Anda mungkin bertanya, “Apakah menopause juga bisa terjadi pada pria?” Pada dasarnya, pria juga mengalami perubahan hormon seiring bertambahnya usia yang disebut andropause. Yuk, ketahui lebih dalam mengenai kondisi ini pada pembahasan berikut!
Anda mungkin bertanya, “Apakah menopause juga bisa terjadi pada pria?” Pada dasarnya, pria juga mengalami perubahan hormon seiring bertambahnya usia yang disebut andropause. Yuk, ketahui lebih dalam mengenai kondisi ini pada pembahasan berikut!

Andropause berakar dari kata Yunani kuno, yakni “andras” yang berarti pria dan “pause” yang berarti berhenti.
Andropause adalah sekumpulan tanda menurunnya testosteron pada pria. Kondisi yang mirip menopause pada perempuan ini umumnya mulai terjadi pada usia paruh baya.
Namun, harus diingat bahwa andropause pada pria berbeda dengan menopause pada wanita.
Menopause pada wanita menyebabkan terhentinya pelepasan sel telur (ovulasi) serta penurunan hormon yang terjadi dalam waktu singkat.
Sementara itu, andropause pada pria membuat tingkat hormon testosteron menurun bertahap selama bertahun-tahun. Kondisi ini juga disebut hipogonadisme terkait usia.
Pada dunia kedokteran, kondisi ini juga disebut klimakterik pada pria atau androgen decline in ageing male (ADAM).
Apabila menopause menyebabkan wanita tidak lagi melepaskan sel telur, perubahan kondisi kesehatan pria ini tidak mengakibatkan terhentinya produksi sel sperma.
Penurunan hormon pria ini bisa menimbulkan beberapa tanda dan gejala khas, meliputi:

Perlu diketahui, hormon testosteron pria menurun sekitar 1,6% per tahun. Kondisi ini umumnya dimulai pada usia pertengahan 30 tahun.
Selain karena faktor usia, penurunan tingkat testosteron ini juga terkait dengan tingginya lemak viseral yang biasanya terlihat dengan jelas pada perut buncit.
Tumpukan lemak tersebut bisa mengacaukan sistem metabolisme tubuh, mengganggu hormon insulin, dan bahkan menyumbat pembuluh darah.
Penyumbatan ini akan memengaruhi respons sistem saraf terhadap hormon testosteron. Ketika tubuh tidak mendeteksi testosteron, akhirnya hasrat dan gairah seksual pun menurun.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko andropause pada pria adalah sebagai berikut.
Andropause dapat dipicu oleh paparan polusi lingkungan dan pengaruh bahan kimia, termasuk bahan pengawet makanan dan limbah.
Perubahan hormon merangsang terjadinya menopause pada laki-laki. Beberapa hormon yang dapat mengalami perubahan yakni:
Perubahan kondisi lingkungan sosial ketika memasuki masa pensiun adalah salah satu pemicu stres pada pria paruh baya. Stres dapat meningkatkan risiko pria mengalami andropause.
Penyakit atau kondisi medis kronis yang dapat meningkatkan risiko andropause meliputi:
Selain itu, efek samping operasi kantong empedu, pengangkatan testis, kerusakan testis akibat kecelakaan, atau trauma kepala, juga bisa meningkatkan risiko andropause.
Beberapa obat-obatan yang dapat memicu penurunan testosteron meliputi:
Kebiasaan dan aktivitas sehari-hari bisa menjadi akar pemicu menopause pada pria. Ini berisiko menyebabkan penurunan gairah seksual dan mood yang tidak stabil.
Beberapa faktor gaya hidup yang dapat memicu andropause yaitu:
Andropause adalah kondisi yang terjadi secara alami. Namun, Anda dapat melakukan beberapa hal untuk mencegah efek andropause kian parah.
Anda bisa mengonsumsi multivitamin, misalnya vitamin D dan kalsium. Suplemen ini berguna untuk mengurangi efek berkurangnya kepadatan mineral tulang.
Untuk masalah gairah seksual yang kian menurun, dokter biasanya akan memberikan pengobatan agar kadar hormon testosteron tetap stabil.
Pengobatan libido rendah dapat dilakukan dengan terapi hormon untuk pria dan obat-obatan.
Ada baiknya diskusikan dengan dokter Anda sebelum menjalani pengobatan tertentu. Pasalnya, beberapa pengobatan untuk andropause memiliki efek samping bagi tubuh.
Perlu diketahui bahwa terapi testosteron dapat meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker prostat.

Karena proses ini terjadi secara alami, Anda hanya bisa memperlambat kedatangannya dengan menerapkan pola hidup sehat dan menghindari paparan polusi dari lingkungan.
Mulai sekarang, hindari konsumsi makanan berpengawet, berkalori, serta berlemak tinggi untuk membantu mengecilkan perut buncit.
Sebagai gantinya, Anda perlu menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, ikan kaya omega-3, dan susu rendah lemak.
Iringi pola makan sehat ini dengan olahraga rutin yang membuat tubuh makin kuat. Jangan lupa juga untuk mengelola stres dengan sebaik mungkin.
Jika Anda perlu bantuan, Anda dapat meminta pertolongan dengan teman, keluarga, kelompok pendukung (support group), atau menemui psikolog dan psikiater.
Segera konsultasikan dengan dokter bila penis nyeri, terasa sakit saat kencing, beser, ejakulasi dini, dan kencing mengejan atau tidak lancar.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Male menopause: Myth or reality? (2022). Mayo Clinic. Retrieved December 11, 2024, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/mens-health/in-depth/male-menopause/art-20048056
The ‘male menopause’. (2018). NHS UK. Retrieved December 11, 2024, from https://www.nhs.uk/conditions/male-menopause/
Fincham, A. (2021). The male menopause: How does age affect fertility in men? Fertility Europe. Retrieved December 11, 2024, from https://fertilityeurope.eu/the-male-menopause-how-does-age-affect-fertility-in-men/
Testosterone: What it is and how it affects your health. (2023). Harvard Health. Retrieved December 11, 2024, from https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/testosterone–what-it-does-and-doesnt-do
Low testosterone. (n.d.). Urology Care Foundation. Retrieved December 11, 2024, from https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/l/low-testosterone
Dudek, P., Kozakowski, J., & Zgliczyński, W. (2017). Late-onset hypogonadism. Przeglad menopauzalny = Menopause review, 16(2), 66–69. https://doi.org/10.5114/pm.2017.68595
Fui, M. N., Dupuis, P., & Grossmann, M. (2014). Lowered testosterone in male obesity: mechanisms, morbidity and management. Asian journal of andrology, 16(2), 223–231. https://doi.org/10.4103/1008-682X.122365
Versi Terbaru
27/12/2024
Ditulis oleh dr. Dito Anurogo, M.Sc.
Diperbarui oleh: Edria