home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan yang Membuat Seseorang Tidur Sangat Lama

Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan yang Membuat Seseorang Tidur Sangat Lama

Kisah putri tidur, dongeng yang sudah dikenal dari masa ke masa, ternyata tidak seluruhnya merupakan mitos belaka. Sindrom sleeping beauty adalah suatu keadaan yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Sindrom yang dalam dunia medis dikenal sebagai Kleine-Levin Syndrome adalah suatu kelainan neurologis yang bisa dibilang langka. Saking langkanya, dilaporkan hanya ada sekitar 1000 orang di seluruh dunia yang menderita penyakit ini.

Apa itu sindrom sleeping beauty?

Sindrom Kleine-Levine adalah suatu penyakit neurologis langka yang uniknya biasa diderita oleh pria dewasa, sekitar 70% dari jumlah penderita sindrom ini adalah laki-laki.

Karakterisitik utama dari penyakit ini adalah berlangsungnya periode di mana penderitanya tidur dalam jangka waktu yang lama, kira-kira lebih dari 20 jam per harinya. Periode ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Tetapi setelah periode tersebut berakhir, penderita sindrom sleeping beauty bisa beraktivitas biasa seperti layaknya orang normal.

Kasus pertama dari sindrom ini dilaporkan oleh Brierre de Boismont pada tahun 1862. Kasus ini muncul beberapa dekade sebelum timbulnya epidemik encephalitis lethargica. Baru pada tahun 1925, kasus hiperinsomnia yang terus menerus berulang dikumpulkan dan dilaporkan oleh Willi Kleine di Frankfurt. Max Levin kemudian melanjutkan penelitian terkait sindrom sleeping beauty dengan menambahkan beberapa teori yang mendukung.

Sindrom ini kemudian dinamai Kleine-Levin Syndrome oleh Critchley pada tahun 1962 setelah ia sebelumnya memantau 15 kasus terkait gejala-gejala sindrom ini yang muncul pada prajurit-prajurit Inggris yang bertugas pada perang dunia II.

Apa saja ciri-ciri sindrom sleeping beauty?

Ciri utamanya adalah waktu tidur yang berlebihan ketika sindrom tersebut menyerang, masa-masa ini biasa disebut ‘episode’. Jika suatu episode terjadi, penderita dapat memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Penderita tidak dapat membedakan mana kenyataan mana mimpi. Tidak jarang di sela-sela berlangsungnya episode, penderita sering melamun dan terlihat seolah-olah tidak sadar dengan lingkungan sekitarnya.
  • Ketika terbangun di tengah-tengah waktu tidur panjangnya, penderita dapat bertingkah laku seperti anak kecil, merasa kebingungan, disorientasi, letargi (kehilangan energi dan merasa sangat lemas), hingga apatis atau tidak menunjukkan emosi terhadap yang terjadi di sekitarnya.
  • Penderita juga dilaporkan menjadi lebih sensitif terhadap banyak hal seperti misalnya suara dan cahaya. Kehilangan nafsu makan juga bisa terjadi ketika suatu episode sedang berlangsung. Beberapa juga menyatakan munculnya nafsu seksual yang meningkat secara tiba-tiba.
  • Sindrom sleeping beauty ini merupakan sebuah siklus. Tiap episode dapat berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Ketika suatu episode berlangsung, penderita tidak dapat melakukan pekerjaan layaknya orang normal. Mereka juga tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena meskipun mereka terbangun, tetapi kemudian mereka akan merasa terlalu lelah, tidak punya tenaga, dan mengalami disorientasi.

Apa yang menyebabkan terjadinya sindrom sleeping beauty?

Sama seperti penyakit langka lainnya, masih belum ada penjelasan terkait apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya penyakit ini. Tetapi gejala-gejala yang muncul pada sindrom ini mengindikasikan adanya malfungsi kerja bagian hipotalamus dan thalamus pada otak. Kedua bagian ini pada otak berperan dalam mengatur nafsu makan serta tidur.

Bagaimana pengobatan bagi penderita sindrom sleeping beauty?

Dibandingkan dengan terapi obat, pendampingan dan penanganan di rumah saat episode sindrom ini lebih penting. Beberapa jenis obat dapat dikonsumsi tetapi tujuannya bukan untuk mengobati sindrom tersebut melainkan hanya mengurangi gejala-gejalanya.

Obat-obatan yang berupa stimulan seperti amfetamin, methylphenidate, dan modafinil dapat digunakan untuk mengatasi rasa kantuk berlebihan yang ditimbulkan sindrom ini. Namun, jenis obat-obatan tersebut dapat meningkatkan iritabilitas penderita dan tidak berpengaruh untuk mengurangi abnormalitas kemampuan kognitif yang terjadi saat episode berlangsung.

Oleh karena itu, pengawasan dan penanganan di rumah selama episode terjadi sangatlah penting. Penderita akan mengalami kesulitan mengurus dirinya sendiri sehingga bantuan orang lain sangatlah dibutuhkan. Setelah satu episode berakhir, penderita biasanya tidak akan mengingat apa yang terjadi selama episode sindrom berlangsung.

Biasanya episode-episode sindrom sleeping beauty ini lama kelamaan akan berkurang durasi dan intensitasnya. Proses ini dapat berlangsung selama 8 hingga 12 tahun lamanya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

5 Tips For Battling Kleine-Levin Syndrome. (2012, January 27). Retrieved August 30, 2016, from Huffington Post: http://www.huffingtonpost.com/2011/07/19/klein-levin-syndrome-tips_n_903719.html

Arnulf, I., Zeitzer, J. M., File, J., Farber, N., & Mignot, E. (2005). Kleine–Levin syndrome: a systematic review of 186 cases in the literature. A Journal of Neurology. Retrieved August 30, 2016

NINDS Kleine-Levin Syndrome Information Page. (2014, July 25). Retrieved August 30, 2016, from National Institute of Neurological Disorders and Stroke: http://www.ninds.nih.gov/disorders/kleine_levin/kleine_levin.htm

What is KLS? (n.d.). Retrieved August 30, 2016, from KLS Foundation: http://klsfoundation.org/what-is-kleine-levin-syndrome/

 

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Monika Nanda
Tanggal diperbarui 3 hari lalu
x