Awas! Terlalu Sering Nonton TV Kembangkan Sifat Sosiopatik Pada Anak

Oleh

Semakin sering anak Anda menghabiskan waktu di depan TV semasa kecilnya, semakin besar kemungkinan mereka untuk menjadi seorang sosiopathdi masa depannya. Demikian kesimpulan yang ditarik dari sebuah studi terbitan jurnal pediatrik yang dilakukan oleh sejumlah peneliti University of Otaga di New Zealand.

Perlu dicatat, penelitian tersebut mengesampingkan kemungkinan bahwa kecenderungan antisosial yang sudah lebih dulu tertanam dalam diri anak bukanlah faktor penyebab mengapa seorang anak menonton TV lebih sering. Para peneliti justru menemukan hubungan timbal balik antara terlalu sering menonton TV sejak dini dengan perkembangan perilaku antisosial saat beranjak dewasa.

“Anak yang gemar menonton acara-acara sadis di televisi cenderung menunjukkan perilaku sadis di masa depan, sementara orang-orang yang terlalu sering menonton TV cenderung memiliki perilaku buruk nantinya,” ujar para peneliti.

Penelitian telah dilaksanakan pada 1,000 anak yang lahir pada tahun 1972 sampai 1973 di kota Dunedin, New Zealand. Saat berusia lima tahun, anak-anak mulai diwawancarai mengenai kebiasaan menonton TV mereka setiap 2 tahun sekali. Peneliti lalu membandingkan informasi yang telah mereka dapat dengan rekor kriminal partisipan pada umur 17-26 tahun, termasuk perampokan bersenjata, pembunuhan, serangan yang membahayakan, pemerkosaan, menyerang orang dengan binatang, dan vandalisme dengan kekerasan telah dicatat secara terpisah.

Para peneliti telah menganalisis adanya kemiripan pada sikap agresif, antisosial, dan emosi negatif pada partisipan yang sama pada umur 21-26 tahun.

Sifat antisosial,  atau yang sering disebut dengan “sosiopat” atau “psikopat” adalah sebuah kondisi di mana seseorang tidak dapat merasakan empati terhadap sekitarnya dan sering dikaitkan dengan sikap antisosial dan sikap yang bertentangan dengan hukum seperti compulsive liar (berbohong terus menerus tanpa disadari), mencuri, merusak properti, dan kekerasan.

Tidak terkait dengan faktor risiko lainnya

Para peneliti menemukan bahwa anak yang lebih sering menonton TV akan melakukan tindakan kriminal saat dewasa. Faktanya, setiap jam waktu rata-rata anak menonton TV pada malam hari, risiko mereka melakukan perbuatan kriminal akan meningkat sebesar 30%. Hubungan antara perbuatan kriminal dan menonton TV menghilang; namun, setelah para peneliti menyesuaikannya dengan faktor yang berpotensi menghindari hal tersebut.

Bahkan, setelah menyesuaikan faktor lain seperti status sosioekonomi, pengalaman masa kecil seputar perilaku agresif dan antisosial, atau faktor didikan orangtua, banyak peneliti yang menemukan hubungan erat antara anak yang menonton TV dengan diagnosis sikap antisosial pada saat dewasa. Mereka juga menemukan hubungan antara menonton TV dengan emosi negatif dan sikap agresif.

Namun penemuan ini tidak dapat dijelaskan oleh anak antisosial yang lebih sering menonton TV dan bertumbuh sebagai orang dewasa antisosial.

“Malah, anak yang sering menonton TV akan menunjukan sikap dan perilaku antisosial,” kata Lindsay Robertson, salah satu peneliti.

Meskipun alasan menonton TV dapat menjadi salah satu faktor terbentuknya sikap antisosial masih belum jelas (terlalu banyak penjelasan mengenai penyebab kemungkinan terjadinya hal ini) para peneliti mengatakan bahwa terdapat satu hal yang jelas: mengurangi waktu menonton anak sangatlah bermanfaat.

“Sikap antisosial merupakan masalah besar dalam masyarakat,” kata seorang peneliti bernama Bob Hacox. “Kita tidak secara khusus menyalahkan TV sebagai penyebab sikap antisosial, tetap kami menyarankan Anda untuk mengurangi waktu menonton TV dapat mengurangi angka kecenderungan antisosial dalam masyarakat.”

Sumber
Yang juga perlu Anda baca