5 Tips Membesarkan Anak Menjadi Seorang yang Optimis

Oleh Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Memiliki pandangan hidup yang optimis tidak cuma berguna untuk mendongkrak kepercayaan diri. Optimisme bisa membuat seseorang lebih siap menghadapi asam-garam kehidupan dan masa depan yang penuh tantangan. Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang yang optimis akan jauh dari rasa frustasi, tidak mudah sakit, mampu membangun hubungan harmonis, dan lebih panjang umur. Itu sebabnya penting bagi setiap orangtua untuk membesarkan anak optimis.

Penelitian melaporkan bahwa anak yang optimis lebih “kebal” terhadap perkembangan depresi dan berbagai gangguan perilaku di usia dewasanya, seperti sikap antisosial dan penyalahgunaan narkobaLantas, bagaimana caranya agar si kecil bisa tumbuh menjadi anak optimis? Anda bisa lakukan beberapa cara yang ada di artikel ini.

Bagaimana caranya membesarkan si kecil jadi anak optimis?

Optimisme adalah karakter yang bisa dibentuk sejak kecil. Pasalnya, anak belajar segala sesuatu dari mencontoh tingkah laku orangtuanya. Karena itu, cara paling baik dan efektif untuk menumbuhkan sikap optimis pada anak adalah dengan memberikan contoh perbuatan yang nyata.

Berikut beberapa tips untuk agar si kecil bisa tumbuh menjadi anak optimis:

1. Dengarkanlah anak Anda

Sikap optimis dan percaya diri anak bisa dilatih dengan membiarkannya mengutarakan apa yang ia rasakan dan ingin ungkapkan. Anda sebagai orangtua harus mendengar tanpa menghakimi. Pasalnya, anak-anak memiliki perasaan yang kuat, tetapi tak memiliki kata-kata untuk mengekspresikannya.

Cerita yang ia utarakan pun merupakan bagian dari pembelajaran proses berpikir mereka. Mereka bisa saja bilang, “Aku benci Matematika!” padahal apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan adalah “Bagaimana caranya biar aku bisa pintar belajar Matematika dengan lebih baik?” Tugas para orangtualah untuk mencari tahu apa yang ingin mereka ungkapkan.

Jika anak Anda merasa kesal terhadap suatu hal, ia pasti akan melihat hal itu sebagai hal yang negatif. Tanyakan padanya kenapa ia merasa kesal. Anda dan si kecil bisa mencari solusi dengan berdiskusi bersama. Intinya adalah fokus pada pemecahan masalahnya, jangan pada kesulitan yang sedang dirasakan saat ini. Anak pun akan belajar menumbuhkan sikap optimis dan mencari jalan keluar dari orangtuanya.

2. Hindari memberikan “label” atau “cap” pada anak

Sadar atau tidak, anak-anak akan berusaha memenuhi atau melawan segala harapan orangtuanya. Jadi, setiap kali Anda mengatakan, “Anak kedua saya adalah anak saya yang paling pemalu,” dan itu didengar oleh si kecil, maka hal itu akan menjadi identitas permanen dalam dirinya.

Pelabelan negatif pada anak bisa membahayakan konsep diri anak, dan membuat orangtua menghadapi hal yang tak ia sukai dalam diri anak terus menerus. Anda harus ingat bahwa setiap orang terlahir berbeda termasuk si kecil, ia sudah pasti berbeda dengan adik atau kakaknya.

Jadi, jangan berikan “label” pada si kecil dengan sebutan anak malas, pemalu, pemarah, atau apapun itu. Hal ini mungkin hanya akan membuatnya tumbuh sesuai dengan label yang Anda berikan. Jika hal ini terjadi, ia tumbuh menjadi anak yang cenderung pesimis bukan menjadi anak optimis.

3. Coba ubah hal yang negatif menjadi positif

Setiap anak akan memiliki ketakutan yang berbeda. Anda tidak dianjurkan menyalahkan ketakutan tersebut dengan, “Begitu saja, kok, takut?” dan ungkapan lainnya yang semakin membuat anak Anda rendah diri.

Sebaliknya, Anda bisa membantu anak melawan rasa takut dengan, “Kamu pasti bisa mengerjakan ulangan hari ini. Semalam, kan, sudah belajar sama Ibu.” Atau, “Ayah yakin kamu bisa, jadi kamu juga harus yakin,”. Hal ini bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri dan sikap optimis anak Anda.

Tanyakan lebih lanjut apa yang mengganggunya dan membuatnya tidak nyaman pergi ke sekolah, dan carilah hal-hal yang ia sukai di sekolah. Fokuskan pada hal itu dan bantu ia menghadapi masalah yang membuatnya enggan pergi ke sekolah. Buat ia jadi anak optimis dengan membantu menyelesaikan masalah-masalahnya. Cari tahu pula apakah ini karena orang yang mengganggunya (bullying) di sekolah.

4. Biarkan anak mencari jalan keluar

Sebagai orangtua, wajar jika selalu ingin membantu anak menyelesaikan masalah. Namun sebaiknya, Anda perlu melibatkan anak Anda dalam memecahkan masalah.

Hal ini bisa membantu meningkatkan kemampuan anak Anda dalam memecahkan masalah, sehingga bisa lebih percaya diri dan optimis dalam menghadapi masalah atau tantangan selanjutnya.

5. Berikan tanggung jawab pada anak Anda

Anda bisa mencoba untuk memberikan anak Anda tanggung jawab, seperti meminta mereka untuk membereskan kamar tidurnya. Hal ini akan membuat anak Anda merasa memiliki tanggung jawab.

Namun, jika mereka gagal atau melakukan kesalahan, Anda tidak boleh membentak atau memarahinya. Berikan mereka petunjuk cara melakukannya dengan benar, dan berikan penghargaan atas usaha yang telah mereka lakukan.

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We are excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca