4 Langkah Bijak Orangtua dalam Menyikapi Keinginan Bunuh Diri Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Memiliki anak yang tumbuh remaja dan dewasa memang bukan hal yang mudah. Sebagai orangtua, Anda mungkin akan beberapa kali ‘diuji’ kesabarannya saat mendampingi dan menghadapi remaja yang terkadang labil. Pasalnya memasuki usia remaja, anak bisa saja mendapat tekanan dari lingkungan dan teman-temannya hingga mudah depresi. Kondisi ini tak jarang dapat menumbuhkan rasa ingin bunuh diri pada anak. Jika sudah begini, apa yang bisa dilakukan orangtua?

Tekanan dari lingkungan bisa picu rasa ingin bunuh diri pada anak

Alasan dibalik rasa ingin bunuh diri dari seorang anak mungkin beragam. Hal ini bisa tergantung dari lingkungannya, baik di rumah maupun di luar rumah seperti di sekolah, misalnya.

Banyak tekanan yang dirasakan oleh anak pada fase pertumbuhan, seperti tekanan untuk diterima di kalangan sosial dan pertemanan, untuk belajar dengan baik dan berprestasi di sekolah, serta untuk belajar bersikap lebih dewasa dan bertanggung jawab di hadapan orangtua.

Mungkin tekanan pada remaja terlihat sepele, jika Anda, sebagai orang dewasa, telah berhasil melaluinya. Tetapi, tidak semua anak bisa melalui masa remajanya dengan mudah. Ada juga yang memiliki tekanan lain seperti permasalahan keluarga di mana kedua orangtua bercerai, adaptasi dengan lingkungan baru karena orangtua dipindah tugaskan, atau orangtua mengalami kebangkrutan.

Masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan seorang anak yang sedang dalam proses pertumbuhan dapat menimbulkan beragam masalah psikologis yang jika tidak diatasi dengan baik dapat membuat rasa ingin bunuh diri muncul pada anak.

Oleh karena itu, sebagai orangtua, Anda harus peka terhadap apa yang dirasakan oleh anak Anda agar Anda juga bisa membantu ‘menghapus’ keinginan bunuh diri yang timbul dalam diri seorang anak.

5 tips menghadapi rasa ingin bunuh diri pada anak

Sebagai orangtua, tentu ada banyak hal yang bisa Anda lakukan dalam menghadapi dan mencegah rasa ingin bunuh diri pada anak. Mulai dari membantu membesarkan hatinya, memotivasi, mendengarkan, serta memberi dukungan untuknya. Untuk lebih jelasnya, simak ulasannya berikut.

1. Jangan meremehkan masalah anak

Untuk memahami persoalan yang dimiliki oleh anak, Anda tidak bisa melihatnya dari kacamata Anda sendiri, melainkan cobalah untuk memosisikan diri sebagai seorang anak. Dengan begitu, Anda bisa lebih memahami bagaimana perasaan anak Anda.

Jika anak Anda terlihat murung dan tidak bersemangat, cobalah untuk mendekatinya dan bertanya apakah anak Anda memiliki masalah yang ingin diceritakan. Jangan menyepelekan kondisi seorang anak karena hal ini akan membuat mereka tertutup dengan Anda. Hal ini juga bisa berujung pada stres dan depresi jika dibiarkan berlarut.

Mengapa demikian? Ini karena anak belum tentu memiliki orang lain yang bisa memahami dan mendengarkannya. Kalau orangtuanya saja tidak mau mencoba mendengarkannya, lalu siapa lagi? Jadilah tempat ternyaman bagi anak Anda untuk membagi cerita dan masalah-masalahnya agar anak tidak merasa sendiri dalam menghadapinya.

2. Bantu anak dalam menghadapi masalah

Membantu bukan berarti mengambil andil yang lebih besar dalam menyelesaikan masalah. Membantu berarti menyediakan solusi-solusi yang bisa dipilih oleh anak Anda dalam menyelesaikan permasalahannya. Salah satunya, jika anak Anda mengalami kesulitan dalam bergaul.

Tidak mudah bergaul mungkin menjadi salah satu masalah yang banyak dihadapi oleh anak di usia remaja. Hal ini bisa berujung pada stres, apalagi jika ia dikucilkan oleh teman-temannya. Jika dibiarkan, mungkin keinginan bunuh diri anak bisa terpicu dari masalah ini.

Untuk membantunya, Anda bisa mengundang teman-temannya ke rumah, atau mengajaknya ke acara di mana ia bisa bertemu dengan banyak teman sebayanya. Selain itu, coba libatkan anak Anda pada kegiatan-kegiatan di luar rumah yang memungkinkannya bertemu dengan banyak orang. Membiasakan diri dikelilingi banyak orang juga dapat membantunya lebih mudah berkomunikasi dengan banyak orang.

3. Jaga kesehatan fisik anak

Sama halnya dengan yang terjadi pada orang dewasa, kesehatan fisik juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Oleh karena itu, dengan menjaga kesehatan fisik anak, Anda juga telah membantunya menjaga kesehatan mentalnya.

Masalahnya, anak Anda sendiri yang terkadang belum dewasa dalam menjaga kesehatan dirinya sehingga sering kali tidur terlalu malam, makan junk food terlalu sering, atau bermain gadget tak kenal waktu.

Padahal, justru kegiatan tersebut yang kurang sehat untuk anak Anda. Maka, sebagai orangtua, Anda harus bisa membantu anak untuk mengatur waktu dan menjaga kesehatan fisiknya demi membebaskannya dari stres dan depresi yang dapat mengakibatkan timbulnya rasa ingin bunuh diri seorang anak.

Untuk mewujudkannya, sediakan makanan yang sehat untuk pertumbuhannya, serta untuk kesehatan otak dan makanan yang dapat meningkatkan suasana hatinya. Bantulah anak agar tidak terobsesi dengan gadget dengan ajak anak melakukan kegiatan produktif bersama. Di sisi lain, pastikan anak untuk tidur lebih lama mengingat anak membutuhkan jam tidur lebih lama (9-10 jam) dibanding orang dewasa.

4. Gunakan bantuan profesional untuk menghadapi depresi anak

Pada kasus tertentu, depresi yang dirasakan anak tidak dapat diatasi dengan mudah. Ada masa di mana Anda harus mencari bantuan medis profesional untuk menangani depresi yang dirasakan anak Anda demi menghindarkan keinginan bunuh diri pada anak.

Dalam mencari bantuan profesional yang tepat, jangan lupa libatkan anak, karena pada akhirnya, anak Anda yang akan menjalaninya. Jika anak Anda menyatakan bahwa ia tidak merasa nyaman dan tidak senang dengan terapis tertentu, hargai pendapatnya dan carilah bantuan medis atau terapis lainnya.

Jangan lupa untuk terlibat juga dalam terapi yang dijalani oleh anak Anda. Pastikan bahwa anak menjalani terapinya dengan baik dan jaga komunikasi dan hubungan baik dengan terapis anak Anda. Konsultasikan kepada terapis apa hal yang Anda bisa lakukan di rumah untuk membantunya menjalani terapi agar anak dapat terbebas dari kondisi tersebut.

Selain itu, sebisa mungkin hindari pilihan menggunakan antidepresan, karena penggunaan obat ini masih belum diketahui efek sampingnya pada anak. Sekalipun terapis anak Anda menyarankannya, hindari pilihan tersebut jika tidak dalam kondisi yang amat mendesak.

Sumber foto: South China Morning Post

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 29, 2019 | Terakhir Diedit: Agustus 26, 2019

Sumber