Gejala dan Bahaya Alkalosis, Saat Kadar Basa di Dalam Tubuh Terlalu Tinggi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Darah manusia memiliki kadar asam dan basa yang seimbang. Dalam keadaan normal, keasaman darah pada umumnya berkisar pada pH netral dengan rentang 7.35 sampai 7.45. Meskipun demikian, kenaikan nilai pH sedikit saja dapat membuat darah cenderung lebih basa. Hal ini akan mengganggu keseimbangan mineral potassium dalam tubuh dan kalsium darah darah. Kondisi yang berkaitan dengan peningkatan kadar basa tersebut dikenal dengan istilah alkalosis.

Apa itu alkalosis?

Alkalosis adalah kondisi di mana cairan tubuh atau darah memiliki kadar basa berlebih. Hal ini merupakan kebalikan dari peningkatan asam tubuh berlebih, yang disebut asidosis. Terjadinya alkalosis dapat dipicu oleh hilangnya ion hidrogen (H+), berkurangnya senyawa bersifat asam seperti karbon dioksida (CO2), atau meningkatnya serum bikarbonat (HCO3) yang bersifat basa. Perubahan kimia pada tubuh tersebut dapat terjadi karena respon organ penjaga keseimbangan asam dan basa seperti paru-paru dan ginjal.

Jenis alkalosis berdasarkan penyebabnya

Terdapat lima jenis alkalosis, di antaranya:

Alkalosis respiratori – terjadi ketika karbon dioksida dalam darah terlalu sedikit yang disebabkan kondisi kesehatan seperti hiperventilasi, mengalami demam, kekurangan oksigen, keracunan salisilat, berada pada dataran tinggi serta mengalami penyakit paru dan liver.

Alkalosis metabolik – dipicu oleh proses pengeluaran asam yang terlalu banyak, diikuti dengan peningkatan kadar basa. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang terlalu banyak muntah, mengonsumsi obat diuretik, mengalami gangguan kelenjar adrenal, penggunaan obat antasida, mengonsumsi basa berlebih seperti bikarbonat dari baking soda, serta efek samping dari konsumsi alkohol dan obat pencahar berlebih.

Alkalosis hipokloremik – terjadi ketika tubuh kehilangan cairan akibat muntah-muntah ataupun berkeringat terlalu banyak. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap keseimbangan cairan dalam sistem pencernaan.

Alkalosis hipokalemik – disebabkan oleh defisiensi mineral kalium di dalam tubuh. Hal tersebut dapat disebabkan oleh pola makan, penyakit ginjal, dan pengeluaran cairan berlebih dari keringat dan diare. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan jantung, otot, sistem pencernaan dan sistem saraf.

Tanda dan gejala jika tubuh mengalami alkalosis

Gejala yang timbul dapat bervariasi. Dalam jangka pendek, kadar basa yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gejala seperti mual, kram dan nyeri otot, tangan mengalami tremor, serta mati rasa pada bagian tubuh tertentu seperti di sekitar wajah, tangan dan kaki.

Jika tidak diatasi atau dibiarkan bertambah parah, maka dapat menyebabkan rasa pusing, detak jantung tidak beraturan (aritmia), kesulitan bernapas, merasa kebingungan, kesulitan memproses informasi (stupor), bahkan koma.

Alkalosis juga dapat dikenali dengan pemeriksaan kadar pH dari urin dan darah. Pengujian pH urin dapat dilakukan dengan analisis urin, sedangkan pemeriksaan pH darah dapat dilakukan dengan analisis gas darah arteri. Jika pH darah sudah melebihi nilai 7,45 maka sudah dapat dikategorikan mengalami alkalosis.

Bagaimana cara mengatasi alkalosis?

Sebagian besar gejala alkalosis akan langsung membaik setelah menerima pengobatan bergantung penyebabnya. Alkalosis respiratorik dapat diatasi dengan cara memperbaiki kadar oksigen tubuh dengan cara mengatur napas atau menggunakan alat bantu pernapasan. Jika alkalosis terjadi karena defisiensi kalium, maka penggunaan obat atau suplemen dapat mengatasinya.

Kecukupan asupan air juga dapat mengatasi alkalosis, terutama dengan mengonsumsi minuman isotonik yang mengandung elekrolit. Namun, jika ketidakseimbangan elektrolit terjadi sangat parah akibat dehidrasi atau terlalu banyak muntah, maka perlu dilakukan perawatan di rumah sakit.

Bagaimana cara mencegah alkalosis?

Sebagian besar jenis alkalosis dapat dicegah dengan menerapkan pola makan dengan cukup kalium dan mencegah dehidrasi. Asupan kaya kalium diperlukan untuk mencegah defisiensi elektrolit, jenis nutrisi ini dapat ditemukan pada sumber makanan buah dan sayuran seperti wortel, susu, pisang, kacang-kacangan dan sayuran hijau.

Selain itu cegah alkalosis dengan memperoleh jumlah cairan yang cukup. Kondisi dehidrasi dapat dicegah dengan menerapkan beberapa hal berikut:

  • minum 8 hingga 10 gelas air per hari atau sekitar 1,5 – 2 liter per hari
  • konsumsi air saat sebelum, sesaat dan setelah berolahraga
  • konsumsi minuman berelektrolit jika banyak mengeluarkan keringat
  • hindari minuman manis saat sedang haus
  • kurangi asupan kafein berlebih dari minuman bersoda, teh atau kopi
  • segera konsumsi air minum jika sudah mengalami haus.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Cara Mengobati Muntaber agar Tidak Bertambah Parah

Muntaber menimbulkan gejala yang mengganggu aktivits. Yuk, intip cara mengatasi gejala dan mengobati muntaber berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Muntaber 21 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

3 Penyebab Muntaber yang Perlu Anda Ketahui

Muntaber yang tidak ditangani bisa menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak. Apa saja penyebab muntaber yang harus diketahui?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Muntaber 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Mual Sampai Ingin Muntah Saat Cemas dan Panik? Ini Cara Mengatasinya

Saat cemas, stres, panik, dan gugup muncul, perut bisa terasa mual dan membuat Anda sangat ingin muntah. Kenapa hal ini terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 12 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Keracunan Makanan

Keracunan makanan adalah gangguan pencernaan umum. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta cara mengobati dan mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Keracunan Makanan 6 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat vertigo

Berbagai Pilihan Obat Vertigo: Mana yang Paling Efektif?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
berbagai kondisi penyebab muntah

Berbagai Kondisi yang Dapat Menjadi Penyebab Muntah

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 11 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
ilustrasi masalah dan penyakit diare atau mencret

Diare

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 3 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
anoreksia nervosa

Anoreksia Nervosa

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 1 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit