home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

10 Masalah Kulit yang Mungkin Timbul Akibat Penyakit Radang Usus (IBD)

10 Masalah Kulit yang Mungkin Timbul Akibat Penyakit Radang Usus (IBD)

Penyakit radang usus yang dikenal dengan Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah sekelompok gangguan sistem pencernaan yang menyebabkan peradangan pada sistem pencernaan. Dua jenis yang paling umum dari penyakit radang usus adalah ulcerative colitis dan penyakit Crohn. Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa penyakit radang usus bisa menyebabkan masalah kulit, padahal usus dan kulit adalah dua organ tubuh yang sama sekali tak berhubungan. Tapi jangan salah. Menurut Mayo Clinic, ruam kulit dapat muncul pada sekitar 40% orang yang memiliki kolitis sebagai salah satu gejala sampingannya.

Masalah kulit yang bisa muncul akibat penyakit radang usus (IBD)

Beberapa ruam yang muncul di kulit pada orang yang punya kolitis timbul sebagai respon dari peradangan. Namun, ruam kulit juga bisa muncul sebagai efek samping obat yang dikonsumsi. Apa saja masalah kulit yang mungkin muncul akibat penyakit radang usus?

1. Eritema nodosum

Eritema nodosum merupakan masalah kulit yang paling sering terjadi akibat kolitis. Eritema nodosum adalah benjolan mirip memar yang berwarna kemerahan dan terasa nyeri saat ditekan, biasanya muncul pada lengan atau kaki. Eritema nodosum menyerang 3-10% orang yang punya kolitis, meski lebih seringnya menyerang wanita dibanding pria. Ketika kolitis Anda sudah tertangani, eritema nodosum akan hilang.

2. Pioderma gangrenosum

Pioderma gangrenosum merupakan masalah kulit tersering kedua setelah eritema nodosum. Menurut suatu penelitian, sekitar 2% orang dengan kolitis mengalami pioderma gangrenosum.

Pioderma gangrenosum muncul dalam bentuk lenting-lenting kecil yang menyebar dan kemudian bersatu menjadi ulkus (luka terbuka dalam pada permukaan kulit), yang dapat menimbulkan bekas luka. Masalah kulit ini biasa muncul di bawah lutut dan pergelangan kaki, tapi dapat juga muncul pada lengan. Pioderma gangrenosum dapat terasa sangat nyeri dan menginfeksi apabila Anda tidak rajin membersihkannya.

Pioderma gangrenosum diketahui disebabkan oleh penyakit sistem imun, yang berperan dalam perkembangan kolitis. Pengobatan masalah kulit ini umumnya menggunakan obat kortikosteroid dosis tinggi dan obat-obatan yang menekan sistem imun Anda.

3. Sweet’s syndrome

Sweet’s syndrome merupakan suatu penyakit kulit yang jarang terjadi, ditandai dengan lesi kulit berupa benjolan kecil berwarna merah atau ungu, dan terasa nyeri ketika ditekan. Sweet’s syndrome biasa ditemukan di wajah, leher, atau lengan atas. Pengobatan sweet’s syndrome biasanya dengan kortikosteroid pil atau suntik. Lesi dapat hilang dengan sendirinya, namun gejala kambuhan juga sering terjadi dan menimbulkan bekas luka.

4. Bowel-Associated Dermatosis-Arthritis Syndrome (BADAS)

BADAS biasa terjadi pada pasien dengan faktor risiko operasi pada usus, divertikulitis, penyakit radang usus buntu, dan IBD. BADAS muncul berupa benjolan bernanah mirip jerawat kecil yang terasa dan terjadi selama 1-2 hari. Lesi ini biasa muncul pada dada dan lengan. Lesi yang muncul juga terkadang mirip luka memar jika terjadi pada kaki, serupa dengan eritema nodosum.

5. Psoriasis

Psoriasis merupakan suatu penyakit imun, yang berhubungan dengan kolitis. Psoriasis muncul dalam rupa ruam berwarna putih atau perak yang agak timbul, dan muncul bercak kemerahan pada kulit. Pengobatan yang dilakukan adalah dengan keim kortikosteroid atau retinoid.

6. Vitiligo

Vitiligo adalah penyakit autoimun yang biasa terjadi pada orang dengan kolitis. Gejala awal vitiligo adalah timbulnya bercak putih susu pada kulit yang kadang terasa gatal. Bercak kulit ini terjadi karena sel-sel yang membentuk melanin berhenti fungsi atau mati, sehingga kulit berhenti memproduksi warnanya. Vitiligo dapat mulai terjadi pada bagian tubuh manapun, dan bisa makin melebar.

Pengobatan untuk menangani vitiligo adalah dengan kortikosteroid tipikal atau kombinasi dengan pil dan dapat juga dengan pengobatan ringan seperti Psoralen and Ultra Violet A (PUVA).

7. Pyodermaitis-pystomatitis vegetans

Pyodermaitis-pystomatitis vegetans merupakan ruam dengan bintil kemerahan yang dapat pecah dan menimbulkan bekas luka pada kulit dalam bentuk plakat. Penyakit kulit ini biasa muncul pada lipatan kulit seperti ketiak atau area selangkangan.

8. Leukocytoclastic vasculitis

Leukocytoclastic vasculitis merupakan penyakit kulit yang dikenal juga dengan istilah vaksulitis hipersensitif. Peradangan akibat IBD dapat menyebabkan pembuluh darah kecil pecah sehingga darah mengumpul di bawah lapisan kulit Anda. Hal ini menyebabkan munculnya bintik-bintik memar berwarna ungu yang disebut purpura. Bintik ini dapat berukuran kecil hingga besar dan biasa ditemukan pada pergelangan kaki atau kaki.

9. Jerawat batu (jerawat kistik)

Pada beberapa orang, penyakit radang usus kolitis dapat menyebabkan jerawat batu yang berbentuk benjolan merah dan bernanah. Sebagian besar jerawat batu ini menimbulkan rasa sakit ketika tersentuh Jerawat batu dapat diobati dengan retionol atau benzoyl peroxide topikal.

10. Biduran

Biduran muncul berupa kemerahan yang gatal pada kulit dan menyerang sebagian tubuh Anda. Kolitis berhubungan dengan biduran kronis. Biduran yang terjadi dapat juga diakibatkan efek samping obat kolitis. Jika Anda mengonsumsi obat dan mulai muncul biduran di sekujur tubuh, segera konsultasikan pada dokter mengenai alternatif pengobatan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Abraham, C., and Medzhitov, R. (2011). Interactions between the host innate immune system and microbes in inflammatory bowel disease. Gastroenterology 140, 1729–1737.
  2. Vavricka SR, Brun L, Ballabeni P, et al. Frequency and risk factors for extraintestinal manifestations in the Swiss inflammatory bowel disease cohort. Am J Gastroenterol 2011; 106:110.
  3. Orchard TR, Chua CN, Ahmad T, et al. Uveitis and erythema nodosum in inflammatory bowel disease: clinical features and the role of HLA genes. Gastroenterology 2002; 123:714.
  4. Bernstein CN, Blanchard JF, Rawsthorne P, Yu N. The prevalence of extraintestinal diseases in inflammatory bowel disease: a population-based study. Am J Gastroenterol 2001; 96:1116.
Foto Penulis
Ditulis oleh dr. Marsha Desica Arsanta Diperbarui 15/11/2019
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x