Periode Perkembangan

Bayi Lahir Prematur, Orangtua Harus Waspadai 4 Gangguan Otak Ini

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Kelahiran bayi adalah suatu momen yang ditunggu-tunggu keluarga. Tentu, semua orangtua ingin anaknya lahir dengan sehat. Namun ada beberapa hal yang bisa membuat sang buah hati lahir lebih dulu sebelum jadwal yang telah ditentukan atau lahir prematur. Bayi yang lahir prematur tentu bisa tumbuh dengan sehat jika memang mendapatkan penanganan yang tepat. Meski begitu, tetap saja ada banyak risiko kesehatan yang dialami sang bayi lahir prematur, salah satunya gangguan otak.

Apa itu bayi lahir prematur?

Bayi lahir prematur adalah ketika bayi tersebut lahir sebelum 37 minggu kehamilan. Beberapa bayi yang lahir mendekati 37 minggu mungkin tidak terlihat memiliki efek samping, tapi beberapa bayi yang prematur dapat menunjukan gejala dan gangguan terkait dengan kematangan organ tubuh mereka.

Minggu demi minggu, fungsi organ tubuh bayi akan semakin matang di rahim ibu. Jika bayi tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang sepenuhnya dalam rahim, maka kemungkinannya mereka bisa mengalami beberapa gangguan pada organ tubuhnya, termasuk gangguan perkembangan pada otak mereka.

Gangguan perkembangan otak yang sering terjadi pada bayi lahir prematur

1. Interventricular Hemorrhage (IVH)

Menurut Lucille Packard Children’s Hospital, sebuah rumah sakit di Stanford University, IVH seringnya terjadi pada bayi prematur yang memiliki berat badan kurang dari 1,3-2,2 kg berat badan lahirnya.

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah vena di otak bayi prematur pecah. Ini menimbulkan genangan darah di otak yang dapat merusak sel-sel saraf. Kondisi ini seringnya terjadi diikuti dengan gangguan pernapasan.

Gejala yang ditimbulkan adalah:

  • Anemia
  • Suara tangisan bernada sangat tinggi
  • Mengalami apnea (periode berhenti bernapas)
  • Kejang
  • Lemah saat mengisap susu
  • Denyut jantung rendah

Untuk mendiagnosis dokter melakukan pemeriksaan ultrasound kepala untuk membantu menentukan berapa banyak pendarahan yang ada di kepala bayi. Semakin tinggi nilainya, maka semakin besar kerusakan pada otak bayi yang akan terjadi.

2. Periventricular Leukomalacia (PVL)

Periventricular leukomalacia adalah komplikasi paling umum kedua yang melibatkan sistem saraf pada otak bayi prematur. PVL merupakan kondisi rusaknya saraf pada otak bayi yang berfungsi untuk mengatur pergerakan, bagian otak yang terlibat bernama substansi putih. Gejala yang dapat ditimbulkan akibat gangguan otak ini:

  • Otot bayi menjadi kejang
  • Otot melemah
  • Otot menegang
  • Disertai dengan IVH

Masih belum diketahui penyebab PVL, tapi area substansi putih otak ini  memang lebih rentan mengalami kerusakan. Bayi dengan kondisi ini akan meningkatkan risiko terjadinya serebral palsi dan gangguan perkembangan. Selain itu kondisi ini bisa disertai dengan IVH. Bayi yang rentan mengalami PVL adalah bayi yang:

  • Lahir sebelum 30 minggu
  • Ibunya mengalami ketuban pecah dini
  • Ibunya didiagnosis dengan infeksi di dalam rahim

3. Cerebral Palsy

Bayi prematur dan memiliki berat badan lahir rendah memiliki keterkaitan erat dengan cerebral palsy. Cerebral palsy adalah kondisi terjadinya cedera otak atau malformasi otak yang terjadi saat masa perkembangan otak sebelum, selama, atau setelah lahir.

Kondisi cedera atau malformasi otak itu bisa terjadi karena ada berbagai hal saat pembentukan saraf otak yang terganggu. Akibatnya cerebral palsy membuat pergerakan anak berbeda dari anak lainnya, mulai dari bagaimana tubuh mengontrol pergerakan otot, koordinasi otot, kontraksi otot, keseimbangan tubuh, dan postur tubuhnya.

Dokter tidak mengetahui penyebab pasti cerebral palsy, namun semakin dini atau semakin prematur usia bayi lahir, maka semakin besar risikonya mengalami cerebral palsy.

4. Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah kondisi di mana terjadinya akumulasi cairan dalam otak. Penumpukan cairan menimbulkan perbesaran bagian ventrikel otak, sehingga, tekanan jaringan otak pun ikut meningkat. Kondisi inilah yang menyebabkan bentuk kepala anak dengan hidrosefalus akan terlihat membesar.

Dilansir dalam laman Hydrocephalus Association, bayi yang lahir prematur memiliki risiko lebih besar mengalami hidrosefalus, baik akibat komplikasi IVH lalu mengalami hidrosefalus, atau memang mengalami hidrosefalus langsung.

Belum diketahui penyebab pasti terjadinya hidrosefalus ini. Dokter akan mendiagnosa hidrosefalus dengan MRI, CT scan atau Cranial ultrasound. Selanjutnya, perawatan hidrosefalus akan dilakukan dengan memasukan alat yang dapat membantu memindahkan cairan ekstra dari otak ke bagian lain dari tubuh.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca