home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenali Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur yang Sangat Lama

Kenali Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur yang Sangat Lama

Kisah putri tidur atau sleeping beauty, merupakah salah satu dongeng terkenal dari masa ke masa. Namun, ternyata tidak seluruhnya merupakan mitos belaka. Dalam kehidupan nyata, ada juga orang yang mengalaminya. Kondisi tertidur dalam waktu lama ini memiliki sebutan sindrom sleeping beauty. Namun, seperti apakah kondisi ini sebenarnya? Penasaran? Yuk, cari tahu lebih lanjut pada ulasan berikut ini.

Apa itu sindrom sleeping beauty?

kualitas tidur

Sleeping beauty syndrome adalah kelainan neurologis langka. Saking langkanya, dilaporkan hanya ada sekitar 1000 orang di seluruh dunia yang menderita penyakit ini. Dalam dunia medis, sindrom ini juga dikenal dengan sebutan Sindrom sleeping beauty adalah suatu keadaan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Dalam dunia medis memiliki sebutan Kleine-Levin Syndrome .

Sindrom Kleine-Levine adalah penyakit neurologi yang kharateristik utamanya membuat seseorang tidur dalam jangka waktu yang lama. Jika dalam dongeng, yang mengalami kondisi ini adalah seorang putri. Sementara dalam kehidupan nyata, sekitar 70% pengidap gangguan neurologis ini adalah laki-laki dewasa.

Durasi tidur pada orang dengan kelaianan ini adalah tidur lebih dari 2o jam per harinya. Periode ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Akan tetapi setelah periode tersebut berakhir, penderita sindrom sleeping beauty bisa beraktivitas biasa seperti layaknya orang normal.

Kasus pertama dari sindrom sleeping beauty dilaporkan oleh Brierre de Boismont pada tahun 1862. Kasus ini muncul beberapa dekade sebelum timbulnya epidemik encephalitis lethargica.

Baru pada tahun 1925, kasus hiperinsomnia (tidur berlebihan) yang terus menerus berulang, dikumpulkan, dan dilaporkan oleh Willi Kleine di Frankfurt. Max Levin kemudian melanjutkan penelitian terkait sindrom sleeping beauty dengan menambahkan beberapa teori yang mendukung.

Sindrom putri tidur ini kemudian disebut sebagai Kleine-Levin Syndrome oleh Critchley pada tahun 1962. Setelah ia sebelumnya memantau 15 kasus terkait gejala-gejala sindrom ini yang muncul pada prajurit-prajurit Inggris yang bertugas pada perang dunia II.

Apa saja tanda dan ciri sindrom sleeping beauty?

sindrom sleeping beauty

Ciri utama dari sindrom ini adalah waktu tidur yang berlebihan ketika sindrom tersebut menyerang, masa-masa ini umum dengan sebutan ‘episode’. Jika episode terjadi, penderita dapat memiliki karakteristik lainnya, sebagai berikut:

1. Tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan

Penderita tidak dapat membedakan mana kenyataan mana mimpi. Tidak jarang pada sela-sela berlangsungnya episode, penderita sering melamun dan terlihat seolah-olah tidak sadar dengan lingkungan sekitarnya.

2. Timbul gejala fisik dan emosional

Ketika terbangun pada saat tengah-tengah waktu tidur panjangnya, penderita dapat bertingkah laku seperti anak kecil, merasa kebingungan, disorientasi, letargi (kehilangan energi dan merasa sangat lemas). Mungkin juga penderita apatis atau tidak menunjukkan emosi terhadap apa yang ada di sekitarnya.

Penderitanya juga melaporkan menjadi lebih sensitif terhadap banyak hal, contoh suara dan cahaya. Kehilangan nafsu makan juga bisa terjadi ketika suatu episode sedang berlangsung. Beberapa juga menyatakan munculnya nafsu seksual yang meningkat secara tiba-tiba.

Sindrom sleeping beauty ini merupakan sebuah siklus. Tiap episode dapat berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Ketika suatu episode berlangsung, penderita tidak dapat melakukan pekerjaan layaknya orang normal.

Mereka juga tidak bisa mengurus dirinya. Ini karena saat bangun dari tidur yang lama membuat tubuh kelelahan dan mengalami disorientasi.

Apa penyebab sindrom putri tidur ini?

fungsi otak tengah

Hingga kini, tidak ada penyebab pasti dari Kleine-Levin Syndrome. Akan tetapi, ahli kesehatan yakin ada faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

Salah satunya, adanya cedera pada hipotalamus, yakni bagian otak yang mengontrol tidur, nafsu makan, dan suhu tubuh. Kemungkinan cedera kepala karena jatuh dan mengenai area kepala yang menjadi area hipotalamus, menjadi salah satu penyebabnya. Meskipun begitu, perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan kemungkinan tersebut.

Pada beberapa kasus, sindrom sleeping beauty terjadi pada orang yang pernah mengalami infeksi atau mengidap gangguan autoimun. Penyakit autoimun adalah masalah kesehatan yang terjadi akibar sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh yang sehat.

Beberapa insiden Kleine-Levin Syndrome mungkin juga bersifat genetik. Ada kasus yang menunjukkan gangguan tersebut mempengaruhi lebih dari satu orang dalam sebuah keluarga.

Bagaimana diagnosis dan pengobatan sleeping beauty sindrom?

obat BAB berdarah

Tidur berlebihan (hipersomnia) bisa menjadi gejala dari banyak penyakit, seperti depresi. Bahkan, multiple sclerosis menunjukkan gejala yang hampir serupa.

Oleh karena itu, untuk menegakkan diagnosis sindrom putri tidur ini, dokter akan meminta pasien menjalani serangkaian tes kesehatan. Memang tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis gangguan tidur ini.

Namun, Standford Health Care menjelaskan ada beberapa tes kesehatan, seperti MRI bisa membantu. Lewat MRI, dokter bisa menyingkirkan kemungkinan lesi, tumor, peradangan otak, atau penyakit multiple sclerosis sebagai penyebabnya.

Dokter juga akan bekerja sama dengan dokter spesialisasi lain untuk menyingkirkan masalah kesehatan lain, seperti dokter spesialis endokrin dan dokter spesialis penyakit dalam.

Ketimbang dengan terapi obat, pendampingan dan penanganan saat episode sindrom ini lebih penting. Saran konsumsi beberapa jenis obat tujuannya bukan untuk mengobati sindrom tersebut melainkan hanya mengurangi gejala-gejalanya.

Obat-obatan yang berupa stimulan seperti amfetamin, methylphenidate, dan modafinil dapat digunakan untuk mengatasi rasa kantuk berlebihan yang ditimbulkan sindrom ini. Namun, jenis obat-obatan tersebut dapat meningkatkan iritabilitas penderita dan tidak berpengaruh untuk mengurangi abnormalitas kemampuan kognitif yang terjadi saat episode berlangsung.

Oleh karena itu, pengawasan dan penanganan penderita selama episode terjadi sangatlah penting. Penderita akan mengalami kesulitan mengurus dirinya, sehingga membutuhkan bantuan orang lain. Setelah satu episode berakhir, penderita biasanya tidak akan mengingat apa yang terjadi selama episode sindrom berlangsung.

Biasanya episode-episode sindrom sleeping beauty ini lama kelamaan akan berkurang durasi dan intensitasnya. Proses ini dapat berlangsung selama 8 hingga 12 tahun lamanya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What is Kleine Levin Syndrome? KLS Foundation. (n.d.). https://klsfoundation.org/what-is-kleine-levin-syndrome/.

Nebhinani, N., & Suthar, N. (2017). Sleeping Beauty Syndrome: A Case Report and Review of Female Cases Reported from IndiaIndian journal of psychological medicine39(3), 357–360. https://doi.org/10.4103/0253-7176.207319.

Treatments. Stanford Health Care (SHC) – Stanford Medical Center. (2017, September 12). https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/sleep/recurrent-hypersomnia/treatments.html.

Diagnosis. Stanford Health Care (SHC) – Stanford Medical Center. (2017, September 12). https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/sleep/recurrent-hypersomnia/diagnosis.html.

Arnulf I, Zeitzer JM, File J, Farber N, Mignot E. Kleine-Levin syndrome: a systematic review of 186 cases in the literature. Brain. 2005 Dec;128(Pt 12):2763-76. doi: 10.1093/brain/awh620. Epub 2005 Oct 17. PMID: 16230322.

U.S. Department of Health and Human Services. (n.d.). Kleine-Levin Syndrome Information Page. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/All-Disorders/Kleine-Levin-Syndrome-Information-Page.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x