Orangtua Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Remaja menjadi fase peralihan yang membuat anak memiliki keingintahuan yang sangat besar. Di usia ini, banyak remaja berani mencoba-coba banyak hal dari yang positif sampai negatif. Oleh karenanya kenakalan remaja nampaknya menjadi sesuatu yang lumrah terjadi tetapi sebenarnya tak boleh dibiarkan. Lantas, apa saja kenakalan yang sering dilakukan remaja dan apa yang harus orangtua lakukan?

Mengapa kenakalan remaja terjadi?

Berikut beberapa hal yang menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan remaja:

Memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, masing-masing anak akan melalui tahap perkembangan remaja. Ini merupakan fase transisi dari anak-anak sebelum ia menjalani fase menjadi dewasa.

Di fase ini, anak cenderung mempunyai rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Oleh karenanya, banyak hal yang ia ingin coba untuk pertama kali dalam hidupnya.

Mengalami krisis identitas

Dikutip dari laman Pusat Penyuluhan Sosial dari Kementerian Sosial, di fase ini pula remaja kerap mengalami krisis identitas.

Krisis pada diri ini ditandai dengan perkembangan emosi remaja yang tidak stabil juga mudah dipengaruhi oleh orang lain, terutama teman terdekatnya.

Di fase ini, anak cenderung mencoba-coba banyak hal yang sekiranya cocok untuknya dan membuatnya merasa lebih baik.

Sebagai contoh, ia merasa dengan merokok semua beban pikirannya hilang dan merasa lebih keren.

Dari coba-coba itulah lama-lama akhirnya bisa menjadi kebiasaan yang akan terbawa sampai dewasa nanti.

Stres

Pertengkaran orangtua, cekcok dengan pacar, atau masalah lain yang membuatnya stres bisa memicu anak terjerumus dalam kenakalan remaja.

Ketika ia merasa stres dan tidak diperhatikan bahkan oleh orangtuanya sendiri, saat itupula ia merasa perlu melampiaskan stresnya pada hal lain.

Hal inilah yang kemudian membuat anak terjerumus dalam kenakalan remaja.

Oleh karenanya, remaja merupakan fase di mana anak sebenarnya butuh dibimbing, bukan dibiarkan karena dianggap sudah besar.

Pembuktian harga diri

Selain itu, ego dan harga diri kerap menjadi alasan mengapa anak remaja akhirnya terjerumus pada hal-hal negatif.

Sebagai contoh, ketika teman-temannya merokok dan minum alkohol, kemudian anak Anda ditawari tetapi ia menolak.

Kemudian teman-temannya mengatakan bahwa “Ah payah, ga keren dan ga laki banget sih”.

Ketika anak mendengar ucapan tersebut, ego dan harga dirinya merasa tercoreng, akhirnya ia mau mencoba rokok dan alkohol untuk membuktikan bahwa ucapan itu tidak benar.

Kombinasi semua hal inilah yang akhirnya bisa menjerumuskan anak ke dalam kenakalan remaja.

Macam-macam kenakalan yang dilakukan remaja

Perilaku kenakalan remaja yang melanggar norma di Indonesia bukan lagi menjadi hal yang tabu.

Hal ini bisa terjadi karena lingkungan sekitar,pergaulan, kemajuan teknologi, sampai masalah ekonomi yang terjadi pada keluarga.

Tidak hanya itu saja, di masa remaja otak pun belum berkembang secara penuh sehingga ada kalanya melakukan hal impulsif serta pengambilan keputusan yang buruk.

Berikut apa saja hal yang tergolong ke dalam kenakalan remaja, yaitu:

1. Narkoba

Penyalahgunaan narkotika sudah bukan lagi fenomena baru di kalangan anak sekolah. Tampaknya, salah satu kenakalan remaja ini lebih menyebar luas daripada yang mungkin para ahli dan orangtua curigai.

Ada bukti statistik bahwa kontak pertama anak dengan narkoba umumnya dimulai saat kelas 6 sampai 8 (usia 12-14 tahun).

Alasan remaja menggunakan narkoba bisa beragam. Misalnya, menggunakannya untuk merasakan pengalaman yang sama dengan teman-temannya dan coba-coba hingga benar-benar terjerumus.

Selain itu juga ada yang menggunakan steroid untuk meningkatkan penampilan atau kekuatan atletiknya. Ada juga yang menggunakan ekstasi untuk menghilangkan rasa cemasnya dalam situasi sosial tertentu.

Lalu, ada pula remaja yang menyalahgunakan obat resep untuk penderita ADHD, seperti Adderall, untuk membantu mereka belajar atau menurunkan berat badan.

Penggunaan narkoba pada usia remaja dapat mengganggu fungsi otak. Akibatnya, seseorang akan kehilangan motivasi, mengalami gangguan ingatan, kesulitan dalam belajar, mengambil keputusan, dan mengendalikan kebiasaan.

Hal ini juga berkaitan dengan efek kecanduan yang dikutip dari Medline Plus, bahwa orang yang mencoba-coba narkoba pada usia muda memiliki kesempatan lebih tinggi mengidap kecanduan di kemudian hari.

Inilah sebabnya mengapa penting untuk melihat tanda-tanda dari penyalahgunaan zat pada remaja dan dewasa muda awal. Kebanyakan individu mulai menyalahgunakan setidaknya satu substansi sebelum menjadi pecandu.

Tanda-tanda remaja mulai menggunakan narkoba

Ada beberapa tanda-tanda atau ciri-ciri pengguna narkoba, yaitu:

  • Perubahan secara tiba-tiba atau ekstrem dalam berteman, pola makan, jam tidur yang tidak teratur, serta penampilan fisik.
  • Bekas suntikan atau jeratan di lengan atau kaki (bisa disembunyikan dengan memakai lengan panjang di hari yang sangat panas).
  • Mata kemerahan, sering sakit, keringat berlebih, bau aneh dari tubuh, tremor, sering mimisan, dan perubahan fisik lainnya.
  • Menjadi tidak bertanggung jawab, memiliki penilaian yang buruk, dan secara umum kehilangan minat.
  • Melawan peraturan atau menjauhi keluarga.
  • Di kamar terdapat kotak obat atau perlengkapan obat-obatan, meskipun anak tidak sakit.
  • Anda mengalami kehilangan uang, barang berharga, dan anak sering meminta uang dengan paksa padahal sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.
  • Menutup diri, berdiam diri, mengisolasi, terlibat dalam aktivitas mencurigakan.
  • Memaksa untuk mendapatkan privasi lebih, mengunci pintu, dan menghindari kontak mata.
  • Membolos, nilai rapor menurun, dan sering bermasalah di sekolah.

Bagaimana cara bijak bertanya pada anak?

Jika Anda mencurigai adanya perubahan yang terkait dengan kenakalan remaja seperti penyalahgunaan narkoba, jangan takut untuk mengajukan pertanyaan.

Beberapa pertanyaan yang bisa Anda tanyakan adalah:

  • “Kakak, belakangan kamu kok kayanya gak fokus dan keliahatan lebih kurus, Kakak ada masalah?”
  • “Kakak, kalo kakak mau jujur Ibu gak akan marah. Ibu pernah lihat ada jarum suntik di kamar adek, itu untuk apa ya?”

Putuskan di awal, bagaimana menanggapi jawaban “ya”. Pastikan Anda meyakinkan anak bahwa Anda akan menjaganya dan ingin yang terbaik untuk hidupnya.

Tentu saja, tidak semua remaja akan mengakui penyalahgunaan narkoba yang ia lakukan.

Namun jika Anda memiliki bukti dan menunjukkannya pada anak perlahan ia akan mengikutinya.

Itu sebabnya para ahli sangat menyarankan Anda mempertimbangkan penilaian profesional terhadap kondisi anak dengan dokter anak atau psikolog untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Bekerja sama dengan orang-orang profesional untuk membantu remaja adalah cara terbaik untuk memastikan ia memiliki masa depan yang sehat.

2. Kecanduan alkohol

Berawal dari rasa penasaran serta dijadikan hal yang lumrah, maka anak remaja pun juga akan mulai mencoba minum alkohol.

Apabila diminum dalam takaran yang kecil, alkohol dapat membuat tubuh menjadi lebih santai.

Namun, efek yang bisa diberikan alkohol adalah mabuk, keracunan, hingga memengaruhi organ serta sistem di dalam tubuh.

Penelitian dalam Consequences of Underage Drinking menunjukkan bahwa orang yang mulai minum alkohol di usia dini akan mempunyai masalah di kemudian hari.

Apalagi, di masa perkembangan remaja merupakan masa perkembangan di area otak anak.

Anda juga harus berhati-hati karena salah satu kenakalan remaja ini juga dapat mengganggu perubahan perkembangan hormon di masa puber baik untuk remaja perempuan atau laki-laki.

Untuk mencegah anak minum di luar pengawasan, Anda juga wajib memberikan pendidikan seputar bahaya alkohol serta mengajari cara menolak ajakan teman sebayanya untuk minum minuman keras.

3. Merokok

Merokok juga bisa dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Berdasarkan data dari Kesehatan Kementerian RI, hampir 80% dari total perokok di Indonesia mulai merokok ketika usianya belum mencapai 19 tahun.

Kelompok usia yang paling banyak merokok di Indonesia adalah usia 15-19 tahun. Sementara di urutan kedua adalah kelompok usia 10-14 tahun.

Menurut WHO, Indonesia adalah negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India.

Remaja yang merokok memiliki status kesehatan yang buruk dibandingkan dengan remaja yang tidak merokok.

Akibat yang paling sering dialami oleh para perokok muda ini adalah sakit kepala dan sakit punggung.

Hal lainnya yang perlu diketahui orangtua adalah ketika anak sudah mulai merokok, maka akan sulit untuk dihentikan.

Namun, hal ini berlaku ketika anak sudah mulai kecanduan. Pasalnya tubuh dan juga pikiran dengan cepat beradaptasi dengan kandungan nikotin

4. Seks bebas

Seks bebas menjadi salah satu kenakalan remaja yang kasusnya terus bertambah. Padahal dulu, seks adalah hal yang tabu dilakukan sebelum nikah.

Namun, seiring dengan pergerseran zaman, seks sebelum nikah bahkan dianggap sebagai salah satu gaya hidup para remaja.

Oleh karena itu, memberikan pendidikan seksual pada anak menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh orangtua sedari dini.

Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya seks bebas dan hamil di luar nikah.

Berikan pemahaman bahwa  melakukan seks bebas berakibat fatal pada kehidupannya kelak.

Sampaikan juga padanya bahwa seks di luar nikah apalagi berganti-ganti pasangan bisa membuatnya terkena penyakit kelamin.

Katakan padanya bahwa Anda tidak melarang anak untuk dekat dengan lawan jenis tetapi tetap harus tahu batasan dan bertanggung jawab.

5. Kabur dari rumah

Saat mempunyai masalah yang cukup berat, ada sebagian remaja yang mencari jalan keluar dengan kabur dari rumah.

Biasanya cara ini dilakukan jika ia merasa muak dengan kondiri rumah entah itu pertengkaran orangtua yang selalu terjadi atau merasa tidak diperhatikan.

Agar hal ini tidak terjadi pada anak Anda, cobalah untuk membuat suasana rumah nyaman untuk ditinggali.

Tips melindungi anak dari kenakalan remaja

Jika Anda tak cepat-cepat mengambil langkah bijak, bukan tidak mungkin anak ikut terseret arus kenakalan remaja yang semakin mengkhawatirkan.

Berikut beberapa hal yang perlu Anda lakukan sebagai bentuk pencegahan kenakalan remaja:

1. Ajak anak diskusi

Anda bisa memancing obrolan dari topik yang paling sederhana. Misalnya, menanyakan apa saja aktivitas anak di sekolah dan bagaimana anak biasanya bergaul dengan teman-temannya.

Setelah itu, barulah Anda giring obrolan ke topik utama.

Jelaskan pada anak apa itu kenakalan remaja secara umum, apa saja hal-hal yang masuk ke dalam tindakan tersebut, dan apa bahayanya jika ia masuk dalam lingkaran tersebut.

2. Beri pendidikan seksual

Anak remaja punya rasa penasaran yang tinggi tentang seks dan seksualitas. Ini adalah bagian alami dari proses tumbuh kembangnya.

Namun, jika rasa penasaran ini tidak didampingi oleh pengetahuan mumpuni, penyalurannya bisa keliru.

Oleh karena itu, oendidikan seksual adalah salah satu pelajaran penting dalam mendidik remaja.

Pendidikan seksual bukan hanyalah mengenai hubungan seks semata. Anda dapat mulai dengan menjelaskan misalnya mengenai perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan secara umum serta perubahan tubuh ketika puber.

Ya, pendidikan seksual bukan hanya menjaga anak remaja dari pergaulan bebas akibat ingin “coba-coba” karena penasaran.

Pendidikan seksual dini juga dapat melindungi anak Anda dari bahaya pelecehan seksual oleh orang-orang sekitarnya.

3. Terapkan aturan yang tegas di rumah

Menerapkan aturan tegas di rumah merupakan cara jitu yang bisa dilakukan orangtua untuk menghindari pergaulan bebas pada remaja.

Beberapa aturan yang perlu ditegakkan misalnya soal jam pulang malam.

Sampaikan pada setiap anak, baik itu laki-laki maupun perempuan, tidak boleh pulang larut malam.

Mintalah anak-anak untuk sampai di rumah setidaknya pada pukul 8 malam. Kecuali jika memang ada urusan lain dengan alasan yang kuat.

4. Kenali setiap teman-teman anak Anda

Dalam banyak kasus, perilaku anak remaja tercermin dari lingkungan perteman mereka sehari-hari. Maka dari itu, pastikan Anda mengenali teman-temannya dengan baik.

Mengetahui lingkaran perteman anak juga memungkinkan Anda untuk mengenal orangtua anak-anak lain.

Alhasil, Anda juga bisa bertukar pikiran dan informasi tentang tips mendidik anak dengan orangtua lainnya.

5. Pantau aktivitas anak

Usahakan Anda selalu memantau dan mengawasi kegiatan untuk menghindari kenakalan pada remaja.

Berikan pemahaman bahwa apa yang Anda lakukan ini bukan sebagai bentuk kekangan, tapi pengawasan.

Salah satu bentuk pantauan misalnya selalu bertanya kemana ia pergi dan bersama siapa.

Katakan pada anak bahwa sebagai orangtua Anda hanya khawatir dan ini adalah cara Anda untuk tetap bisa menjaganya meski berjauhan.

6. Dukung anak melakukan hobi yang ia sukai

Masa remaja adalah masa anak sedang aktif-aktifnya mencoba berbagai kegiatan. Apa pun kegiatan yang dipilih anak selama tergolong positif, dukunglah.

Intinya, alihkan perhatian anak dari kenakalan remaja melalui berbagai aktivitas positif yang ia sukai.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penjelasan Lengkap Imunisasi, Mulai dari Pengertian, Manfaat, Sampai Jenisnya

Imunisasi penting untuk mencegah si kecil terkena penyakit berbahaya di kemudian hari. Untuk lebih jelasnya, berikut semua hal yang perlu diketahui.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Apa Penyebab Anak dan Tantrum dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tantrum pada anak bisa terjadi kapan pun di manapun, termasuk di tempat umum. Berikut cara untuk mengatasi dan mencegahnya di kemudian hari,

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 2 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Bullying bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak Anda. Kenali tanda saat anak menjadi korban bullying dalam ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Perkembangan Anak Usia 17 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

Di perkembangan usia 17 tahun, anak cenderung lebih mandiri dalam hal apa pun. Lantas, apa yang harus orangtua lakukan untuk mengarahkannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 30 September 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
menghadapi anak masturbasi

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
cara membersihkan badan bayi

Cara Membersihkan Badan Bayi dari Kepala, Tali Pusat, Sampai Organ Intim

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 5 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
cara bedong bayi

Bedong Bayi: Ketahui Manfaat dan Cara Memakaikan yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 3 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit