home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Aspirasi Paru, Saat Benda Asing Menyebabkan Peradangan Paru

Aspirasi Paru, Saat Benda Asing Menyebabkan Peradangan Paru

Aspirasi paru adalah kondisi masuknya benda asing ke dalam saluran pernapasan akibat tertelan atau terhirup. Kondisi ini menyebabkan beberapa gangguan pernapasan, seperti batuk dan kesulitan bernapas serta peradangan di paru-paru. Sekilas kondisi aspirasi mirip dengan tersedak, tapi ternyata keduanya berbeda. Lantas, apakah aspirasi paru lebih berbahaya?

Apa yang menyebabkan aspirasi paru?

Aspirasi paru umumnya terjadi pada orang dewasa, bayi, dan orang-orang yang mengalami kesulitan menelan atau mengendalikan lidah.

Orang yang terkena stroke adalah salah satu orang yang berisiko kena kondisi ini.

Benda asing yang masuk ke saluran napas dan menyebabkan aspirasi paru bisa berupa makanan, air liru, cairan, asam lambung, gas beracun, dan polutan.

Pada kasus tenggelam, air juga bisa masuk ke paru-paru dan menyebabkan aspirasi. Begitu pun dengan orang yang sering batuk akibat asam lambung.

Asam lambung kerap masuk ke dalam paru-paru, terutama ketika tidur.

Perbedaan aspirasi dengan tersedak terletak pada udara yang bergerak di saluran napas. Kondisi aspirasi tidak menyebabkan saluran udara tertutup sepenuhnya layaknya ketika Anda tersedak makanan.

Saat mengalami aspirasi udara tetap bisa keluar-masuk paru-paru meskipun terhambat.

Dilansir dari U.S National Library of Medicine, kondisi aspirasi selanjutnya dapat menyebabkan peradangan di paru-paru.

Terutama ketika makanan, minuman, dan air liur yang semestinya masuk ke dalam saluran pencernaan malah masuk ke dalam paru-paru.

Bakteri yang terkandung di dalamnya kemudian dapat menyebabkan infeksi di paru-paru, seperti pneumonia aspirasi.

Jika dibiarkan kerusakan jaringan di paru-paru akibat infeksi bisa menyebabkan abses paru atau terbentuknya nanah.

Gangguan yang disebabkan aspirasi paru

Kondisi ini bisa menyebabkan Anda batuk menerus. Batuk terjadi karena paru-paru berusaha mengeluarkan benda asing yang masuk ke saluran udara yang menghambat proses pernapasan.

Batuk bisa berlangsung kronis apabila benda asing tersebut tidak juga dikeluarkan dari paru-paru.

Selain batuk, orang yang mengalami aspirasi juga dapat mengalami sejumlah gejala seperti:

  • mengi,
  • napas pendek,
  • nyeri pada dada,
  • batuk disertai dahak berwarna kehijauan bahkan batuk berdarah,
  • kelelahan,
  • demam,
  • berkeringat, dan
  • kesulitan bernapas.

Siapa yang paling berisiko mengalami aspirasi?

perubahan emosional dan perilaku setelah stroke

Setiap orang umumnya berisiko mengalami kondisi ini.

Namun, ada orang-orang yang lebih rentan mengalami kondisi ini karena kondisi fisik dan keterbatasan yang dimiliki.

Beberapa orang yang lebih berisiko mengalami aspirasi paru antara lain sebagai berikut.

  • Pasien stroke umumnya mengalami kesulitan dalam menelan atau mengunyah makanan dengan baik karena kerusakan pada sarafnya.
  • Orang yang mengalami cedera kepala dan sedang mulai belajar untuk makan lagi.
  • Bayi yang baru lahir umumnya juga berisiko mengalami kondisi ini. Hal ini disebabkan oleh gerakan usus bayi yang belum sempurna sehingga berisiko mengalami aspirasi.

Orang dengan masalah kesehatan yang berkaitan dengan kesulitan menelan juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami aspirasi paru.

Beberapa kondisi kesehatan tersebut antara lain berikut.

  • sering pingsan,
  • mempunyai penyakit paru-paru,
  • mengalami masalah gigi,
  • mengalami demensia,
  • mengalami gangguan mental,
  • memiliki penyakit neurologis tertentu,
  • sedang melakukan terapi radiasi ke kepala dan leher, serta
  • memiliki gangguan asam lambung kronis seperti GERD.

Selain itu, anak-anak juga berisiko lebih tinggi mengalami aspirasi paru, apabila memiliki kondisi seperti berikut.

  • Mengalami pertumbuhan lambat akibat kelahiran prematur.
  • Memiliki sindrom Down.
  • Mengalami cerebral palsy atau penyakit neuromuskular, seperti atrofi otot tulang belakang.

Bagaimana dokter mendiagnosis kondisi ini?

rontgen saat hamil

Sebelum mengobati kondisi ini, dokter akan menanyakan apakah Anda mengalami gejala aspirasi, terutama setelah makan.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa beberapa keluhan yang diduga sebagai gejala aspirasi paru atau mencari tanda-tanda pneumonia atau edema paru.

Dokter juga mungkin akan memeriksa kondisi lain yang berkaitan dengan kemampuan menelan atau kondisi yang mendasarinya seperti GERD.

Jika dokter menemukan adanya kemungkinan aspirasi yang berkembang menjadi komplikasi lain, ia akan meminta Anda untuk melakukan beberapa tes untuk melihat kemungkinan adanya makanan atau cairan di paru-paru Anda.

Beberapa tes tersebut meliputi:

  • rontgen thorax,
  • kultur sputum,
  • bronkoskopi, dan
  • computed Tomography (CT) scan area dada.

Untuk mendapatkan diagnosis yang lebih pasti, dokter biasanya akan meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan khusus seperti esophagography barium.

Ketika melakukan tes tersebut, dokter akan meminta Anda untuk meminum cairan barium untuk melihat kondisi esofagus.

Saat Anda menelan cairan ini, akan terlihat gambar atau benda yang diduga ada di paru-paru yang dilihat melalui sinar X.

Pengobatan aspirasi paru

Perawatan yang diberikan untuk kondisi ini berbeda-beda, bergantung pada penyebab aspirasi paru. Jika aspirasi paru disebabkan oleh peradangan infeksi bakteri, diperlukan pengobatan antibiotik.

Akan tetapi, pengobatan aspirasi paru utamanya bertujuan mengeluarkan cairan ataupun penyumbatan yang menyebabkan peradangan di paru-paru.

Dokter biasanya akan melakukan prosedur untuk menarik subtansi, benda asing, atau cairan melalui alat isap seperti melalui selang plastik atau metode arthocentesis.

Cara pengobatan seperti ini dilakukan apabila disebabkan oleh:

  • Infeksi menyebabkan terbentuknya nanah atau abses paru.
  • Kesulitan menelan akibat penyakit tertentu, aspirasi bisa menyebabkan penumpukan cairan di rongga antara dinding paru dan paru-paru seperti efusi pleura.
  • Peradangan atau pembengkakan akibat penumpukan cairan yang dihasilkan selama infeksi atau peradangan awal.
  • Kondisi kesehatan tertentu yang mengharuskan penderitanya menggunakan selang trakeostomi yang berfungsi membersihkan saluran pernapasan secara menerus.

Bagaimana cara mencegah kondisi ini?

Mencegah kondisi masuknya benda asing ke saluran pernapasan yang mengakibatkan aspirasi paru dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini.

  • Istirahat dulu sebelum memulai makanan Anda, jangan terburu-buru ketika makan.
  • Makan makanan yang sudah dipotong kecil-kecil.
  • Pastikan makanan sudah tertelan sepenuhnya sebelum minum air.
  • Duduk tegak 90 derajat saat makan.
  • Pilih jenis makanan yang lebih mudah dikunyah dan ditelan.
  • Berlatih teknik mengunyah dan menelan yang benar agar tidak gampang tersedak.
  • Kunjungi dokter gigi Anda secara teratur, untuk mengetahui masalah gigi yang bisa memicu kondisi aspirasi.
  • Hindari menggunakan obat penenang atau obat yang membuat kondisi mulut kering sebelum makan (menurunkan produksi air liur).

Anak-anak yang mengalami aspirasi paru memiliki peningkatan risiko untuk dehidrasi, kekurangan gizi, penurunan berat badan, dan penyakit lainnya.

Untungnya, Anda masih dapat meminimalkan risiko anak Anda terkena kondisi ini dengan cara berikut.

  • Pastikan mereka duduk dalam posisi yang benar saat waktu makan.
  • Mengencerkan makanan atau minuman yang kental saat anak sedang kesulitan untuk menelan.
  • Melatih anak-anak Anda untuk mengunyah dan menelan makanan dengan benar.
  • Memasak dan mengolah makanan untuk bayi ke dalam bentuk yang lebih mudah ditelan.
  • Hindari memberikan botol berisi susu/ASI kepada bayi yang sedang berbaring. Pastikan bagian tubuh atas selalu berada di permukaan lebih tinggi.

Dalam kasus aspirasi parah dan berisiko tinggi, anak Anda mungkin memerlukan selang makanan untuk memastikan mereka mendapatkan cukup nutrisi sampai kondisi mereka membaik.

Bicarakan dengan dokter jika Anda berpikir anak Anda memiliki masalah dengan aspirasi. Penting untuk periksa ke dokter guna meyakinkan bahwa kondisi ini belum menyebabkan komplikasi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2020). Aspiration. Retrieved 30 June 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/002216.htm

MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2020). Pneumonia Aspiration. Aspiration pneumonia:  Retrieved 30 June 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/000121.htm

Bierens JJ, Lunetta P, Tipton M, Warner DS. (2016). Physiology of drowning: a review. Physiology (Bethesda), 31(2):147-66. https://doi.org/10.1152/physiol.00002.2015

Natarajan CK, Sankar MJ, Jain K, Agarwal R, Paul VK. (2016). Surfactant therapy and antibiotics in neonates with meconium aspiration syndrome: a systematic review and meta-analysis. J Perinatol, 36 Suppl 1(Suppl 1):S49–S54. https://doi.org/10.1038/jp.2016.32

Son YG, Shin J, Ryu HG. (2017). Pneumonitis and pneumonia after aspiration. J Dent Anesth Pain Med, 17(1):1–12. https://doi.org/10.17245/jdapm.2017.17.1.1

Hollaar V, van der Maarel-Wierink C, van der Putten GJ, van der Sanden W, de Swart B, de Baat C. (2017). Defining characteristics and risk indicators for diagnosing nursing home-acquired pneumonia and aspiration pneumonia in nursing home residents, using the electronically-modified Delphi Method. BMC Geriatr, 16:60. https://doi.org/10.1186/s12877-016-0231-4

Mitra S, Dey P. (2016). Fine-needle aspiration and core biopsy in the diagnosis of breast lesions: A comparison and review of the literature. Cytojournal, 13:18. https://doi.org/10.4103/1742-6413.189637

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui 06/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri