Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Bagaimana Mengatasi Anak yang Sedang Depresi?

Bagaimana Mengatasi Anak yang Sedang Depresi?

Banyak orang berpikir bahwa depresi hanya akan memengaruhi orang dewasa. Pada kenyataannya, anak dan remaja juga berjuang melawan depresi. Ini merupakan masalah kesehatan mental yang cukup serius dan berisiko menghambat perkembangan anak. Lalu, bagaimana cara merawat anak yang depresi? Tips-tips berikut semoga bisa membantu.

Kenali gejala depresi pada anak sejak dini

anak takut suara keras

Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengamati gejala depresi pada anak. Melansir situs National Health Service, semakin cepat Anda mendeteksi gejalanya tersebut, maka penanganannya akan semakin mudah.

Oleh sebab itu, sebaiknya perhatikan bila si kecil menunjukkan tanda-tanda seperti:

  • sedih dan kurang bersemangat dalam waktu yang lama,
  • sensitif dan mudah marah,
  • tidak tertarik pada kegiatan atau benda yang dulunya ia sukai,
  • terlihat lelah sepanjang waktu,
  • susah tidur atau justru lebih sering tidur,
  • susah makan bahkan berat badannya turun,
  • kurang percaya diri, serta
  • sulit berkonsentrasi

Bagaimana cara merawat anak depresi?

jenis depresi

Depresi merupakan gangguan mental pada anak yang cukup serius. Namun Anda tidak perlu khawatir berlebihan, dengan dukungan Anda sebagai orangtua dan keluarga, si kecil dapat segera pulih dari kondisi ini.

1. Jadilah orangtua yang suportif

Melansir situs Child Mind Institute, dalam merawat anak yang depresi, Anda perlu menjadi orangtua yang suportif. Cobalah untuk membangun empati dan bayangkan jika Anda berada di posisi sang anak.

Pahami apa yang dirasakannya tetapi jangan membenarkan tindakan buruk yang ia lakukan. Sampaikan bahwa Anda khawatir bila ia melakukan hal-hal tersebut terus menerus.

2. Luangkan waktu untuk berbicara dengannya

Bila Anda yakin ada masalah yang disembunyikan anak, luangkan waktu untuk mendekatinya dan cobalah berkomunikasi dengan anak saat sedang berdua saja dengannya. Misalnya saat berjalan-jalan atau saat mencuci piring bersama.

Ciptakan suasana yang nyaman agar si kecil mau membuka diri. Hindari memaksa bila ia menolak untuk berbicara, cobalah lagi di lain kesempatan.

3. Fokus mendengarkan daripada memberi ceramah

Beri ruang padanya untuk berbicara dan simaklah dengan baik. Tahanlah keinginan Anda untuk langsung mengkritik anak. Biarkan ia menyampaikan segala keluh kesahnya.

Jangan menyepelekan masalah depresinya, meskipun alasannya terdengar konyol bagi Anda. Hindari menghakimi, bahkan jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya.

4. Tetap bersikap lembut dan bersabar

Mengungkapkan hal yang menggelisahkan hatinya merupakan hal yang berat bagi anak, terutama di usia yang beranjak remaja.

Oleh sebab itu, dalam merawat anak yang depresi, tetaplah bersikap lembut padanya. Bersabarlah meskipun mungkin anak sering berteriak dan meledak-ledak.

Pahamilah bahwa ia sedang sulit mengendalikan emosinya saat ini dan upayakan untuk tetap memberikan kenyamanan padanya.

5. Hindari mendikte anak

Pada saat depresi, anak sebenarnya hanya ingin dimaklumi dan dipahami. Oleh sebab itu, dalam merawat anak yang depresi, hindari mendiktenya. Itu hanya akan membuat ia semakin tertekan.

Bisa saja ia juga kecewa pada dirinya sendiri. Mendikte dan mengkritiknya hanya akan membuat ia merasa semakin gagal.

Mendengarkan unek-uneknya tanpa menghakimi akan membuat ia memandang Anda sebagai sahabat, tempat berpaling untuk curhat saat ia siap untuk berbicara lagi.

6. Sampaikan kekhawatiran Anda

Sering kali, niat baik dari orangtua disalahartikan sebagai kritikan daripada rasa peduli. Oleh sebab itu, saat berbicara padanya sampaikan bahwa Anda hanya khawatir padanya.

Utarakan kekhawatiran Anda dengan jelas dan ingin mencoba untuk memahami apa yang membuat anak stress, bukan sedang ingin mengoreksi. Dengan begitu, anak akan merasa dimengerti dan dirangkul.

Cara menjadi sahabat untuk anak

7. Halau rasa bersalah dalam diri anak

Depresi bisa saja timbul dari rasa bersalah anak. Tekankan padanya bahwa semua hal yang terjadi bukanlah akibat kesalahannya, melainkan kondisi yang wajar dan sudah sepantasnya terjadi.

Kemudian ajaklah ia untuk bangkit, menghapus rasa bersalah pada dirinya dan membangun kepercayaan dirinya kembali.

8. Berikan pujian untuk hal-hal yang positif

Dalam merawat anak yang sedang depresi, pastikan Anda tidak luput dalam menghargai hal-hal positif yang ia lakukan sehari-hari.

Pergi ke sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membereskan kamar, atau bermain dengan kakak-adiknya di akhir minggu.

Semua itu sebenarnya sederhana tetapi akan terasa berat bila sedang depresi. Maka dari itu, pujilah bila ia tetap mengerjakannya. Sampaikan bahwa Anda bangga padanya.

9. Percaya insting Anda

Anak yang sedang depresi mungkin akan sulit berkata jujur. Bisa saja ia mengatakan tidak ada masalah dan menyembunyikan semuanya.

Bila ini terjadi, percayalah insting Anda sebagai orangtua. Bila Anda merasa ada yang tidak wajar, galilah dengan berbagai cara. Misalnya dengan bertanya pada teman-teman terdekatnya.

Anda perlu mencari tahu penyebab anak depresi agar bisa menerapkan cara merawat dan mengupayakan penanganan yang tepat..

10. Cobalah terapi psikologi

Bila Anda khawatir, depresi yang anak alami sangat mengganggu perkembangan jiwanya bahkan berdampak buruk bagi kesehatannya, terapi kejiwaan mungkin bisa Anda tempuh.

Beberapa anak berhasil mengelola depresinya dengan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter ahli psikiatri anak, seperti antidepresan.

Bila perlu, anak juga mungkin membutuhkan terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi interpersonal (IPT). Sambil menjalani terapi, pastikan Anda juga merawat anak yang depresi dengan baik.

12. Pastikan anak koperatif menjalani terapi

Beberapa remaja akan setuju untuk mengikuti terapi saat Anda memintanya. Namun, sebagian lainnya mungkin akan berontak.

Jangan langsung memaksa bila ia berontak, cobalah mendekatinya pelan-pelan sampai ia membuka diri untuk mengikuti ajakan tersebut.

Selain itu, anak juga harus memiliki keinginan kuat untuk sembuh. Pasalnya, terapi biasanya tidak akan efektif jika pasien tidak berkomitmen penuh menjalaninya, atau melakukannya hanya demi menyenangkan orang lain.

terapi regresi

13. Waspada kecenderungan bunuh diri

Anak-anak yang mengidap depresi kronis sering menunjukkan kecenderungan berpikir, berbicara, atau bertindak yang menjurus pada upaya bunuh diri.

Sayangnya, hal ini sering dianggap sebagai ulah mencari perhatian khas remaja pada umumnya. Padahal, kecenderungan bunuh diri harus ditanggapi secara darurat dan diatasi dengan sangat serius.

Oleh sebab itu, pastikan Anda tidak melakukan kesalahan dalam merawat anak yang sedang depresi. Bila Anda kesulitan, mintalah bantuan orang lain seperti keluarga atau tenaga profesional.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Depression in children and young people. (2020). Retrieved 25 October 2021, from https://www.nhs.uk/mental-health/children-and-young-adults/advice-for-parents/children-depressed-signs/

Tips for parenting a child who is depressed. (2020). Retrieved 25 October 2021, from https://health.choc.org/tips-for-parenting-a-child-who-is-depressed/

What to Do if You Think Your Teenager is Depressed – Child Mind Institute. Retrieved 25 October 2021, from http://childmind.org/article/how-to-help-your-depressed-teenager/

Parent’s Guide to Teen Depression – HelpGuide.org. (2021). Retrieved 25 October 2021, from http://www.helpguide.org/articles/depression/teen-depression-signs-help.htm

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 17 jam lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto