home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

7 Alasan Psikologis yang Membuat Anak dan Remaja Kabur dari Rumah

7 Alasan Psikologis yang Membuat Anak dan Remaja Kabur dari Rumah

Coba ingat waktu Anda masih kecil dulu, pernahkah muncul keinginan untuk kabur dari rumah? Atau Anda bahkan pernah benar-benar melakukannya? Kasus anak dan remaja yang kabur dari rumah sebenarnya cukup sering terjadi. Namun, Anda harus tahu dulu sebenarnya mengapa anak dan remaja cenderung melarikan diri ketika punya masalah. Berikut ulasan lengkapnya.

Kenapa harus kabur dari rumah?

Pertengkaran orangtua dengan anak bisa berujung pada anak kabur dari rumah karena ia sedang berada dalam fase pemberontakan. Akan tetapi, takut dihukum atau dimarahi karena melakukan kesalahan tertentu juga bisa memicu anak melarikan diri. Ini karena anak percaya sudah tak ada lagi pemecahan masalah yang bisa dicapai selain melarikan diri.

Jangan salah mengartikan bahwa anak yang minggat berarti tidak mencintai Anda atau tidak bersyukur. Hal itu belum tentu benar, lho. Biasanya nekat lari dari rumah justru menjadi sebuah sinyal yang diberikan anak bahwa ia membutuhkan bantuan atau perhatian Anda sebagai orangtua.

Dalam kasus lain, anak justru kabur dari rumah sebagai “senjata” untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Misalnya kalau anak minta handphone baru tapi orangtua belum mengabulkannya. Anak pun berpikiran kalau lari dari rumah akan membuat orangtua cemas dan akhirnya bisa diajak bernegosiasi untuk membelikannya handphone.

Berbagai alasan anak dan remaja melarikan diri

Inilah berbagai alasan yang mungkin ada dalam pikiran anak dan remaja ketika mereka memutuskan untuk melarikan diri dari rumah.

1. Merasa tidak aman di rumah

Anak bisa saja merasa bahwa situasi di rumah benar-benar menakutkan sehingga satu-satunya pilihan adalah melarikan diri. Misalnya kalau anak menjadi korban kekerasan anak. Baik itu kekerasan verbal, fisik, psikologis, atau seksual. Bukan berarti ia kabur dari rumah karena ingin memberontak, ia justru sedang berusaha untuk menyelamatkan diri.

2. Masalah di sekolah atau lingkungan pergaulan

Bila anak ditindas di sekolah tapi tidak ada sosok yang bisa membantunya, anak mungkin memilih untuk kabur. Dengan begitu, anak bisa membolos tanpa harus dipaksa ke sekolah oleh orangtua.

Atau anak justru terlibat masalah tertentu tapi ia tidak berani menganggung akibat atau hukumannya. Maka, ia pun memilih untuk lari dari rumah daripada harus menerima konsekuensi.

3. Merasa tidak dihargai

Salah satu kasus kabur dari rumah yang cukup sering ditemui adalah anak merasa cemburu dengan kakak atau adiknya. Dalam pikiran anak, ia merasa kurang dihargai dan berpikiran bahwa orangtua lebih menyayangi kakak atau adiknya.

Selain itu, anak bisa merasa tidak dihargai karena orangtuanya memberikan hukuman yang sangat berat atas kesalahannya. Dalam kasus lain, anak yang merasa tidak mendapat cukup perhatian dari orangtua juga mungkin “menguji” kasih sayang orangtua dengan cara minggat.

4. Ingin mendapatkan sesuatu dari orangtua

Hati-hati kalau anak sering mengancam untuk kabur dari rumah. Besar kemungkinan ia memanfaatkan kekhawatiran Anda sebagai senjata untuk memanipulasi orangtua dan mendapatkan apa yang ia inginkan.

5. Hamil di luar nikah

Kehamilan usia remaja kerap juga menjadi alasan remaja putri memilih untuk kabur dari rumah. Karena takut dihukum, dimarahi, atau bahkan diusir dari rumah, ia pun memutuskan untuk melarikan diri. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan karena kondisi kesehatan remaja putri yang hamil jadi lebih rentan.

6. Kecanduan alkohol atau narkoba

Kalau anak tetap di rumah, ia mungkin merasa tidak bebas untuk menyalahgunakan minuman beralkohol dan narkoba. Maka, entah karena tekanan dari lingkungan atau dorongan dari diri sendiri, anak pun memutuskan kabur dari rumah. Ia akan jadi lebih leluasa untuk memenuhi kehausan akan gaya hidup tak sehat itu kalau berada jauh dari rumah.

7. Dijebak atau dipaksa orang lain

Di era media sosial ini, sudah banyak kasus di mana anak dan remaja dijebak oleh orang jahat untuk minggat dari rumah. Anak yang terjebak tipu daya penjahat mungkin saja menjadi korban perdagangan anak. Bisa juga anak melarikan diri supaya bisa bersama pasangannya yang tidak direstui orangtua.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Running Away Part I: Why Kids Do It and How to Stop Them. https://www.empoweringparents.com/article/running-away-part-i-why-kids-do-it-and-how-to-stop-them/ Diakses pada 5 Juli 2017.

Reasons Why Teenagers Run Away. http://www.livestrong.com/article/559895-reasons-why-teenagers-run-away/ Diakses pada 5 Juli 2017.

Why do teens run away? https://www.girlshealth.gov/feelings/runaway/#teens Diakses pada 5 Juli 2017.

Teenagers: Why Do They Rebel? http://www.webmd.com/parenting/features/teenagers-why-do-they-rebel#1 Diakses pada 5 Juli 2017.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Irene Anindyaputri
Tanggal diperbarui 12/07/2017
x