengan asupan folatnya.

BACA JUGA

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca