Penderita TBC Bisa Gemuk Kembali, Ini Penjelasannya

Penderita TBC Bisa Gemuk Kembali, Ini Penjelasannya

Pengidap penyakit tuberkulosis (TBC) rentan mengalami penurunan berat badan secara drastis. Selain obat, dokter juga akan menganjurkan untuk lebih banyak makan dari biasanya. Lantas, apakah penderita TBC bisa gemuk kembali? Simak penjelasannya di bawah ini.

Apakah penderita TBC masih bisa gemuk?

apakah penderita tbc bisa gemuk

Pada dasarnya, penderita TBC bisa gemuk dengan perawatan yang tepat. Kondisi ini juga perlu didukung dengan asupan makanan bergizi seimbang secara teratur.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam International Journal of Infectious Diseases (2016) menguji persentase peningkatan berat badan selama pengobatan pada 134 pasien TBC.

Hasilnya, terdapat 31,9% pasien TBC yang dapat menambahkan setidaknya 5% berat badan mereka setelah menjalani pengobatan selama dua bulan.

Sementara itu, pada masa akhir pengobatan TBC, terdapat 62,4% pasien yang juga mengalami kenaikan berat badan secara signifikan.

Salah satu gejala yang banyak dirasakan pengidap TBC memang berat badan yang turun drastis. Kondisi ini terjadi karena tubuh sedang berusaha melawan infeksi bakteri penyebab TBC.

Selain itu, sejumlah faktor lain, seperti hilangnya nafsu makan, gangguan pencernaan, dan efek samping dari obat antituberkulosis (OAT) juga bisa memperparah kondisi ini.

Akan tetapi, pengidap gangguan pernapasan ini tetap dapat menaikkan berat badan dengan cara menjalani pengobatan dan pola makan yang tepat.

Lalu, apakah anak-anak dengan TBC juga bisa gemuk?

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala TBC pada anak tidak spesifik. Umumnya gejala yang bisa terlihat ialah pertumbuhan yang terhambat dan berkurangnya nafsu makan.

Sama halnya dengan TBC pada orang dewasa, anak-anak juga dapat mengalami peningkatan nafsu makan dan pertambahan berat badan dengan pengobatan yang tepat.

Selain itu, penting juga untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang, menjaga lingkungan rumah yang bersih, dan tidak melewatkan imuninasi BCG saat bayi.

Pemberian vaksin BCG dilakukan satu kali pada bayi saat usia 0–1 bulan. Menurut studi, vaksin ini memberi perlindungan 70–80% terhadap infeksi TB.

Manfaat makan banyak saat sakit TBC

makanan untuk penderita tbc

Menurunnya nafsu makan pada penderita TBC dapat menyebabkan kekurangan gizi. Padahal, tubuh membutuhkan asupan gizi yang seimbang untuk melawan dan mempertahankan diri dari infeksi bakteri.

Kekurangan gizi juga bisa memperparah gejala TBC, memengaruhi cara kerja obat-obatan, dan membuat proses penyembuhan berjalan lebih lama.

Oleh sebab itu, Anda yang sedang sakit TBC harus lebih banyak makan makanan bergizi. Hal ini tentu berguna untuk menjaga berat badan dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Setiap zat gizi penting untuk membantu penyembuhan. Meski begitu, Anda bisa lebih memperbanyak konsumsi makanan untuk penderita TBC seperti berikut ini.

  • Kalori dari karbohidrat dan lemak tak jenuh.
  • Protein dari sumber hewani dan nabati.
  • Vitamin, termasuk vitamin C, vitamin D, dan vitamin A.
  • Mineral, termasuk zat besi, zinc, dan selenium.

Pastikan setiap porsi menu makanan telah memenuhi asupan zat gizi tersebut. Idealnya, pola makan penderita TBC memenuhi tiga porsi makan utama dan tiga kali makanan selingan (snack) setiap harinya.

Cara menambah nafsu makan pada penderita TBC

Apabila sedang sakit TBC sehingga sangat tidak nafsu makan, Anda dapat mengikuti beberapa tips meningkatkan nafsu makan seperti berikut ini.

  • Pergi jalan sebentar di sekitar rumah sebelum mulai makan, sebab udara segar membantu membangun nafsu makan Anda.
  • Buatlah jadwal makan dengan waktu antarjam makan utama tidak terlalu dekat, misal sarapan pukul 9 pagi dan makan siang pukul 1–2 siang.
  • Pilih makanan yang dianjurkan untuk pengidap TBC sesuai dengan selera Anda.
  • Hindari makanan yang digoreng dan berminyak karena bisa menyebabkan rasa nyeri saat menelannya.
  • Makan secara perlahan dan jangan memaksa makan dalam porsi besar sekaligus, tetapi cobalah makan dengan porsi kecil dan lebih sering.
  • Coba minum air rebusan atau teh jahe untuk mengatasi rasa mual, nyeri, atau gangguan pencernaan lainnya yang Anda alami.

Segera konsultasikan dengan dokter bila Anda mengalami efek samping obat TBC, seperti mual makin parah. Dokter biasanya akan mengurangi atau mengganti dengan jenis obat yang lain.

Selain mengikuti aturan minum obat dan penyesuaian gizi, Anda juga disarankan untuk cukup istirahat dan melakukan olahraga aman untuk penderita TBC secara teratur.

Pada akhirnya, pengobatan dan asupan gizi yang baik dapat membantu orang dengan TBC untuk memiliki berat badan ideal secara bertahap dan beraktivitas normal kembali.

Apabila Anda memiliki pertanyaan mengenai cara merawat pengidap TBC, silakan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Tuberculosis (TB). Centers for Disease Control and Prevention. (2016). Retrieved 3 August 2022, from https://www.cdc.gov/tb/topic/basics/default.htm

TB in Children. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Retrieved 3 August 2022, from https://www.cdc.gov/tb/topic/populations/tbinchildren/default.htm

Nutrition & TB – Malnutrition, undernutrition, assessment. TBFacts. (2022). Retrieved 3 August 2022, from https://tbfacts.org/nutrition-tb/

Food & TB – best food for a person with TB. TBFacts. (2022). Retrieved 3 August 2022, from https://tbfacts.org/food-tb/

Tuberkulosis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Retrieved 3 August 2022, from https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-tuberkulosis-2018.pdf

Amankah Buah Hati Anda dari Tuberkulosis?. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Retrieved 3 August 2022, from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/amankah-buah-hati-anda-dari-tuberkulosis

Chiang, S. S., Park, S., White, E. I., Friedman, J. F., Cruz, A. T., Del Castillo, H., Lecca, L., Becerra, M. C., & Seddon, J. A. (2020). Using Changes in Weight-for-Age z Score to Predict Effectiveness of Childhood Tuberculosis Therapy. Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society, 9(2), 150–158. https://doi.org/10.1093/jpids/piy138

Pooransingh, S., & Sakhamuri, S. (2020). Need for BCG Vaccination to Prevent TB in High-Incidence Countries and Populations. Emerging Infectious Diseases, 26(3). https://doi.org/10.3201/eid2603.191232

Phan, M., Guy, E., Nickson, R., & Kao, C. (2016). Predictors and patterns of weight gain during treatment for tuberculosis in the United States of America. International Journal Of Infectious Diseases, 53, 1-5. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2016.09.006

Gler, M., Cegielski, P., Guilatco, R., Johnson, J., Caoili, J., & Ershova, J. (2013). Weight Gain and Response to Treatment for Multidrug-Resistant Tuberculosis. The American Journal Of Tropical Medicine And Hygiene, 89(5), 943-949. https://doi.org/10.4269/ajtmh.13-0011

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Aug 25
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.