Kapan Anak Perlu Mengikuti Terapi Kejiwaan dan Perilaku?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Menilai kesehatan si kecil tidak hanya dari kondisi fisiknya, tetapi juga dari perasaan, pemikiran, dan tindakan yang mereka lakukan. Ini erat hubungannya dengan kesehatan mental dan perilaku anak. Jika anak memiliki masalah dengan hal tersebut ia perlu mengikuti terapi. Namun, kapan terapi mental dan perilaku untuk anak harus dilakukan?

Terapi mental dan perilaku untuk anak, kapan diperlukan?

Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga merasakan perubahan emosi. Mulai dari sedih takut, sedih, senang, cemas, dan khawatir.

Seorang psikolog anak dari Cleveland Clinic, Kristen Eastman, PsyD, mengatakan, “Kegelisahan, kesedihan, dan kesulitan sosial akan semakin membesar seiring dengan pertumbuhan anak.”

Hal tersebut normal terjadi dan menjadi tantangan bagi anak. Dari emosi tersebut, anak harus belajar untuk mengubah pandangan, mempelajari keterampilan baru, dan memikirkan bagaimana cara menghadapi masalah.

Sayangnya, tidak semua anak berhasil melalui hal tersebut dengan baik. Terkadang mereka membutuhkan bantuan dan dukungan Anda untuk keluar dari masalah tersebut. Jika tetap saja kesulitan, mungkin terapi perilaku dan mental-lah yang diperlukan anak Anda.

Ada beberapa hal yang menjadi tanda bahwa terapi kejiwaan dan perilaku untuk anak sangat diperlukan, di antaranya:

  • Sulit mengendalikan perasaan sedih, putus asa, atau marah dengan mudah. Sering merasa cemas dan takut berlebihan di berbagai situasi.
  • Mengalami penurunan nilai di sekolah dan kehilangan minat pada aktivitas yang dulunya disukai anak.
  • Pola makan berubah dan kesulitan untuk tidur
  • Lebih suka menyendiri, dibanding bersama bermain dengan keluarga atau teman.
  • Kesulitan untuk memusatkan pikiran dan terlihat tidak tenang.
  • Melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, seperti memukul, menggigit, atau bahkan melukai binatang.
  • Sulit mengekspresikan perasaan, sering mimpi buruk, atau cenderung melakukan kegiatan secara berulang, seperti mencuci tangan berkali-kali.

Apa yang dilakukan anak ketika mengikuti terapi?

apraksia adalah anak susah bicara

Sebelum menjalani terapi, dokter, psikolog, atau terapis akan mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Para ajli itu akan mengadakan sesi tanya jawab seputar perubahan emosi dan perilaku anak yang mengkhawatirkan.

Jika penyebabnya sudah diketahui, dokter akan merekomendasikan terapi kejiwaan serta perilaku yang cocok untuk anak. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak dalam terapi tersebut, meliputi:

1. Berbicara

Kegiatan ini dilakukan untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya. Pembicaraan dilakukan layaknya mengobrol santai. Pada sesi ini terapis akan mendengarkan berbagai keluhan, curahan perasaan, atau pikiran yang mengganggu anak.

2. Bermain

Anak-anak sangat menyukai permainan sehingga sangat cocok untuk memperbaiki suasana hati anak. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan menyusun balok, menggambar, mewarnai, story telling, atau memainkan alat musik.

Permainan yang dilakukan saat anak menjalani terapi mental dan perilaku bisa melatih anak untuk mengalihkan pikiran diri dari rasa cemas, meningkatkan kepercayaan diri, mengasah rasa empati, dan mengekspresikan diri.

Anak Anda mungkin akan menjalani sesi permainan khusus yang dirancang oleh terapis untuk menghadapi ketakutan anak pada sesuatu. Terapi yang erat kaitannya dengan permainan biasanya dikenal dengan terapi bermain (play therapy).

3. Berlatih mengendalikan emosi

Anak-anak dengan masalah kejiwaan, biasanya sangat mudah panik, cemas, dan stres. Untuk mengatasi hal tersebut, terapis akan mengajari anak keterampilan baru, yaitu terapi inhalasi dan visualisasi.

Terapi ini dilakukan dengan mengatur napas lebih teratur sambil membayangkan sesuatu yang hal yang indah atau disukai anak. Perasaan tenang akan didapatkan anak sehingga panik, cemas, dan stres yang mereka rasakan akan berkurang.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca