Gejala, Penyebab, dan Akibat dari Pubertas Dini

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pubertas dini atau sering disebut pubertas prekoks adalah masa pubertas yang muncul pada usia yang lebih muda dari batas minimum, yaitu sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan, dan sebelum 9 tahun pada anak laki-laki. Menurut dua studi dari Amerika Serikat, awal pubertas bisa sedini 7,7 tahun pada anak perempuan dan sedini 7,6 tahun pada anak laki-laki. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pubertas prekoks, mari kita lihat selengkapnya di bawah ini.

Tanda dan gejala pubertas dini

Seperti yang dilansir dari MayoClinic, tanda-tanda dan gejala pubertas dini sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan 9 tahun pada anak laki-laki ini adalah sebagai berikut:

Tanda dan gejala pada anak perempuan:

Tanda dan gejala pada anak laki-laki

  • Testis dan penis membesar
  • Rambut wajah (biasanya kumis adalah yang pertama tumbuh)
  • Suara menjadi lebih “nge-bass”

Tanda dan gejala yang terjadi pada anak laki-laki dan perempuan

  • Rambut kemaluan atau ketiak
  • Pertumbuhan yang cepat
  • Jerawat
  • Bau badan seperti orang dewasa

Jika anak Anda mengalami tanda dan gejala di atas, buatlah janji dengan dokter anak Anda untuk evaluasi lebih lanjut.

Penyebab pubertas dini

Untuk memahami apa yang menyebabkan pubertas dini pada beberapa anak, Anda harus mengetahui terlebih dahulu apa yang menyebabkan munculnya pubertas. Proses ini melibatkan langkah-langkah berikut:

  • Otak mulai memproses. Bagian otak membuat hormon yang disebut sebagai gonadotropin-releasing hormone (Gn-RH).
  • Kelenjar pituitari melepaskan lebih banyak hormon. Gn-RH menyebabkan kelenjar piituitari (kelenjar berbentuk kacang kecil di dasar otak) untuk melepaskan hormon lagi. Hormon-hormon tersebut disebut sebagai luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH).
  • Hormon seks diproduksi. LH dan FSH menyebabkan ovarium untuk memproduksi hormon yang terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan karakteristik seksual perempuan (estrogen) dan testis untuk memproduksi hormon yang bertanggung jawab pada pertumbuhan dan perkembangan karakteristik seksual laku-laki (testosteron).
  • Perubahan fisik terjadi. Produksi estrogen dan testosteron menyebabkan perubahan fisik pubertas.

Mengapa proses ini dimulai lebih awal di beberapa anak tergantung pada apakah mereka memiliki pubertas prekoks sentral atau pubertas prekoks perifer.

Pubertas prekoks sentral

Dalam pubertas prekoks sentral, proses pubertas dimulai terlalu cepat. Pola dan waktu dari langkah-langkah dalam proses puber bisa dikatakan normal. Bagi sebagian besar anak-anak dengan kondisi ini, tidak ada masalah medis yang mendasari dan tidak ada alasan yang teridentifikasi untuk pubertas dini.

Dalam kasus yang jarang terjadi, mungkin ini juga dapat menjadi penyebab pubertas prekoks sentral, seperti:

  • Tumor di otak atau sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat).
  • Kecacatan di otak dari lahir, seperti penumpukan cairan yang berlebihan (hydrocephalus) atau tumor bersifat kanker (hamartoma).
  • Radiasi pada otak atau sumsum tulang belakang.
  • Cedera otak dan sumsum tulang belakang.
  • Sindrom McCune-Albright (penyakit genetik yang mempengaruhi tulang dan warna kulit, yang menyebabkan masalah hormonal).
  • Hiperplasia adrenal kongenital (sekelompok gangguan genetik yang melibatkan produksi hormon abnormal oleh kelenjar adrenal).
  • Hypothyroidism (kondisi kelenjar tiroid yang tidak menghasilkan cukup hormon).

Pubertas prekoks perifer

Estrogen atau testosteron dalam tubuh anak Anda menyebabkan jenis pubertas dini ini. Pubertas prekoks perifer terjadi tanpa keterlibatan hormon (Gn-RH) di otak yang biasanya memicu awal pubertas. Sebaliknya, penyebab utamanya adalah pelepasan estrogen atau testosteron ke dalam tubuh karena ada masalah dengan ovarium, testis, kelenjar adrenal atau kelenjar pituitari.

Penyebab terjadinya pubertas prekoks perifier terhadap anak perempuan dan laki-laki, yaitu:

  • Tumor di kelenjar adrenal atau kelenjar pituitari yang mengeluarkan estrogen atau testosteron.
  • Sindrom McCune-Albright
  • Paparan pada sumber eksternal estrogen atau testosteron, seperti krim atau salep.

Pada anak perempuan, kondisi ini juga dapat dikaitkan dengan:

Pada anak laki-laki, pubertas prekoks perifier juga disebabkan oleh:

  • Tumor di sel yang membuat sperma (sel germ) atau dalam sel yang membuat testosteron (sel Leydig).
  • Mutasi gen (kelainan langka yang disebut sebagai prekositas seksual familial gonadrotopin-independen, ia disebabkan oleh kecacatan dalam gen sehingga mengakibatkan produksi awal testosteron pada laki-laki, biasanya antara usia 1-4 tahun).

Komplikasi yang bisa muncul akibat pubertas dini

Kemungkinan komplikasi dari pubertas prekoks adalah:

1. Tubuh pendek

Anak-anak dengan pubertas prekoks dapat tumbuh dengan cepat pada awalnya dan akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan teman-teman mereka. Tapi, karena tulang mereka matang lebih cepat dari biasanya, mereka sering berhenti untuk tumbuh. Hal ini menyebabkan mereka menjadi lebih pendek dari rata-rata orang dewasa.

2. Masalah sosial dan emosional

Anak perempuan dan anak laki-laki yang mulai pubertas jauh sebelum rekan-rekan mereka mungkin sangat sadar diri tentang perubahan yang terjadi dalam tubuh mereka. Hal ini dapat mempengaruhi harga diri dan meningkatkan risiko depresi atau penyalahgunaan zat.

Selalu sulit untuk menjadi berbeda dari orang lain. Memiliki tubuh orang dewasa lebih awal dibandingkan teman-temannya dapat memberi banyak tekanan pada anak. Baik anak perempuan maupun laki-laki pasti mengalami kesulitan saat menjalani perubahan akibat pubertas dini. Anak Anda mungkin diejek, dan mungkin juga memiliki masalah citra tubuh atau masalah harga diri. Mereka mungkin juga bingung tentang apa yang terjadi pada tubuh mereka, dan mungkin memiliki emosi yang asing.

BACA JUGA:

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Cara Menghangatkan Tubuh Saat Sedang Kedinginan

Mengenakan selimut dan pakaian tebal merupakan salah satu cara menghangatkan tubuh saat kedinginan. Apakah ada cara lainnya?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan, Informasi Kesehatan 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Hati-hati, 8 Suplemen Herbal Ini Tak Boleh Dikonsumsi Sebelum Masuk Ruang Operasi

Meski bermanfaat bagi kesehatan, beberapa suplemen herbal dapat berisiko komplikasi berbahaya jika diminum menjelang operasi. Apa saja itu?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 20 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Konsumsi Kayu Manis Berlebihan, Hati-hati Risikonya untuk Kesehatan

Meski memiliki manfaat, perhatikan jumlah asupan kayu manis. Terlalu banyak mengonsumsi rempah ini memiliki risiko kayu manis yang berbahaya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

7 Penyebab Hidung Meler serta Cara Mengatasinya

Hidung ingusan memang sangat menganggu Anda. Berikut tips yang bisa dilakukan di rumah untuk meringankan hidung meler, entah karena flu atau alergi.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 19 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
tips lari untuk penderita rematik

6 Kesalahan Saat Olahraga Lari yang Wajib Dihindari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
cara mengobati tipes

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit