home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenalan dengan Spilanthol, Bahan Skincare yang Ampuh Cegah Kerutan

Kenalan dengan Spilanthol, Bahan Skincare yang Ampuh Cegah Kerutan

Dunia skincare tampaknya memang tak pernah sepi dari inovasi-inovasi terbaru. Kini, salah satu bahan aktif yang cukup digandrungi adalah spilanthol.

Tidak hanya membuat kulit jadi glowing, zat yang berasal dari tumbuhan ini kabarnya ampuh melawan tanda-tanda penuaan. Bagaimana cara kerjanya?

Apa itu spilanthol?

tanaman spilanthol

Spilanthol adalah asam lemak yang terkandung dalam tumbuhan Acmella oleracea atau dikenal juga sebagai paracress.

Sejak dulu, bagian daun dan bunga tumbuhan ini telah menjadi obat tradisional untuk mengatasi banyak penyakit.

Pada pengobatan tradisional, spilanthol menjadi bahan untuk mengatasi sakit gigi, sakit kepala, radang sendi, dan penyembuhan luka.

Manfaat tersebut berasal dari sifat antioksidan, antiradang, antimikroba, dan antinyeri yang terkandung di dalamnya.

Tidak hanya itu, berbagai zat bioaktif dalam ekstrak Acmella oleracea juga berpotensi mengatasi sejumlah masalah kulit.

Bahan aktif ini diyakini mampu melindungi kulit dari peradangan, tanda-tanda penuaan, hingga kerusakan.

Manfaat spilanthol dalam perawatan kulit

kulit kusam

Berikut berbagai potensi manfaat spilanthol untuk kesehatan kulit.

1. Mengurangi peradangan

Spilanthol memiliki sifat antiradang sehingga bisa mengurangi bengkak dan kemerahan pada wajah.

Menurut penelitian dalam International Journal of Molecular Sciences, sifat antiradang yang kuat ini dapat mengurangi peradangan terkait alergi.

Hal ini tentu berguna bagi penderita eksim dengan kulit yang sering gatal, kering, dan pecah-pecah.

Penggunaan produk skincare untuk eksim yang mengandung senyawa ini bahkan bisa membantu kinerja obat eksim.

2. Membantu penyerapan produk skincare lainnya

Terkadang, hasil skincare tidak terlihat karena kulit terlalu kering atau bahan-bahan aktifnya tidak terserap secara optimal ke dalam lapisan kulit.

Anda bisa mengatasi hal tersebut dengan menggunakan serum berbahan spilanthol dengan konsentrasi ringan.

Menurut Ana Mansouri, dokter spesialis kulit dan kecantikan di Kat & Co. Aesthetics, spilanthol dapat membantu penyerapan zat-zat aktif.

Asam lemak ini dapat meningkatkan penyerapan krim mata, pelembap, dan masih banyak lagi.

3. Mengatasi kulit kusam

Spilanthol merupakan zat antioksidan, seperti halnya vitamin C, vitamin E, retinol, dan niacinamide.

Penelitian menunjukkan bahwa sifat antioksidan ini dapat melindungi kulit dari polusi yang kerap menyebabkan kulit kusam.

Tidak hanya itu, antioksidan dalam produk skincare juga membantu melindungi kulit dari sinar ultraviolet dan radikal bebas.

Jadi, kulit akan senantiasa sehat, lembap, dan terlindungi dari kerusakan.

4. Mengurangi tanda-tanda penuaan

Sebuah penelitian di Brasil menemukan bahwa spilanthol berpotensi mengurangi gerakan otot-otot wajah yang menjadi penyebab kerutan dan garis halus di wajah.

Uniknya, ini merupakan cara kerja yang sama seperti suntik botoks. Tidak heran bila senyawa ini memiliki julukan sebagai botoks organik.

Memang belum banyak penelitian yang mendukung khasiat spilanthol sebagai botoks alami, tapi perannya dalam menyehatkan kulit tetaplah besar.

Cara menggunakannya pada kulit

serum spilanthol

Ada beragam jenis produk skincare yang mengandung spilanthol, tapi Anda akan lebih sering menjumpai bahan aktif ini dalam serum.

Serum memiliki konsentrasi bahan aktif yang lebih tinggi sehingga efek perawatannya pada kulit cenderung lebih terasa.

Anda bisa menggunakan serum setelah mencuci muka dan melembapkannya dengan toner.

Oleskan secara merata kecuali pada bagian bawah mata dan kelopak. Anda sebaiknya menggunakan krim mata yang lebih ringan untuk bagian bawah mata.

Seperti halnya suntik botoks, serum spilanthol juga dapat menimbulkan sensasi mati rasa pada kulit setelah Anda mengoleskannya.

Senyawa ini bekerja dengan membuat otot-otot wajah “lumpuh” sementara.

Dengan mengurangi aktivitas otot wajah, kerutan dan garis-garis halus akan memudar sedikit demi sedikit.

Kulit tidak lagi tampak kusam dan teksturnya menjadi lebih rata dari sebelumnya.

Efek samping yang mungkin muncul

kulit sensitif

Dokter Mansouri menyatakan bahwa sejauh ini, belum ada laporan mengenai efek samping serius dari penggunaan spilanthol.

Meski demikian, orang-orang yang berkulit sensitif sebaiknya tidak langsung menggunakan bahan aktif ini.

Lakukanlah tes kulit sederhana sebelum Anda memutuskan membeli serum. Teteskan sedikit serum ke atas punggung tangan, lalu tunggulah reaksi yang muncul.

Jika tidak ada rasa gatal, ruam, atau reaksi lainnya, produk ini kemungkinan aman untuk Anda.

Anda juga harus mencermati bahan aktif lainnya yang terkandung dalam serum.

Produk ini terkadang juga mengandung asam glikolat, asam laktat, atau retinol yang berpotensi menyebabkan iritasi.

Selalu gunakan serum spilanthol sesuai anjuran dan amati kondisi kulit Anda selama menggunakan produk perawatan kulit.

Bila Anda mengalami iritasi kulit, hentikan penggunaan produk dan segeralah berkonsultasi kepada dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Spilanthol. (2016). Retrieved 15 November 2021, from https://edu.rsc.org/magnificent-molecules/spilanthol/2000033.article

Huang, W., Huang, C., Hu, S., Peng, H., & Wu, S. (2019). Topical Spilanthol Inhibits MAPK Signaling and Ameliorates Allergic Inflammation in DNCB-Induced Atopic Dermatitis in Mice. International Journal Of Molecular Sciences, 20(10), 2490. doi: 10.3390/ijms20102490

Bakondi, E., Singh, S., Hajnády, Z., Nagy-Pénzes, M., Regdon, Z., & Kovács, K. et al. (2019). Spilanthol Inhibits Inflammatory Transcription Factors and iNOS Expression in Macrophages and Exerts Anti-inflammatory Effects in Dermatitis and Pancreatitis. International Journal Of Molecular Sciences, 20(17), 4308. doi: 10.3390/ijms20174308

Barbosa, A., de Carvalho, M., Smith, R., & Sabaa-Srur, A. (2016). Spilanthol: occurrence, extraction, chemistry and biological activities. Revista Brasileira De Farmacognosia, 26(1), 128-133. doi: 10.1016/j.bjp.2015.07.024

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro