Kurang Gizi Pada Bayi Tidak Boleh Disepelekan, Berikut Hal yang Perlu Diketahui

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Memerhatikan kebutuhan gizi bayi setiap harinya terpenuhi dengan baik merupakan hal penting guna mendukung agar tumbuh kembangnya senantiasa optimal. Jika asupan nutrisi harian bayi bermasalah atau bahkan kurang, hal ini dapat berisiko membuatnya mengalami kurang gizi.

Kurang gizi pada bayi bukanlah hal sepele yang bisa dikesampingkan. Lantas, apa saja yang perlu diketahui orangtua terkait masalah kurang gizi yang dialami bayi?

Apa penyebab kurang gizi pada bayi?

Bayi kurang gizi dipengaruhi oleh kondisi kekurangan gizi dalam jangka panjang, bukan hal yang bisa terjadi dalam waktu singkat.

Kurang gizi yang terjadi pada si kecil bisa disebabkan oleh kurangnya asupan kalori, protein, maupun zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral.

Berdasarkan badan kesehatan dunia WHO, masalah kurang gizi yang terjadi pada bayi bisa meliputi wasting, stunting, berat badan rendah, hingga kekurangan atau defisiensi vitamin dan mineral.

Gizi kurang membuat perawakan bayi Anda terlihat kurus. Bahkan, kekurangan gizi berisiko membuat si kecil lebih rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya yang lemah.

Jika tidak ditangani dengan tepat, lama-lama anak dengan gizi kurang bisa berganti statusnya menjadi gizi buruk yang lebih parah lagi.

Bayi yang kekurangan gizi juga perlu ditangani segera karena dapat berpengaruh pada pertumbuhan fisik dan otak ke depannya.

Apa saja gejala saat bayi kurang gizi?

Bayi yang mengalami kekurangan gizi biasanya akan menunjukkan beberapa tanda fisik. Melansir dari laman NHS, gejala yang tampak saat bayi kekurangan gizi, yaitu:

  • Pertumbuhan bayi tidak berjalan seperti yang seharusnya, misalnya berat badan tidak kunjung bertambah
  • Bayi mengalami perubahan perilaku, misalnya merasa gelisah dan sering rewel
  • Mudah merasa lelah karena persediaan energi kurang optimal ketimbang bayi seusianya

Kabar kurang baiknya, selain dapat dapat menimbulkan masalah kesehatan fisik yang cukup parah, kekurangan gizi pada bayi juga berisiko mengancam nyawa si kecil.

Penting juga untuk diketahui bahwa ada kekurangan gizi bisa dibagi menjadi dua, yakni kurang gizi sedang (moderate malnutrition) dan kurang gizi akut (severe acute malnutrition).

Jika kurang gizi sedang pada bayi dibiarkan dalam waktu lama, kondisi ini bisa saja berkembang menjadi kekurangan gizi akut.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan kekurangan gizi sedang tersebut bisa menimbulkan wasting maupun stunting dalam bentuk yang lebih parah.

Apa dampak dari kurang gizi pada bayi?

Kurang gizi bukanlah keadaan yang akut, misalnya sekali tidak makan lalu langsung mengalami masalah ini. Seperti yang sempat disebutkan di awal, kekurangan gizi merupakan kondisi yang sudah berlangsung cukup lama.

Lebih rincinya, kondisi ini terjadi karena asupan nutrisi bayi tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi hariannya. Kekurangan gizi, terlebih pada bayi sejak usia dini, dapat membawa dampak bagi tumbuh kembangnya kelak.

Mengutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sejak baru lahir sampai sekitar usia dua tahun, perkembangan otak dan tubuh bayi berjalan sangat pesat.

Seiring dengan bertambahnya usia, umumnya komposisi tubuh bayi juga akan ikut mengalami perubahan.

Kekurangan asupan zat gizi yang terjadi di rentang usia 0-2 tahun akan berdampak pada kualitas hidup bayi, baik untuk jangka pendek maupun panjang.

Ambil contohnya stunting, yang termasuk salah satu masalah kurang gizi, bisa memengaruhi perkembangan otak jangka panjang.

Lama-kelamaan, terhambatnya perkembangan otak bayi berisiko mengganggu perkembangan kemampuan kognitifinya di masa dewasa.

Bagaimana penanganan gizi kurang pada bayi?

Penanganan untuk anak bayi kurang gizi (kurus) biasanya dibedakan sesuai dengan usianya. Jika usia si kecil sekarang masih kurang dari enam bulan tentu akan berbeda dengan usia bayi yang sudah lebih dari itu.

Biasanya, bila usia bayi sudah di atas enam bulan, prinsip penanganan untuk kondisi kekurangan gizi mirip seperti anak-anak pada umumnya.

Bayi di bawah 6 bulan

Bagi bayi yang di bawah enam bulan dan termasuk dalam kategori kurang gizi (kurus), pada dasarnya tidak ada penambahan makanan lainnya.

Penanganan yang diberikan harus fokus pada ASI karena usia ini masih dalam masa pemberian ASI eksklusif.

Pemberian ASI dilakukan sebaiknya lebih sering dari biasanya dan hindari langsung memberikan susu formula untuk mengatasi masalah ini.

Penambahan susu formula pada bayi hanya dilakukan pada masalah tertentu dengan pengawasan dokter atau ahli gizi. Jika tidak memiliki masalah kesehatan lain, bayi sebaiknya tetap diberikan ASI secara eksklusif.

Sembari memberikan ASI lebih rutin, jaga kebersihan lingkungan sekitar bayi untuk menghindari terjadinya infeksi.

Sebab semakin bayi mengalami kekurangan gizi, akan semakin tinggi pula risikonya untuk mengalami infeksi. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan dan orang-orang yang berada di sekitar bayi sangat perlu dijaga.

Akan tetapi, penanganan bayi berusia di bawah enam bulan dengan kondisi kekurangan gizi akut atau berat sama dengan bayi dengan kondisi yang sama tetapi berusia lebih dari enam bulan.

Di samping menyusui secara efektif, bayi di bawah enam bulan yang mengalami kurang gizi akut (severe acute malnutrition) sebaiknya diberikan makanan tambahan.

Hal ini harus terus dilakukan sampai berat badan bayi mengalami kenaikan sesuai dengan standar normal seusianya.

Jangan lupa juga untuk selalu membawa bayi ke Posyandu, Puskesmas, dokter, atau pelayanan kesehatan terdekat secara berkala dan rutin. Hal ini diperlukan untuk memantau perubahan kondisi status gizi anak.

Bayi di atas 6 bulan

Bayi di atas enam bulan disarankan untuk secara bertahap meningkatkan asupan energi, protein, karbohidrat, cairan, vitamin, serta mineralnya guna mengatasi kurang gizi.

Tujuannya adalah untuk menambah berat badannya dan memperkuat sistem imunnya agar bayi tersebut tidak berisiko semakin tinggi mengalami infeksi.

Selain perubahan pola makan, ada perawatan lain yang diperlukan untuk meningkatkan status gizi bayi, yakni:

  • Dukungan emosional dari keluarga
  • Pengobatan tertentu jika ada yang terkait dengan penyebab kenapa anak tersebut menjadi kurus
  • Pemberian vitamin dan mineral khusus

Setelah bayi cukup sehat, berat badannya sudah mulai meningkat, dan memenuhi standarnya diharapkan dapat mempertahankan pola makan sesuai dengan kebutuhan harian.

Mintalah bantuan dari dokter anak atau ahli gizi anak untuk merancang pola makan beserta porsi harian yang tepat bagi kondisi si kecil.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kurang gizi?

Sebelum buah hati kesayangan Anda benar-benar mengalami kekurangan gizi, ada baiknya untuk mencegahnya sejak jauh-jauh hari.

Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) menyarankan pencegahan gizi kurang pada bayi dilakukan dengan memberikan asupan nutrisi yang tepat dari makanan dan minuman harian.

Pemberian asupan nutrisi dari makanan dan minuman ini harus dilakukan dengan teratur selama 1000 hari pertama kehidupan bayi.

Dengan kata lain, jika memungkinkan ASI diberikan secara eksklusif alias selama enam bulan penuh. Begitu pula dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) setelah usia bayi enam bulan yang tetap dilakukan bersama ASI.

ASI yang diteruskan setelah bayi berusia enam bulan ini sebaiknya dimaksimalkan hingga usia bayi genap dua tahun.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 10, 2018 | Terakhir Diedit: Maret 12, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca