Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Sembelit pada Bayi dan Anak Balita

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/04/2020 . 9 menit baca
Bagikan sekarang

Sembelit merupakan gangguan pencernaan yang umum terjadi pada bayi dan anak balita. Anda sebagai orangtua yang melihatnya pasti khawatir, tapi tenang dulu. Masalah susah BAB pada anak dan bayi yang masih kecil dapat mudah diobati dengan beragam perawatan rumahan. Supaya lebih memahami penyebab dan gejala susah BAB pada bayi dan anak akibat sembelit (konstipasi), simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Penyebab sembelit (susah bab) pada bayi dan anak balita

anak susah BAB

Penyebab sembelit pada bayi dan anak yang susah BAB biasanya karena mereka tidak mendapatkan cukup asupan cairan dan serat dari makanan.

Namun, beberapa penyebab lain juga dapat menyebabkan konstipasi pada bayi dan anak balita. 

1. Minum susu formula

Bayi yang menyusu ASI eksklusif lebih jarang mengalami sembelit karena ASI mengandung komposisi lemak dan protein yang seimbang. Keunggulan ini membantu perut bayi menghasilkan feses yang konsisten selalu lunak, bahkan jika bayi Anda tidak BAB selama satu atau dua hari.

Namun jika bayi Anda mengonsumsi susu formula, komposisi protein yang berbeda dalam susu tersebut bisa menyebabkan sembelit. Bayi yang menyusu formula dan mengalami sembelit biasanya mengeluarkan feses berwarna pucat dan keras. Begitu pula dengan anak balita yang terbiasa minum susu formula, ia akan lebih rentan susah BAB.

Jika anak Anda terus-terusan sembelit karena susu formula, Anda mungkin bisa beralih ke susu formula lain yang lebih baik untuk pencernannya. Anda bisa minta rekomendasi ke dokter anak Anda.

2. Mulai makan makanan padat

Bayi dan anak balita dapat mengalami sembelit ketika baru diperkenalkan MPASI atau makanan padat, setelah sebelumnya hanya terbiasa dengan makanan cair berupa susu.

Sembelit dapat menjadi reaksi sistem pencernaan yang umum ketika harus mengolah tekstur makanan baru. Terlebih, biasanya makanan pertama bayi cenderung kurang serat, seperti bubur nasi atau biskuit sereal.

3. Kurang cairan

Sembelit juga bisa terjadi saat bayi Anda disapih dari ASI karena proses ini kadang menyebabkan dehidrasi.

Jika bayi Anda terlihat mengalami dehidrasi, tubuhnya akan menyerap cairan dari makanan atau minuman yang dikonsumsinya, dan juga dari kandungan air yang berada di feses. Hal ini mengakibatkan tekstur feses bayi lebih keras dan lebih sulit untuk dikeluarkan.

Oleh karena itu, beri anak minum yang banyak setiap hari. Anak biasanya lupa untuk minum, ingatkan selalu anak untuk minum air putih kapan pun itu. Hal ini selain untuk mencegah sembelit, juga untuk mencegah dehidrasi.

4. Kurang asupan serat

Kurang makan serat merupakan penyebab yang paling umum dari sembelit pada anak balita karena tidak suka buah dan sayur. Padahal, buah dan sayur adalah sumber makanan yang banyak mengandung serat.

Serat dari makanan membantu feses menyerap lebih banyak air dan menambah berat massanya. Hal ini membuat feses lebih lunak dan mudah untuk dikeluarkan. Oleh karena itu, biasakan anak makan makanan dengan gizi seimbang, terutama makan buah dan sayur setiap hari.

5. Latihan menggunakan toilet bermasalah

Bayi dan anak balita seiring waktu butuhk latihan menggunakan toilet (potty training). Latihan ini tidak hanya mengajarkan anak bagaimana cara menggunakan toilet, tapi juga mengasah insting anak untuk belajar menyalurkan keinginan buang air.

Sayangnya, potty training kerap kali menimbulkan kecemasan, sehingga anak sengaja menahan BAB. Akibatnya, konstipasi bisa terjadi pada anak.

6. Menahan BAB

Menurut laman Mayo Clinic, kebiasaan anak menahan BAB atau malah mengabaikan desakan untuk buang air besar dapat menyebabkannya susah mengeluarkan feses. Anak mungkin menunda-nuda “ke belakang” karena ia takut ke toilet sendiri atau sibuk bermain dengan teman-temannya. Ini bisa juga terjadi karena anak menghindari rasa sakit akibat susah BAB sehingga memilih untuk menahannya.

Feses yang terlalu lama di dalam usus besar akan lebih sulit untuk dikeluarkan karena usus besar akan menyerap air dari feses.

7. Penyakit atau kondisi medis

Penyebab lain dari sembelit pada bayi dan anak adalah karena mereka kurang gerak. Kurang gerak dapat membuat pergerakan usus menjadi lambat sehingga memicu sembelit. 

Jika hal-hal di atas bukanlah apa yang membuat anak Anda susah BAB, kondisi medis di bawah ini mungkin dapat melatarbelakanginya:

  • Hipertiroidisme, yang bisa menyebabkan penurunan aktivitas otot usus bersama dengan gejala lainnya.
  • Penyakit Hirschsprung, di mana segmen pada usus besar mengalami kekurangan sel ganglion (jenis dari sel saraf). Hal ini menyebabkan usus besar tidak dapat menerima petunjuk dari otak untuk berfungsi dengan baik. Bayi yang mempunyai penyakit ini biasanya memiliki berat badan kurang atau lebih kecil pada usianya, ia juga bisa mengalami muntah dan memiliki ukuran feses yang lebih kecil.
  • Diabetes, ini merupakan masalah umum yang juga bisa menyebabkan sembelit.
  • Gangguan sistem saraf, seperti cerebral palsy, keterlambatan mental, atau masalah pada tulang belakang. Gangguan ini menyebabkan anak menghabiskan waktu yang lebih lama pada satu posisi, mempunyai pergerakan usus yang abnormal, atau kurang koordinasi pada pergerakan usus mereka.
  • Botulisme, penyakit yang disebabkan oleh spora Clostridium botulinum ini mempunyai gejala awal konstipasi.

Sembelit pada bisa disebabkan oleh kelainan anatomi sistem pencernaan, masalah metabolisme, gangguan sistem imun, atau fungsi sistem pencernaan yang tidak bekerja dengan baik. Bisa juga terjadi karena si kecil menggunakan obat-obatan, seperti antidepresan.

Gejala sembelit pada bayi dan anak balita selain susah BAB

Konstipasi sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Namun, buang air besar yang normal berbeda untuk setiap anak. Setiap bayi dan balita memiliki frekuensi BAB yang berbeda-beda sesuai usia tumbuh kembangnya.

Bayi baru lahir yang menyusu ASI rerata dapat buang air sebanyak 6 kali sehari, sementara bayi yang diberi susu formula cenderung buang air besar sebanyak 8 kali seminggu. Kemudian pada satu bulan pertama hidupnya, bayi cenderung buang air besar sekali sehari.

Setelah usianya masuk usia 2 bulan, frekuensi BAB si kecil akan berkurang secara bertahap. Bayi dapat bertahan berhari-hari tanpa BAB otot perut mereka masih terlalu lemah sehingga sulit untuk mengeluarkan feses. Ini bukan selalu berarti mereka mengalami konstipasi. Jika tekstur fesesnya tetap lunak, kemungkinan tidak ada masalah pada pencernaan mereka.

Seiring usianya bertambah, anak balita (usia dua sampai lima tahun) cenderung buang air besar 1-3 kali sekali dalam sehari. Jika frekuensi buang air pada bayi atau anak balita di rumah mendadak lebih jarang daripada kisaran di atas, bisa jadi ia sedang susah BAB karena sembelit.

Gejala konstipasi pada anak sebenarnya tidak berbeda jauh dengan gejala umum yang dirasakan orang dewasa. Hanya saja, anak yang usianya lebih muda tidak dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan. Jadi, orangtua perlu mengamatinya.

Gejala sembelit pada bayi

Bayi yang diberi susu formula atau dikenalkan makanan padat biasanya akan mengalami konstipasi. Gejala susah BAB pada anak bayi yang bisa Anda amati, meliputi:

  • Feses yang keluar padat dan berukuran kecil-kecil
  • Bayi terlihat menangis atau kesakitan saat buang air
  • Jarang BAB atau bahkan tidak sama sekali selama seharian

Gejala sembelit pada balita

Gejala susah BAB pada anak balita ini tidak jauh berbeda dengan bayi. Lebih jelasnya, gejala susah BAB  yang mereka rasakan, meliputi:

  • Feses yang keluar lebih keras, kering, dan ukurannya lebih besar
  • Perut terlihat membengkak dan keras ketika disentuh
  • Ada darah di fesesnya

Pada anak yang sudah mampu berbicara, mereka biasanya akan mengeluh perut terasa sakit dan kembung. Bila si kecil mengalami BAB berdarah, kemungkinan ada luka di sekitar anusnya karena bergesekan dengan feses yang besar dan keras.

Cara mengobati dan mencegah sembelit pada anak

gejala asma pada anak ke dokter

Supaya tidak bertambah parah, Anda jangan menyepelekan konstipasi yang terjadi pada anak. Sembelit yang tidak diobati bukan hanya membuat anak rewel, tapi juga berisiko menyebabkan komplikasi. Area anus anak bisa terluka, terjadi perdarahan, berkembang menjadi wasir, atau menyebabkan prolaps anus (dinding rektum keluar dari anus).

Untuk mencegah dan mengobati sembelit, Anda bisa memberikan anak:

  • Minum yang banyak. Cairan tubuh yang cukup akan membantu feses anak bergerak lebih mudah dalam usus. Anak perlu meningkatkan asupan cairan, sekitar 3 hingga 4 gelas air setiap hari, menurut situs Kids Health
  • Beri anak makanan berserat. Makanan tinggi serat, seperti buah dan sayuran dapat membantu anak terhindar dari sembelit. Serat tidak dapat dicerna oleh usus, sehingga serat melewati usus dan dapat mengikat air yang membuatnya mudah untuk keluar.
  • Pastikan anak melakukan banyak aktivitas. Banyak melakukan aktivitas juga dapat membantu pergerakan usus, sehingga feses lebih mudah untuk dikeluarkan.
  • Biasakan anak makan dengan jadwal teratur. Membiasakan anak makan pada waktunya juga dapat membantu mengembangkan kebiasaan buang air besar secara rutin.

Perawatan sembelit dengan obat

Jika cara di atas tidak ampuh mengatasi susah BAB pada anak, dokter akan meresepkan obat-obatan. Namun, obat sembelit untuk anak, berbeda dengan obat yang diresepkan untuk orang dewasa.

Obat yang biasanya diresepkan dokter untuk mengatasi susah BAB pada anak, antara lain:

  • Suplemen serat seperti Metamucil atau Citrucel
  • Obat supositoria (dimasukkan ke anus) yang mengandung gliserin
  • Obat pencahar untuk mengurangi penyumbatan, seperti olietilen glikol (GlycoLax, MiraLax, lainnya) dan oil mineral

Jika susah BAB pada anak tidak juga membaik, dokter akan meminta si kecil dirawat beberapa hari di rumah serikat. Kemungkinan ini terjadi bila feses sudah sangat penumpuk dan menyebabkan penyumbatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 22/06/2020 . 8 menit baca

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Munculnya kista saat hamil adalah hal yang umum terjadi. Walau biasanya tidak berbahaya, ibu hamil perlu memahami apa saja pengaruhnya terhadap kandungan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19/06/2020 . 5 menit baca

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Tips ini akan membantu Anda menerapkan kebiasaan kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Yuk, cari tahu apa saja caranya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Parenting, Tips Parenting 16/06/2020 . 5 menit baca

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 9 menit baca

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 7 menit baca
pelukan bayi perkembangan bayi 14 minggu perkembangan bayi 3 bulan 2 minggu

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 4 menit baca