7 Efek Samping Antasida yang Berbahaya Jika Dikonsumsi Secara Berlebihan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Antasida dikenal sebagai obat yang dapat mengobati gejala maag. Tak hanya itu, Robert Glatter, MD, asisten profesor pengobatan darurat di Northwell Health, Amerika menyatakan antasida dapat membantu mengobati penyakit refluks gastroefagus (GERD), gastritis, dan penyakit ulkus peptik (PUD). Namun sama seperti obat-obatan lainnya, efek samping antasida akan muncul jika dikonsumsi secara berlebih.

Antasida dan kandungan di dalamnya

Antasida bekerja dengan mengubah pH lambung. Kandungan di dalamnya mengandung bahan kimia alkali yang akan menetralisir asam. Beberapa antasida juga mengandung senyawa antikembung yang dapat membuat obat ini berfungsi untuk menghilangkan pembentukan gas berlebih. Secara garis besar obat ini digunakan untuk dapat mengurangi rasa mulas dan gangguan pencernaan yang membuat perut seseorang menjadi tidak nyaman.

Berikut berbagai kandungan pada antasida yang bermanfaat untuk mengatasi berbagai masalah di perut, yaitu:

  • Karbonat aluminium, dapat digunakan untuk mengobati dan mengelola hiperpospatemia (kadar fosfat dalam darah yang di atas normal) karena dapat mengikat fosfat di usus dan mencegahnya diserap ke dalam tubuh. Karena kemampuannya untuk mengikat fosfat inilah antasida aluminium karbonat juga bisa digunakan dalam diet rendah fosfat untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, karena batu ginjal terdiri dari berbagai senyawa termasuk fosfat.
  • Kalsium karbonat ,digunakan saat seseorang berada dalam kondisi kekurangan kalsium seperti osteoporosis pascamenopause karena sebagian kalsium diserap ke dalam tubuh.
  • Magnesium oksida, digunakan untuk mengatasi defisiensi magnesium dari makanan atau obat yang menyebabkan penipisan magnesium.

Antasida yang populer di pasaran meliputi:

  • Alka-Seltzer
  • Maalox
  • Mylanta
  • Rolaids
  • Tums

Berbagai efek samping antasida

Antasida aman digunakan dalam dosis dan jangka waktu tertentu. Namun tetap akan menimbulkan efek negatif jika dikonsumsi berlebihan. Berikut adalah tujuh efek samping negatif yang menandakan konsumsi antasida secara berlebihan, yaitu:

1. Gangguan pada jaringan otot

Otot berkedut, terasa lemah, dan nyeri otot merupakan efek samping antasida paling umum akibat terlalu sering dikonsumsi. Hal ini disebabkan adanya kelebihan kalsium, magnesium, dan fosfor dalam aliran darah. Secara sederhana, setiap perubahan tingkat kadar elektrolit dan mineral dapat berdampak negatif pada fungsi otot dan saraf.

Jadi menggunakan antasida dalam dosis tinggi atau terlalu sering bisa mengubah keseimbangan dan menimbulkan gangguan otot yang bikin Anda tak nyaman. Tingkat keparahan gejala biasanya dipengaruhi oleh dosis antasida dan lama penggunaannya.

2. Hiperkalsemia

Antasida mengandung kalsium karbonat. Oleh karena itu, jika penggunaannya terlalu banyak dapat menyebabkan tubuh kelebihan kalsium (hiperkalsemia).

Kondisi ini dapat menyebabkan gagal ginjal dan pengendapan kalsium di seluruh organ tubuh, terutama ginjal. Akumulasi kalsium di ginjal, saluran pencernaan, dan paru-paru terutama di pembuluh darah dapat merusak fungsi organ tubuh karena aliran darah yang buruk dan bahkan menyebabkan kegagalan organ.

obat cacing untuk obat kanker usus dan kanker prostata

3. Menyebabkan infeksi

Asam lambung sebenarnya berperan untuk menghancurkan bakteri yang terkandung di dalam makanan sehingga jika zat ini dinetralkan secara berlebihan oleh antasida, bakteri lambung akan menumpuk dan akhirnya infeksi.

Bakteri yang bertahan di dalam lambung juga bisa menimbulkan berbagai masalah pencernaan seperti, gastroenteritis dan diare. Tak hanya itu, kondisi ini bisa menyebabkan Anda berisiko terkena penyakit pernapasan bagian atas, karena bakteri mungkin saja naik ke saluran pernapasan

4. Gangguan pernapasan

Penggunaan antasida yang berlebih juga bisa menyebabkan pernapasan Anda menjadi lebih lambat. Efek negatif ini bisa terjadi karena antasida yang mengandung kalsium karbonat yang dapat meningkatkan pH di alirah darah Anda.

Ketika pH tubuh meningkat, maka Anda akan mengalami gangguan saluran pernapasan. Selanjutnya, oksigen yang diterima tubuh akan berkurang akibat tidak dapat bernapas dengan normal dan kondisi ini bisa mengganggu aktivitas Anda.

5. Osteoporosis

Salah satu efek samping dari penggunaan antasida yang berlebihan adalah meningkatnya risiko osteoporosis. Antasida mengandung alumunium yang dapat menghilangkan jumlah kalsium dan fosfat dari tubuh.

Kalsium dan fosfat adalah mineral yang berperan penting dalam membuat tulang jadi padat. Kalau jumlahnya menurun, maka akan sangat mungkin Anda mengalami osteoporosis atau gangguan kesehatan tulang lainnya.

6. Sembelit (Konstipasi)

Sembelit adalah salah satu gejala yang paling umum dari penggunaan antasida yang berlebihan. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh jenis antasida yang mengandung kalsium atau alumunium. Biasanya sembelit akan terus berlanjut selama antasida dikonsumsi. Antasida juga dapat menyebabkan diare, terutama antasida yang mengandung magnesium.

7. Batu ginjal

Antasida membuat tubuh membuang cadangan kalsiumnya melalui urin. Namun hal ini justru membuat kalsium yang dikeluarkan melalui urin tertumpuk di ginjal. Penumpukan ini yang kemudian membuat Anda terkena batu ginjal.

Maka itu, orang dengan penyakit ginjal juga harus menghindari penggunaan antasida karena dapat mengganggu fungsi ginjal yang dapat meningkatkan racun di aliran darah.

Jadi, meskipun obat ini aman jika digunakan sesuai dosis dan anjuran yang berlaku, efek samping antasida tidak bisa diabaikan. Oleh karenanya penting untuk mengikuti saran dan anjuran dokter ketika mengunakan obat ini agar terhindar dari efek samping yang dapat terjadi.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

12 Keluhan yang Paling Sering Dialami Oleh Ibu Hamil

Dari mulai morning sickness hingga keputihan, simak masalah lainnya yang paling sering dialami oleh ibu hamil muda di sini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 1 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

Jenis Susu yang Cocok untuk Penderita Maag dan Asam Lambung

Ada yang bilang susu menyembuhkan penyakit asam lambung. Simak jenis susu apa saja yang cocok untuk penderita asam lambung dan maag.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Pencernaan, Gastritis dan Maag 29 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Penyakit Celiac

Penyakit celiac (celiac disease) adalah penyakit yang menyerang sistem pencernaan. Pelajari lebih dalam seputar penyakit ini berikut.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 27 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

5 Perbedaan Mual Hamil dan Maag yang Perlu Diperhatikan

Sekilas, mual tanda hamil dan maag memiliki gejala yang hampir serupa. Lantas, apa sih sebenarnya perbedaan mual hamil dan maag?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesuburan, Kehamilan 27 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat sakit maag tablet efektif

Obat Maag Tablet, Apakah Lebih Efektif Ketimbang yang Cair?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 8 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
obat BAB berdarah

Pilihan Obat dan Perawatan BAB Berdarah Berdasarkan Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 7 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
obat maag ppi

Mengenal Obat Maag PPI, Apa Manfaat dan Efek Sampingnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Sarmoko, Apt.
Dipublikasikan tanggal: 7 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
infeksi bakteri helicobacter pylori

Infeksi Bakteri Helicobacter pylori

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 3 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit