4 Panduan Merawat Anak yang Mengidap Depresi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Banyak orang berpikir bahwa depresi hanya akan mempengaruhi orang dewasa. Pada kenyataannya, anak dan remaja juga berjuang melawan depresi.

Depresi pada anak bukan hanya sekadar pemberontakan dan gonta-ganti mood yang umum terlihat selama masa pubertas anak. Depresi pada anak adalah masalah kesehatan serius yang akan berdampak pada setiap aspek kehidupan seorang remaja. Untungnya, depresi mudah dikelola dan Anda bisa membantu anak Anda melewati masa-masa sulit bersama-sama. Dukungan dan kasih sayang Anda akan berpengaruh besar untuk membantu anak Anda kembali produktif menjalani masa pertumbuhannya.

Tanda dan gejala depresi pada anak

Tidak seperti orang dewasa yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan bantuan medis mandiri, anak dan remaja masih bergantung pada orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya untuk bisa mengenali penderitaan mereka dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Mendeteksi tanda depresi pada anak tidak semudah yang Anda kira selama ini. Sering kali, tanda dan gejala depresi yang muncul pada anak Anda tidak selalu jelas. Misalnya, gejala depresi klasik seperti selalu sedih dan menangis, belum tentu muncul pada semua remaja yang diduga depresi. Lekas marah, kemurkaan, dan kegelisahan adalah gejala yang mungkin paling menonjol.

Hingga batas tertentu, moody dan bertingkah tipikal anak remaja adalah hal yang normal. Namun, jika perubahan terjadi nonstop selama lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas anak sehari-hari dan mempengaruhi hubungan keluarga dan di sekolah, anak Anda mungkin mengidap depresi.

Apa yang harus dilakukan untuk membantu anak yang mengidap depresi?

Jika Anda merasa anak Anda menderita depresi, akan sangat sulit untuk mengetahui apa yang harus Anda lakukan. Meski Anda tidak bisa membuatnya untuk mau membaik, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua — dan semua dimulai dari terus berada di sisinya.

1. Jadilah orangtua yang suportif

Depresi adalah kondisi mental yang bisa sangat merusak jika tidak ditangani secara serius, jadi jangan hanya menunggu dan berharap gejala-gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Cobalak untuk membangun empati dan pemahaman dengan membayangkan jika Anda berada di posisi anak Anda. Sewaktu-waktu, Anda mungkin merasa sangat frustrasi dengan perilakunya yang tampak tidak bersemangat sepanjang waktu dan tampak tidak melakukan apapun untuk membantu dirinya sendiri. Tapi, jika tidak ada banyak hal dalam hidupnya yang bisa membuatnya bahagia, atau terjadi sesuatu yang sangat mengecewakannya, bisa dimengerti bahwa ia mungkin akan menghindari sejumlah hal yang dulunya ia selalu nikmati dan mengunci dirinya di kamar seharian. Depresi membuat melakukan hal-hal sederhana sekalipun menjadi luar biasa sulit bagi penderitanya.

Cobalah untuk membenarkan apa yang ia rasakan, namun bukan perilaku tidak sehatnya. Jangan pula menyepelekan masalah depresinya, bahkan jika perasaan atau kekhawatiran mereka terdengar konyol bagi Anda. Upaya mendikte bahwa “dunia tidak seburuk itu” hanya akan diterima sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap mereka. Untuk membuat mereka merasa dimengerti dan dirangkul, akui rasa sakit dan kesedihan yang mereka rasakan. Utarakan kekhawatiran Anda dengan sangat jelas, bahwa Anda ingin mencoba untuk memahami apa yang menyulitkan dirinya tanpa berusaha untuk memecahkan masalah. Bahkan niat terbaik dari orangtua bisa tidak disadari tampil sebagai kritikan daripada rasa peduli. Jangan menghakimi, bahkan jika Anda tidak setuju dengan sudut pandangnya.

Tekankan bahwa depresi yang ia alami bukanlah akibat dari apapun yang ia lakukan selama ini, atau ia berpikir telah melakukan sesuatu yang bisa membuatnya seperti ini. Depresi bukanlah salahnya.

Ajak ia berbicara dan dengarkan penderitaannya, untuk menunjukkan bahwa Anda ada untuknya, Anda melihat kesedihannya, dan Anda berusaha untuk mengerti dirinya — bukan untuk memperbaikinya. Orang tidak suka untuk diperbaiki. Mendengarkan masalah tanpa menghakimi akan membuat dirinya memandang Anda sebagai sahabat, tempat berpaling untuk curhat saat ia siap untuk berbicara lagi.

2. Berikan pujian untuk hal-hal yang positif

Pastikan Anda tidak luput merangkul hal-hal positif yang anak Anda lakukan sehari-hari meski bergelut dengan kondisi yang menyulitkannya, seperti pergi ke sekolah, menyanggupi kerja paruh waktu, membereskan kamar, atau bermain dengan kakak-adiknya di akhir minggu. Ini semua adalah hal terpuji yang ia lakukan, dan penting untuk menyampaikan rasa bersyukur dan bangga, daripada berpikir bahwa hal-hal ini adalah rutinitas yang mestinya memang ia lakukan. Kita semua ingin dihargai dan diakui untuk melakukan pekerjaan yang baik, bahkan ketika hal tersebut diharapkan dari kita.

Tanyakan pada diri sendiri berapa banyak hal positif yang Anda katakan padanya hari ini? Berapa banyak hal negatif yang Anda telah ucapkan untuknya? Berapa kali Anda mencoba untuk memperbaiki kelakuannya? Hal-hal yang positif harus selalu lebih besar daripada yang negatif untuk membantu mengelola depresi pada anak Anda. Biarkan ia tahu bahwa Anda bangga dengan dirinya, bahwa ia melakukan pekerjaan yang baik dalam mengurus dirinya sendiri, berinteraksi dengan anggota keluarga, atau melakukan tugas-tugas lain yang membutuhkan usaha. Demikian juga, Anda tidak perlu membuatnya sadar bahwa Anda merasa kecewa bahwa ia tidak lagi bermain dengan teman-teman baiknya seperti dulu, atau tidak lagi mengikuti kelas ekstrakurikuler kesukaannya. Kemungkinan besar ia juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri, dan ia tidak perlu orang lain untuk mengingatkan “kegagalan” dalam hidupnya. Yang Anda tidak tahu, ia juga tidak ingin merasa seperti ini, namun tidak banyak hal yang bisa membantu. Jika ia bisa langsung sembuh semudah membalikkan telapak tangan, ia pasti akan melakukannya.

3. Bantu ia mendapatkan bantuan

Beberapa remaja akan setuju untuk mendapatkan bantuan medis profesional saat Anda memintanya untuk melakukan konsultasi, dan sebagian lainnya mungkin akan berontak. Bagi mereka yang pada awalnya tampak tidak menyukai ide terapi, ia mungkin akan dapat terbuka dengan gagasan tersebut seiring waktu dengan bimbingan Anda dengan memulai pembicaraan dan bersabar membimbing mereka ke arah tersebut.

Cobalah untuk katakan, “Ibu/ayah tahu kamu sedang kesulitan, dan aku punya beberapa ide yang mungkin bisa membantu kamu. Kalau kamu merasa butuh bantuan, jangan sungkan untuk bilang pada ibu/ayah.” Hal terbaik selanjutnya adalah bertanya pada anak Anda mengenai saran yang mungkin ia miliki untuk membiarkan Anda membantunya.

Jika ia pada akhirnya meminta bantuan Anda, persiapkan diri. Lakukan penelitian dari jauh-jauh hari. Menemukan terapis yang tepat untuk anak Anda sangat penting, dan membiarkannya untuk memilih mana yang menurutnya paling baik untuk dirinya akan membuat ia merasa bertanggung jawab atas pengobatan dirinya sendiri.

Jika ia sudah memiliki terapis, penting pula untuk mengetahui banya ada beberapa jenis pengobatan lain yang mungkin bisa membantu pengobatannya, termasuk terapi perilaku kognitif (CBT), terapi interpersonal (IPT), dan aktivasi perilaku yang telah menunjukkan efektivitasnya dalam membantu remaja mengelola depresinya. Pastikan anak Anda memiliki pemeriksaan mendetail dan menyeluruh yang mencakup rekomendasi pengobatan untuk membantu memandu Anda berdua.

Banyak remaja yang berhasil mengelola depresinya dengan obat-obatan resep, seperti antidepresan. Sementara hanya dengan terapi saja bisa menjadi efektif untuk mengobati depresi ringan hingga sedang, hasil terbaik biasanya dapat diraih dengan kombinasi terapi dan obat-obatan. Tidak ada yang salah dengan menggunakan obat-obatan untuk menangangi depresi. Jika dokter merekomendasikan penggunaan obat, pastikan Anda membuat jadwal konsultasi dengan dokter psikiatrik anak, bukan dengan dokter umum, untuk informasi lebih lanjut.

4. Waspada kecenderungan bunuh diri

Jika anak Anda sedang dalam pengobatan namun tidak tampak banyak peningkatan, tanyakan padanya apa ada yang salah dengan terapi yang ia jalani. Apa yang menurutnya tidak membantu atau yang tidak ia sukai dari sesi terapinya? Apakah ada sisi baik dari terapi tersebut?

Jika anak Anda berpikir untuk mengganti konselor terapis, sebaiknya bicarakan dulu dengan konselor yang saat ini sedang menangani kasusnya sebelum memantapkan keputusan. Pada umumnya, terapi dan/atau hubungan terapeutik bisa ditingkatkan.

Perlu diingat bahwa terapi biasanya tidak akan efektif jika pasien tidak berkomitmen penuh menjalaninya, atau melakukannya hanya demi menyenangkan orang lain. Anak Anda harus memiliki keinginan kuat untuk sembuh dari dalam dirinya sendiri. Sayangnya, terkadang seseorang harus mengalami keterpurukan yang lebih memayahkan sebelum benar-benar membutuhkan bantuan.

Anak-anak yang mengidap depresi kronis sering menunjukkan kecenderungan berpikir, berbicara, atau bertindak yang menjurus pada upaya bunuh diri, walaupun sayangnya, hal ini sering dianggap sebagai ulah mencari perhatian khas remaja pada umumnya. Tetapi, melihat tingkat percobaaan bunuh diri dan angka kematian remaja akibat bunuh diri yang tinggi di Indonesia, perilaku seperti ini harus ditanggapi secara darurat dan diatasi dengan sangat serius.

Terakhir, penting untuk memastikan Anda tidak hanya merawat anak Anda, namun juga diri Anda sendiri. Merawat depresi pada anak bisa sangat melelahkan secara fisik dan emosional, namun pahami bahwa Anda tidak sendirian, dan dapatkan bantuan untuk diri Anda sendiri.

BACA JUGA:

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    7 Penyebab Hidung Meler serta Cara Mengatasinya

    Hidung ingusan memang sangat menganggu Anda. Berikut tips yang bisa dilakukan di rumah untuk meringankan hidung meler, entah karena flu atau alergi.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan THT, Gangguan Hidung 19 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

    Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

    Keracunan makanan dapat berujung pada kematian. Pelajari pertolongan pertama untuk menagtasi keracunan makanan di sini sebelum terlambat.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Ivena
    Pertolongan Pertama, Hidup Sehat 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Semua Hal yang Penting Diperhatikan Pasca Operasi Usus Buntu

    Pasca operasi usus buntu Anda tidak dianjurkan kembali beraktivitas. Anda juga perlu menghindari beberapa pantangan setelah operasi usus buntu.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Kesehatan Pencernaan, Radang Usus Buntu 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

    11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

    Ternyata menonton film sedih bukan cuma membuat kita menangis, tapi ada juga manfaat lainnya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara mengobati tipes

    Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin
    Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
    menghangatkan tubuh

    6 Cara Menghangatkan Tubuh Saat Sedang Kedinginan

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    suplemen herbal yang harus dihindari menjelang operasi

    Hati-hati, 8 Suplemen Herbal Ini Tak Boleh Dikonsumsi Sebelum Masuk Ruang Operasi

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
    kayu manis

    Konsumsi Kayu Manis Berlebihan, Hati-hati Risikonya untuk Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit