Apa Itu Koledokolitiasis? Kenali Penyebab dan Pengobatannya

    Apa Itu Koledokolitiasis? Kenali Penyebab dan Pengobatannya

    Batu empedu merupakan masalah yang sudah tidak asing. Namun, ada pula kondisi yang bernama batu saluran empedu atau koledokolitiasis.

    Meski mirip, ternyata keduanya memiliki perbedaan. Lantas, apa yang dimaksud dengan koledokolitiasis? Kenali lebih lanjut berikut ini.

    Apa itu koledokolitiasis?

    batu saluran empedu

    Koledokolitiasis adalah adanya batu yang menyumbat pada saluran empedu. Hal ini menyebabkan cairan empedu tidak dapat mengalir dengan lancar dan kembali ke hati.

    Menurut penjelasan dalam buku Choledocholithiasis, sebanyak 1-15% penderita batu empedu juga mengalami koledokolitiasis.

    Artinya, beberapa orang yang memiliki batu pada kantung empedu juga mempunyai batu di saluran empedu.

    Tanda dan gejala koledokolitiasis

    komplikasi batu empedu

    Sayangnya, batu saluran empedu seringkali tidak menimbulkan gejala berarti selama beberapa bulan atau bertahun-tahun.

    Akan tetapi, jika batu sudah menghalangi aliran pada saluran empedu, gejala yang akan muncul, di antaranya:

    Biasanya, rasa sakit pada perut muncul cukup lama dan intens, yakni sekitar 30 menit. Penyumbatan saluran empedu ini memicu pertumbuhan bakteri.

    Jadi, tubuh pun rentan mengalami kolangitis atau infeksi saluran empedu.

    Penyebab koledokolitiasis

    kolesterol

    Koledokolitiasis terjadi saat batu menghalangi aliran cairan empedu di saluran empedu.

    Batu empedu terbentuk akibat adanya ketidakseimbangan komposisi zat penyusun cairan empedu. Hal ini membuat cairan mengeras dan membentuk menjadi batu.

    Batu saluran empedu ini tersusun atas pigmen empedu atau bilirubin, garam kalsium, dan kolesterol.

    Berdasarkan bahan penyusunnya, ada tiga jenis batu yang bisa menyumbat saluran empedu.

    • Batu kolesterol: paling umum muncul dan mengandung lebih dari 80% kolesterol.
    • Endapan campuran: batu tersusun atas 30-80% kolesterol, serta mengandung garam kalsium dan asam empedu.
    • Batu pigmen: terdiri dari pigmen atau bilirubin dan kolesterol kurang dari 30 persen.

    Batu saluran empedu kolesterol muncul akibat terlalu banyak kolesterol pada tubuh, menumpuknya pigmen bilirubin, dan kekurangan garam empedu.

    Faktor risiko batu saluran empedu

    Hingga saat ini, peneliti belum mengetahui pasti penyebab batu saluran empedu pigmen. Namun, kondisi ini lebih sering muncul pada kondisi berikut.

    • Penyakit sirosis hati yang menyebabkan jaringan parut.
    • Infeksi saluran empedu.
    • Kelainan darah genetik, seperti anemia sel sabit.

    Beberapa faktor risiko pembentukan batu empedu yang memicu koledokolitiasis adalah:

    • berat badan turun drastis,
    • obesitas,
    • konsumsi makanan tinggi kalori,
    • perempuan,
    • riwayat koledokolitiasis di keluarga,
    • diabetes, dan
    • pengobatan dengan kandungan estrogen, seperti pil KB atau terapi hormon.

    Diagnosis batu saluran empedu

    diagnosis koledokolitiasis

    Jika Anda memiliki gejala koledokolitiasis, dokter akan mengecek batu pada saluran empedu Anda.

    Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan yang kerap dokter lakukan.

    1. Skrining radiologi

    Tes ini berguna untuk menemukan batu yang ada pada saluran empedu.

    • USG transabdominal: mengecek ukuran saluran empedu yang melebar, keberadaan batu, dan lokasi batu empedu.
    • Endoscopic retrograde cholangiography (ERCP): mengenali batu dan penyempitan saluran empedu, menggunakan tabung dengan kamera yang masuk melalui mulut.
    • Magnetic resonance cholangiopancreatography (MRCP): seperti prosedur MRI yang berguna untuk melihat kondisi empedu dan pankreas lebih detail dengan gelombang radio.
    • Percutaneous transhepatic cholangiogram (PTCA): penggunaan sinar X pada saluran empedu.

    2. Tes darah

    Dokter juga memerlukan tes darah agar mampu menegakkan diagnosis koledokolitiasis yang lebih akurat. Tes darah ini berguna untuk mengetahui:

    • kadar bilirubin,
    • enzim pada pankreas,
    • fungsi liver, dan
    • kondisi sel darah merah, putih, dan trombosit.

    The American Society for Gastrointestinal Endoscopy juga menggunakan acuan prediksi (prediktor) untuk mendiagnosis keparahan penderita koledokolitiasis.

    Prediktor sangat kuat:

    • kadar bilirubin >4 mg/dL,
    • tampak adanya batu setelah USG, dan
    • adanya infeksi saluran empedu akut.

    Prediktor kuat:

    • kadar bilirubin 1,8-4 mg/dL dan
    • saluran empedu melebar

    Prediktor sedang:

    • usia di atas 55 tahun,
    • radang pankreas dengan batu empedu, dan
    • hasil tes biokimia hati abnormal selain bilirubin.

    Pasien koledokolitiasis yang berisiko tinggi setidaknya memiliki satu prediktor sangat kuat dan/atau dua prediktor kuat.

    Sementara, penderita yang berisiko sedang mengalami satu prediktor kuat dan/atau setidaknya satu prediktor sedang.

    Pengobatan koledokolitiasis

    pengobatan koledokolitiasis

    Untuk mengatasi batu saluran empedu, dokter melakukan pembedahan pembuangan batu atau menjalani dua tindakan sekaligus, yaitu ERCP dan sfingterotomi.

    Dokter melakukan prosedur ERCP dengan cara memasukkan selang atau tabung dengan kamera di bagian ujungnya. Ini berguna untuk melihat kondisi saluran empedu pada liver dan pankreas.

    Setelah itu, dokter akan membuat sayatan untuk memperlebar lubang saluran empedu.

    Ini berguna untuk melancarkan sumbatan atau menghilangkan batu dari saluran empedu. Batu biasanya akan meluncur ke usus dan lewat dengan cepat.

    Bila penderita juga mengalami infeksi saluran empedu, dokter biasanya juga memberikan obat antibiotik.

    Pencegahan batu saluran empedu

    olahraga vitalitas pria

    Ternyata, pembentukan batu pada saluran empedu bisa Anda hindari. Cara yang paling sederhana adalah dengan:

    • Olahraga 30 menit setiap hari: aktivitas fisik mencegah obesitas, yang menjadi faktor risiko koledokolitiasis.
    • Menghindari makanan tinggi kolesterol: kolesterol adalah salah satu komponen batu pada saluran empedu sehingga Anda harus mengurangi asupannya.
    • Makan teratur: membantu pengosongan kantung empedu secara rutin.
    • Mengonsumsi makanan kaya kalsium, serat, dan vitamin C: berguna untuk menghambat pembentukan batu yang tersusun atas kolesterol.

    Koledokolitiasis penyumbatan saluran empedu akibat munculnya batu. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang rentan mengalami kondisi ini.

    Jadi, bila Anda mengalami gejala batu saluran empedu, segera konsultasikan kepada dokter untuk penanganan lebih lanjut.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    McNicoll, C. F., Pastorino, A., Farooq, U., & St Hill, C. R. (2021). Choledocholithiasis. StatPearls [Internet].

    Baiu, I., & Hawn, M. (2018). Choledocholithiasis. JAMA, 320(14), 1506. doi: 10.1001/jama.2018.11812

    Choledocholithiasis: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2021). Retrieved 24 November 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/000274.htm

    Choledocholithiasis and Cholangitis – Hepatic and Biliary Disorders – MSD Manual Professional Edition. (2021). Retrieved 24 November 2021, from https://www.msdmanuals.com/professional/hepatic-and-biliary-disorders/gallbladder-and-bile-duct-disorders/choledocholithiasis-and-cholangitis

    Choledocholithiasis: What is it, causes … – osmosis. (n.d.). Retrieved November 24, 2021, from https://www.osmosis.org/answers/choledocholithiasis.

    Gallstones | Cedars-Sinai. (2021). Retrieved 24 November 2021, from https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/g/gallstones.html

    De Silva, S., Pathirana, A., Wijerathne, T., Gamage, B., Dassanayake, B., & De Silva, M. (2019). Transabdominal Ultrasonography in Symptomatic Choledocholithiasis – Usefulness in Settings with Limited Resources. Journal Of Clinical Imaging Science, 9, 31. doi: 10.25259/jcis-38-2019

    ERCP: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2021). Retrieved 24 November 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/007479.htm

    Buxbaum, J., Abbas Fehmi, S., Sultan, S., Fishman, D., Qumseya, B., & Cortessis, V. et al. (2019). ASGE guideline on the role of endoscopy in the evaluation and management of choledocholithiasis. Gastrointestinal Endoscopy, 89(6), 1075-1105.e15. doi: 10.1016/j.gie.2018.10.001

    ERCP. (2021). Retrieved 24 November 2021, from https://muschealth.org/medical-services/ddc/patients/gi-procedures/ercp

    Choledocholithiasis and Cholangitis – Hepatic and Biliary Disorders – MSD Manual Professional Edition. (2021). Retrieved 24 November 2021, from https://www.msdmanuals.com/professional/hepatic-and-biliary-disorders/gallbladder-and-bile-duct-disorders/choledocholithiasis-and-cholangitis

    Lammert, F., Acalovschi, M., Ercolani, G., van Erpecum, K. J., Gurusamy, K., van Laarhoven, C. J., & Portincasa, P. (2016). EASL Clinical Practice Guidelines on the prevention, diagnosis and treatment of gallstones.

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Dec 02, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro