Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Awas! Ini 8 Dampak Buruk Kekerasan pada Anak

Awas! Ini 8 Dampak Buruk Kekerasan pada Anak

Masih banyak orangtua yang menganggap bahwa memukul atau hukuman fisik lainnya merupakan metode yang paling tepat untuk mendisiplinkan anak. Padahal, lembaga kesejahteraan anak, UNICEF, menyatakan bahwa memukul justru memberikan efek buruk pada psikologis anak. Apa saja akibat anak sering dipukul? Simak ulasannya berikut.

Beberapa efek anak sering dimarahi dan dipukul

akibat anak sering dipukul

Memukul anak bisa jadi akan langsung membuatnya patuh seketika. Oleh karena itu, sejumlah orangtua sering kali menerapkan cara ini saat menghadapi anak yang rewel dan berperilaku buruk.

Padahal, di balik itu, terdapat sejumlah dampak anak sering dipukul dan dimarahi.

1. Anak mengalami trauma

Menurut The American Academy of Pediatric, trauma dapat terjadi akibat anak sering dipukul dan dimarahi. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dengan post-traumatic stress disorder (PTSD).

Jika mengalami PTSD, anak akan mengalami beberapa gejala seperti:

  • susah tidur,
  • mudah marah dan meledak-ledak,
  • konsentrasi menurun,
  • daya ingat terganggu,
  • mudah terkejut,
  • sering melamun, serta
  • selalu merasa curiga dan ketakutan.

2. Anak sulit bersosialisasi

Efek lain dari trauma yang dialami oleh anak akibat sering dipukul adalah ia menjadi sulit berkomunikasi dan bersosialisasi.

Ini karena ia selalu dilanda ketakutan pada orang lain. Selain itu, ia pun menjadi tidak percaya diri dan sulit berprestasi dan mengembangkan potensi dirinya.

U.S. Department of Health and Human Service menyatakan bahwa memukul dan membentak anak dianggap sebagai pelecehan fisik dan verbal sehingga dianggap melanggar hak-hak asasi anak.

3. Mengalami gangguan perkembangan otak

Orangtua mungkin menganggap usia balita belum memahami situasi sehingga dengan mudahnya memukul anak. Padahal, pada usia ini, otak berkembang lebih cepat daripada organ lain.

Oleh karena itu, dampak sering memukul anak balita maupun anak yang berusia lebih dewasa berhubungan langsung dengan kecerdasannya.

Hal ini telah dibuktikan oleh sejumlah penelitian, salah satunya yang diterbitkan oleh jurnal Infant and Child Development.

Pada penelitian tersebut dilakukan perbandingan antara anak usia 3 tahun yang sering menerima pukulan (tamparan) dengan anak yang tidak.

Hasilnya menunjukkan bahwa di usia 5 tahun, anak yang sering dipukul memiliki kecerdasan yang lebih rendah daripada yang tidak dipukul.

4. Membuat anak sulit belajar

Tidak hanya pada balita, penurunan kinerja otak juga dapat terjadi akibat memukul anak usia sekolah. Akibatnya, ia menjadi sulit memahami pelajaran.

Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal Human Brain Mapping, memukul anak dapat mengurangi gray matter yaitu jaringan penghubung abu-abu pada otak yang merupakan bagian penting untuk belajar.

Selain itu, akibat sering dipukul dan dimarahi, anak menjadi sulit mengembangkan diri. Ini karena ia takut mencoba hal-hal yang baru dan khawatir berbuat salah.

5. Anak berperilaku kasar

Anda tentu pernah mendengar bahwa perilaku anak merupakan cerminan dari perilaku orangtuanya. Ya, begitupun dalam hal kekerasan.

Akibat anak sering dipukul dan dimarahi akan terlihat langsung pada sikap si kecil. Ia akan tumbuh menjadi anak yang kasar dan agresif.

Si kecil akan menganggap memukul itu adalah hal yang biasa sehingga ia pun melakukan hal yang sama pada orang lain seperti teman atau saudaranya.

Selain itu, melansir situs Healthy Children, efek memukul anak usia 2 tahun dan bentuk kekerasan lainnya dapat membuatnya menjadi tantrum.

Beberapa anak mungkin juga akan mengalami kurang nafsu makan, susah tidur, dan sakit kepala.

6. Anak berisiko melukai dirinya sendiri

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, memukul anak dapat membuatnya meniru kekerasan. Bukan hanya pada orang lain, ia bisa saja akan melampiaskan emosi pada dirinya sendiri.

Menurut badan kesehatan dunia, WHO, akibat anak sering dipukul dapat membuat ia melukai diri, menggunakan narkoba, bahkan melakukan upaya bunuh diri.

7. Anak kabur dari rumah

Anak mungkin dapat menghindar jika mengalami kekerasan di luar rumah. Lantas, bagaimana jika hal itu ia alami di rumah?

Ya, dengan sikap orangtua yang sering memukul anak akan membuatnya ketakutan dan tidak nyaman tinggal di rumahnya sendiri.

Akibatnya, anak berupaya untuk lari dari rumah karena takut bertemu dengan orang tuanya. Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan orangtua seharusnya menjadi sumber kasih sayang.

Ketika semua itu hilang dalam hidupnya, jiwa anak akan kosong dan kekurangan kasih sayang.

8. Berisiko pergaulan bebas

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, akibat anak sering dipukul dapat menyebabkan ia menjadi tidak betah tinggal di rumah.

Pada usia pubertas, hal ini berisiko membuatnya terlibat dalam pergaulan bebas karena mencari pelarian di luar rumah.

Menurut WHO, kondisi ini dapat menyebabkan anak melakukan hubungan seks di usia dini, hamil di luar rencana, mengalami penyakit menular seksual, dan masalah reproduksi lainnya.

Sebagai orangtua, Anda tentu saja tidak menginginkan hal ini terjadi pada si kecil.

Tips mendisiplinkan anak tanpa harus memukul

mengatasi anak manja

Berdasarkan penjelasan di atas, tentunya Anda menjadi tahu bahwa akibat anak sering dipukul dan dimarahi sangatlah buruk untuk kehidupan anak.

Oleh karena itu, jangan sampai Anda melakukannya pada mereka.

Daripada memukul dan memarahi anak, cobalah lakukan hal-hal berikut untuk mendidik anak agar patuh.

  • Terapkan hukuman yang wajar, bermanfaat dan sesuai usianya, seperti membersihkan kamar mandi, menulis kalimat permohonan maaf, dan lain-lain.
  • Bangunlah komunikasi yang baik dengan anak agar ia lebih dekat dan mudah menuruti perkataan Anda.
  • Buat aturan yang disepakati bersama agar ia merasa bertanggung jawab tanpa harus memukul anak.

Selain itu, perlu Anda perhatikan untuk selalu menjaga emosi dan menahan amarah saat menghadapi anak.

Sebisa mungkin bersabarlah terhadap perilakunya dan maafkanlah kesalahannya, apalagi jika kesalahannya tidak terlalu berat.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Violent discipline – UNICEF DATA. (2021). Retrieved 30 August 2021, from https://data.unicef.org/topic/child-protection/violence/violent-discipline/

Childhood Exposure to Violence. (2021). Retrieved 30 August 2021, from https://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/at-home/Pages/Crime-Violence-and-Your-Child.aspx

Stress and Violence at Home During the Pandemic. (2020). Retrieved 30 August 2021, from https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/COVID-19/Pages/Stress-and-Violence-at-Home-During-the-Pandemic.aspx

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). (2020). Retrieved 30 August 2021, from https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/emotional-problems/Pages/Post-Traumatic-Stress-Disorder-PTSD.aspx

Violence against children. (2020). Retrieved 30 August 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-children

Butler, O., Yang, X., Laube, C., Kühn, S., & Immordino‐Yang, M. (2018). Community violence exposure correlates with smaller gray matter volume and lower IQ in urban adolescents. Human Brain Mapping, 39(5), 2088-2097. doi: 10.1002/hbm.23988

MacKenzie, M., Nicklas, E., Waldfogel, J., & Brooks-Gunn, J. (2011). Corporal Punishment and Child Behavioural and Cognitive Outcomes through 5 Years of Age: Evidence from a Contemporary Urban Birth Cohort Study. Infant And Child Development, 21(1), 3-33. doi: 10.1002/icd.758

Physical aggressiveness linked to gray matter deficits in brain region, study finds. (2017). Retrieved 30 August 2021, from https://www.psypost.org/2017/10/physical-aggressiveness-linked-gray-matter-deficits-brain-region-study-finds-50001

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x