Rekomendasi Durasi Menonton TV dan Main Gadget yang Aman untuk Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Bagi anak zaman sekarang, menonton TV atau menggunakan gadget hingga berjam-jam sudah bukan lagi hal yang aneh untuk dilakukan. Beberapa orangtua bahkan tak ragu untuk membolehkan anak kecilnya main game atau menonton video di perangkat elektroniknya sebagai “senjata” agar mereka tetap anteng dan tidak rewel mengamuk tantrum di muka umum. Namun tahukah Anda, semakin sering anak menghabiskan waktu di depan layar elektronik semasa kecilnya, semakin banyak dampak buruk yang bisa memengaruhi tumbuh kembangnya hingga ia dewasa nanti? Lantas, berapa lama idealnya batas durasi anak menonton TV dan main gadget dalam sehari?

Apa akibatnya jika anak menonton TV terlalu lama?

Laporan KPI menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia menempati urutan teratas dalam urusan menonton siaran televisi terlama di antara negara-negara ASEAN. Anak Indonesia rata-rata menonton TV hingga 5-7 jam setiap hari, sementara anak-anak di negara ASEAN lainnya hanya menghabiskan waktu di depan TV sekitar 2-3 jam per hari.

Sebuah penelitian terbitan Archives of Disease in Childhood tahun 2017 melaporkan bahwa anak-anak yang terbiasa menonton televisi lebih dari 3 jam setiap hari berisiko tinggi untuk mengalami diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Anak-anak yang menonton TV hingga lebih dari 3 jam setiap hari juga dilaporkan berisiko mengalami obesitas pada usia 30 tahun, ungkap sebuah studi lain asal Inggris.

Dampak buruk kebiasaan menonton TV terlalu lama ternyata tidak berhenti sampai kesehatan fisiknya saja, lho! Aebuah studi oleh tim peneliti dari University of Otago di New Zealad yang dimuat dalam jurnal Pediatric menyebutkan bahwa terlalu sering menonton TV terkait dengan perkembangan sifat sosiopatik saat anak beranjak dewasa.

Bagaimana dengan pengaruh gadget, seperti ponsel dan konsol game, pada tumbuh kembang anak? Hasilnya tidak berbeda jauh seperti yang dibayangkan. Sebuah penelitian yang dipresentasikan di Pediatric Academic Societies Meeting di San Francisco melaporkan bahwa balita yang sering pakai gadget berisiko terlambat bicara.

Sementara itu dirangkum dari berbagai penelitian, analisis para ilmuwan menunjukkan bahwa anak-anak yang memakai gadget untuk berinteraksi di media sosial secara berlebihan tiga kali lipat lebih berisiko untuk mengalami gangguan tidur, termasuk insomnia, yang bisa memicu gangguan kecemasan dan depresi

Lantas, berapa idealnya batas durasi anak menonton TV dan main gadget?

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), orangtua seharusnya sama sekali tidak membolehkan anak-anak mereka menggunakan perangkat elektronik apa pun (konsol game, lappto, tablet elektronik, ponsel) sampai menginjak usia 18 bulan. Ketika usia anak berada di rentang 18-24 bulan, Anda boleh mulai memperkenalkan mereka pada media digital yang memiliki konten edukatif.

Sementara itu, durasi menonton TV dan pemakaian gadget bagi anak-anak berusia 2-5 tahun harus dibatasi maksimal 1 jam per hari. Kontennya pun hanya sebatas yang bersifat edukatif. Ketika membolehkan anak menonton TV atau main gadget, Anda harus terus mendampingi mereka untuk mengawasi apa yang mereka tonton.

Untuk anak-anak yang berusia lebih dari 6 tahun, American Academy of Pediatrics menganjurkan durasi menonton TV harus kurang dari 2 jam setiap hari.

Bagaimana dengan media sosial? Para ahli kesehatan anak dari seluruh dunia sepakat bahwa penggunaan media sosial harus dibatasi hanya 1,5 hingga dua jam sehari untuk anak yang sudah ABG dan remaja.

Anda perlu atur waktunya juga

Setelah Anda mengetahui durasi aman untuk anak menonton TV dan main gadget, langkah selanjutnya yang perlu Anda lakukan adalah mengatur jadwalnya. Sepakati bersama anak kapan saja waktu yang dibolehkan dan tidak dibolehkan untuknya menggunakan gadget.

Jangan sampai anak menjadi kecanduan dengan gadget, maka Anda harus bijak mengatur jadwalnya sedemikan rupa agar ia memiliki cukup waktu untuk tidur, melakukan aktivitas fisik, dan kegiatan lainnya. Misalnya, saat makan malam dan sebelum tidur anak tidak boleh berada di dekat perangkat elektronik karena bisa mengganggu waktu belajar dan waktu tidurnya.

Ajari anak juga tentang etika berinteraksi dan cara berkomunikasi yang baik di dunia maya agar mereka tidak terlibat dalam kasus cyberbullying.

Akan tetapi, terdapat satu pengecualian. Jika ada anggota keluarga yang tinggal jauh sehingga Anda perlu sering-sering menggunakan video call untuk berkomunikasi, tidak apa untuk melibatkan si kecil selama sesi tersebut. Komunikasi via video call tidak termasuk dalam hitungan screen time dan tidak membahayakan, justru komunikasi dengan anggota keluarga dapat melatih kemampuan sosial anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penjelasan Lengkap Imunisasi, Mulai dari Pengertian, Manfaat, Sampai Jenisnya

Imunisasi penting untuk mencegah si kecil terkena penyakit berbahaya di kemudian hari. Untuk lebih jelasnya, berikut semua hal yang perlu diketahui.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Orangtua Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

Masa remaja adalah masa ketika anak sedang ingin coba-coba. Di masa ini pula anak bisa terjerumus dalam kenakalan remaja. Apa saja jenisnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Bullying bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak Anda. Kenali tanda saat anak menjadi korban bullying dalam ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Perkembangan Anak Usia 16 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

Di usia 16 tahun anak sudah berada di fase remaja akhir. Berikut berbagai perkembangan yang terjadi saat usia anak 16 tahun.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 27 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
menghadapi anak masturbasi

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
cara membersihkan badan bayi

Cara Membersihkan Badan Bayi dari Kepala, Tali Pusat, Sampai Organ Intim

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 5 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
cara bedong bayi

Bedong Bayi: Ketahui Manfaat dan Cara Memakaikan yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 3 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit