Ketahui Penyebab Anak Pendiam dan Cara Menghadapinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 26/04/2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Anak yang pendiam sering dianggap dapat mengalami kesulitan untuk berkomunikasi, termasuk dengan orangtua. Padahal dalam proses tumbuh kembang anak, orangtua diharapkan mendampingi anak, termasuk berdiskusi banyak hal. Anak yang pendiam dapat membuat orangtua sulit memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan anak. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa anak menjadi pendiam. Kemudian, cari tahu bagaimana menghadapinya dalam penjelasan berikut ini.

Berbagai penyebab yang membuat anak menjadi pendiam

Umumnya pada anak dengan karakter yang pendiam, ia masih akan banyak berbicara di depan orang yang dekat dengannya. Namun, bagaimana dengan anak yang awalnya banyak bicara, lalu tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan tidak bicara jika tidak ditanya? Sebenarnya, ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab anak yang tiba-tiba berubah pendiam.

1. Perceraian dan pertengkaran orangtua

Mungkin banyak orangtua yang tidak sadar bahwa masalah yang dimiliki dengan pasangan dalam pernikahan bisa berdampak buruk pada anak. Salah satunya adalah perilaku anak yang awalnya ceria, kini menjadi pendiam.

Diam bisa berarti banyak hal, mulai dari mengekspresikan rasa sedih, marah, dan lain sebagainya. Aksi diam ini adalah salah satu cara bagi anak untuk mengontrol situasi di mana ia tidak memiliki hak bicara sama sekali.

Bahkan, saat anak mendadak jadi pendiam, bisa saja disebabkan karena anak ikut merasakan stres dan tekanan dari masalah yang timbul dalam keluarga. Anda dan pasangan mungkin merasa bahwa perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk masing-masing pihak.

Namun, anak Anda belum tentu memahami perceraian, sehingga perpisahan Anda menjadi hal yang sangat menyakitkan baginya. Oleh karenanya, anak mungkin memilih tidak banyak bicara bahkan ‘mogok’ bicara karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

2. Saudara baru

Jika anak sulung Anda mendadak menjadi pendiam, salah satu alasannya bisa jadi karena ia baru memiliki adik atau saudara baru. Ya, anak Anda tentu merasa senang dengan kehadiran sang adik, tapi hal ini juga timbul bersamaan dengan rasa khawatir yang dimilikinya.

Sebagai contoh, anak mungkin cemburu pada adik baru karena takut kehilangan perhatian orangtua, apalagi Anda dan pasangan mungkin juga sedang sibuk-sibuknya merawat sang adik. Bagi seorang anak yang selama ini menjadi satu-satunya, harus berbagi perhatian bukanlah hal yang mudah.

Bukan berarti tidak mungkin anak Anda akan beradaptasi dengan situasi. Akan tetapi, mungkin di awal anak Anda masih berjuang keras, hingga mendadak jadi anak pendiam sebagai cara pertahanan diri terhadap kondisi yang baru.

3. Perundungan atau bullying 

Masalah anak yang dihadapinya di sekolah tidak jarang menjadi penyebab anak tiba-tiba tidak banyak bicara. Bahkan, sekalipun Anda dan anak memiliki hubungan yang sangat dekat.  Hal ini termasuk perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan teman sekolah, salah satunya bullying. 

Perundungan atau yang biasa disebut dengan bullying yang terjadi di sekolah bisa terjadi dalam berbagai bentuk, fisik maupun psikologis. Pada anak-anak tertentu, cara menghadapi kondisi ini adalah berdiam diri. Oleh karena itu, anak yang biasanya banyak bicara, bisa saja mendadak jadi pendiam saat mengalami perlakuan ini di sekolah.

Cara untuk orangtua menghadapi anak pendiam

Anda mungkin merasa khawatir, bingung, atau bahkan merasa gagal menjadi orangtua saat tidak tahu cara yang baik menghadapi anak yang pendiam. Cobalah untuk tetap tenang, karena ada banyak cara yang bisa Anda praktikkan dalam menghadapi anak yang pendiam.

1. Terima anak apa adanya

Dilansir dari Psychology Today, salah satu cara untuk menghadapi anak pendiam adalah menerima keadaan anak apa adanya. Anda tidak bisa memaksakan anak untuk memiliki karakter sesuai dengan kehendak Anda. Justru, sebenarnya anak yang pendiam memiliki banyak kelebihan yang mungkin tidak Anda sadari.

Sebagai contoh, anak pendiam cenderung lebih kuat, bisa mengontrol diri, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan, anak yang tidak banyak bicara biasanya lebih peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

2. Jangan simpulkan perasaan anak berdasarkan pengalaman

Jangan mudah menyimpulkan perasaan yang dirasakan anak. Anda belum tentu tahu perasaannya meski mungkin Anda pernah mengalami hal serupa. Dugaan Anda terhadap kondisi yang dialami anak mungkin saja benar, tapi bisa jadi salah.

Lebih baik, ajak anak untuk lebih banyak berkomunikasi hingga ia nyaman untuk menceritakan perasaan yang dimilikinya. Anda boleh saja menceritakan pengalaman pribadi yang serupa dengan yang sedang dihadapinya, tapi jangan pernah menganggap Anda tahu apa yang dirasakan, lalu menyepelekannya.

3. Luangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah anak

Sisihkan waktu Anda untuk benar-benar mendengarkan anak. Tidak hanya mendengarkan keluh kesahnya melalui tutur kata. Akan tetapi, coba pahami gerak tubuh, sikap, dan kebiasaannya untuk lebih memahami pikiran anak yang pendiam.

4. Hindari memojokkan anak

Memojokkan anak yang pendiam dengan cara membanding-bandingkannya dengan orang lain bukan cara yang tepat untuk menghadapinya. Justru, anak akan merasa tertekan jika Anda memaksanya untuk menjadi orang lain.

Sebagai contoh, hindari mengucapkan kata-kata, “Bagaimana kamu bisa punya teman kalau kamu diam di kamar terus?” atau, “Main sana, di luar, seperti kakakmu!” Daripada fokus kepada kekurangan anak yang tidak banyak bicara, cobalah untuk lebih fokus dengan kelebihan yang dimilikinya.

5. Jangan memberi label anak pendiam

Anda yang sudah dewasa saja belum tentu senang jika diberi label oleh orang lain. Begitu pula dengan anak Anda, tentu ia juga tidak senang jika diberi label oleh kedua orangtuanya. Maka itu, hindari memberikan label kepada anak Anda.

Jangan mengatakan bahwa anak Anda pendiam karena ia malu. Lebih baik katakan bahwa anak Anda membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan orang baru dan itu bukan sebuah masalah.

Sementara itu, jika orang lain yang memberi label pada anak Anda, katakan bahwa orang tersebut masih belum kenal akrab dengan anak Anda, oleh sebab itu anak menjadi sedikit bicara di hadapannya.

Membantu anak pendiam untuk lebih terbuka

Setelah Anda berhasil menghadapi anak Anda di rumah, kini adalah waktunya Anda membantu anak agar bisa beradaptasi dan bersosialiasi dengan ‘dunia luar’. Hal ini penting karena Anda tidak selamanya berada di samping anak. Maka itu, Anda perlu mengajarkan anak untuk bisa lebih terbuka.

1. Latih anak pendiam untuk bersosialisasi

Agar anak tahu bagaimana caranya beradaptasi dan berhadapan dengan orang baru, Anda mungkin ingin membantu anak bersosialisasi. Anda bisa melakukan hal tersebut dengan cara memperkenalkan anak Anda terhadap berbagai situasi sosial.

Mulailah dari situasi sosial dengan lingkup yang kecil terlebih dahulu. Sebagai contoh, lakukan play date atau bermain dengan satu teman baru. Namun, jangan memaksakan anak untuk berinteraksi dalam situasi sosial tersebut jika ia belum siap. Pasalnya, hal tersebut justru bisa memicu rasa cemas dan anak semakin enggan melakukannya.

2. Rencanakan dengan matang

Jika Anda ingin benar-benar membantu anak Anda untuk bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya, rencanakan dengan matang. Apabila anak Anda mendapatkan undangan ulang tahun dari temannya, beri tahu anak Anda bahwa datang dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada temannya adalah hal yang baik.

Anda bisa membantu anak untuk latihan berdialog dengan temannya tersebut, misalnya dengan Anda berpura-pura menjadi temannya. Hal ini bisa membantu anak agar lebih natural saat nanti melakukan dialog yang sesungguhnya dengan teman.

3. Beri anak pujian

Saat anak berhasil melakukan sebuah interaksi dengan teman yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, tidak ada salahnya memberinya pujian. Ucapkan bahwa anak Anda hebat karena telah berani melawan rasa takutnya. Namun, pastikan bahwa Anda memuji anak dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Anak Usia 11 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Pada usia 11 tahun, anak akan mengalami tahapan perkembangan baru yang meliputi fisik, kognitif, psikologi, dan bahasa. Apa saja yang dialami anak saat itu?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 30/04/2020 . Waktu baca 10 menit

Perkembangan Anak Usia 9 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Perkembangan anak usia 9 tahun mencakup perkembangan fisik, kognitif, emosional, sosial, dan bahasa. Apa saja yang dialami anak pada usia ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Anak, Parenting 26/04/2020 . Waktu baca 9 menit

Perkembangan Anak Usia 8 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Perkembangan yang dialami anak usia 8 tahun termasuk perkembangan fisik, kognitif, psikologi, dan bahasa. Baca informasi lengkapnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Anak, Parenting 22/04/2020 . Waktu baca 8 menit

Perkembangan Anak Usia 7 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Pada usia 7 tahun, anak mengalami berbagai tahapan perkembangan, mulai dari perkembangan fisik, kognitif, psikologi, dan bahasa. Apa saja yang dialami anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Anak, Parenting 21/04/2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menjelaskan rasisme kepada anak

Tips Menjelaskan Rasisme kepada Anak Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 12/06/2020 . Waktu baca 5 menit
agar anak mau mendengarkan orang tua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020 . Waktu baca 4 menit
perkembangan anak usia 12 tahun

Perkembangan Anak Usia 12 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020 . Waktu baca 8 menit
mainan anak laki-laki / permainan anak laki-laki

Rekomendasi Pilihan Mainan Anak Laki-laki dan Manfaatnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 30/04/2020 . Waktu baca 8 menit