backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

Ganti Kulit pada Manusia, Apakah Ini Normal?

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati · Tanggal diperbarui 10/10/2023

Ganti Kulit pada Manusia, Apakah Ini Normal?

Fenomena ganti kulit umum dialami oleh reptil seperti ular. Proses ini penting bagi kesehatan dan pertumbuhan ular. Namun, apakah fenomena ini bisa dialami oleh manusia dan apa penyebabnya?

Apakah manusia bisa ganti kulit?

Untuk manusia, istilah medis dari ganti kulit ialah regenerasi kulit. Regenerasi kulit merujuk pada proses penggantian jaringan yang rusak dengan jaringan baru.

Pada tingkat sel, sel-sel kulit terus menerus terkelupas dan menggantinya dengan sel kulit baru. 

Struktur kulit manusia terdiri dari 3 lapisan, yaitu epidermis (lapisan terluar), dermis (lapisan tengah), dan hipodermis (lapisan dalam). Sel yang baru dibuat akan memenuhi lapisan hipodermis atau lapisan kulit terdalam terlebih dulu.

Kemudian sel yang lebih tua akan naik ke lapisan dermis, dan seterusnya. Itulah sebabnya lapisan terluar kulit atau epidermis mengandung sel-sel kulit mati.

Siklus pergantian kulit ini akan terus terjadi selama hidup manusia. Penelitian dalam jurnal Organogenesis memperkirakan bahwa epidermis rata-rata berganti setiap 40 – 56 hari. 

Ini berarti bahwa sel kulit selalu mengalami siklus pergantian kulit, termasuk saat mengalami luka atau kerusakan. Inilah sebabnya, luka dapat hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Apa saja penyebab ganti kulit?

Salah satu fenomena yang menyerupai ciri-ciri ganti kulit yaitu kulit mengelupas. Kulit yang mengelupas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi medis, lingkungan, perawatan kulit yang kurang tepat, atau perubahan alami pada kulit.

Selain itu, penyebab kulit mengelupas yang mirip manusia ganti kulit lainnya meliputi hal-hal berikut ini.

1. Dehidrasi

kulit jari mengelupas

Dehidrasi membuat kulit mengelupas atau ganti kulit karena kurangnya kelembaban atau air dalam tubuh berdampak langsung pada kesehatan kulit. 

Kondisi ini juga dapat mempengaruhi produksi minyak atau sebum yang diproduksi oleh tubuh untuk menjaga kelembaban kulit. Ini membuat kulit lebih kering dan cenderung mengelupas.

2. Kulit terbakar matahari

Terbakar matahari (sunburn) dapat menyebabkan kulit mengelupas karena merupakan respons alami tubuh terhadap kerusakan sel yang disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari.

Paparan sinar UVB dan UVA dari matahari dapat merusak sel-sel kulit, terutama yang terletak di lapisan epidermis (lapisan terluar kulit).

3. Perubahan cuaca ekstrem

Perubahan cuaca ekstrem, seperti perubahan drastis dari cuaca panas ke cuaca dingin atau sebaliknya, dapat menyebabkan kulit mengelupas hingga ganti kulit. Pasalnya, kulit harus beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan. 

Cuaca ekstrem ini secara tiba-tiba ini dapat mengganggu pembuluh darah di kulit Anda. Ini dapat menyebabkan perubahan sirkulasi darah dan membuat kulit lebih rentan terhadap pengelupasan.

4. Penyakit kulit

Beberapa penyakit kulit, seperti eksim, psoriasis, dermatitis seboroik, kutap, xerosis, dan rosacea, memiliki gejala yang sama yaitu kulit mengelupas.

Penyakit kulit ini dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan gejalanya. Penanganan dilakukan berdasarkan penyebabnya.

Konsultasikan dengan dokter jika pengelupasan kulit yang Anda alami tak kunjung mereda atau gejalanya bertambah parah.

5. Usia

Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen dalam kulit cenderung berkurang. Kolagen adalah protein yang memberikan kekuatan dan kekenyalan pada kulit.

Penurunan produksi kolagen dapat menyebabkan kulit menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis.

Selain itu, perubahan hormonal yang terkait dengan penuaan, seperti menopause dapat memengaruhi kondisi kulit, salah satunya kulit kering hingga mengelupas atau ganti kulit.

6. Infeksi jamur dan bakteri

Ganti kulit yang Anda alami bisa jadi disebabkan karena infeksi jamur dan bakteri pada kulit. 

Beberapa jenis jamur dan bakteri yaitu Candida albicans, Dermatophytes, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pyogenes memiliki gejala yang hampir sama yaitu pengelupasan kulit. 

Penting untuk diingat bahwa gejala dan tanda infeksi kulit dapat bervariasi tergantung pada jenis jamur atau bakteri yang terlibat dan lokasi infeksinya.

7. Sindrom Kawasaki

Sindrom Kawasaki adalah penyakit yang terutama memengaruhi anak-anak dan dapat menyebabkan peradangan pada pembuluh darah di seluruh tubuh. 

Peradangan ini dapat mempengaruhi sirkulasi darah dan memberikan dampak negatif pada kulit.

Pembuluh darah yang meradang dapat memengaruhi nutrisi dan oksigen yang diterima oleh kulit, sehingga menyebabkan ruam dan pengelupasan kulit

Selain itu, kondisi ganti kulit juga bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti efek samping pengobatan, hiperhidrosis, iritasi, dan Stevens – Johnson Syndrome.

Apabila Anda mengalami ganti kulit atau pengelupasan kulit yang terus menerus terjadi dan tidak kunjung sembuh, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Dengan begitu, Anda dapat mengetahui penyebab dan cara perawatan yang tepat.

Ringkasan

Istilah ganti kulit pada manusia disebut dengan regenerasi kulit. Proses ini secara alami terjadi pada tubuh, tetapi bisa juga karena kondisi tertentu. Kondisi yang mirip dengan ganti kulit adalah kulit mengelupas karena dehidrasi, infeksi jamur, cuaca ekstrem, penyakit kulit, ataupun usia. 

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati · Tanggal diperbarui 10/10/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan