Menghadapi Balita yang Memilih-milih Makanan

Oleh

Balita yang hampir selalu menolak untuk mencoba makanan baru bisa disebut “pemilih” atau sering juga disebut picky eater. Sekitar setengah dari semua balita kurang lebih memiliki sifat seperti ini, jadi tidak heran bila masalah makanan adalah sumber stres bagi orangtua.

Membuat pola makan yang sehat itu penting untuk mencegah masalah seperti obesitas dan gangguan pola makan nantinya. Berbagai strategi dapat membantu anak menerima makanan yang lebih beragam.

Jangan menunda pengenalan makanan semi padat

Para peneliti di Bristol University di Inggris telah menemukan bahwa menunda pengenalan bayi pada makanan semi padat dapat berkontribusi dalam kebiasaan memilih-milih makanan. Makanan semi padat adalah makanan yang ‘kental’ seperti potongan kecil dari sayuran matang yang lembut atau makanan yang dihancurkan dengan garpu. Penelitian difokuskan pada sekelompok bayi yang tidak diberikan makanan semi padat hingga mereka berusia 10 bulan atau lebih tua.

Penelitian menemukan bahwa 1 dari 5 bayi menjadi pemilih-milih makanan saat menginjak usia 15 bulan. Dibandingkan dengan bayi yang diperkenalkan pada makanan semi padat antara usia enam hingga sembilan bulan, pemilih-milih makanan dua kali lipat cenderung hanya mau makan makanan tertentu saja, dan cenderung akan memakan makanan bayi sampai dengan setelah usia satu tahun.

Penelitian ini menemukan bahwa memberikan bayi Anda beragam makanan semi padat atau kenyal antara usia enam dan sembilan bulan akan memperluas apresiasi mereka akan makanan dan mengurangi kemungkinan mereka tumbuh menjadi pemilih makanan nantinya.

Orangtua juga dapat menjadi “picky

Anak-anak mempelajari perilaku orangtuanya. Penelitian menemukan bahwa 27 persen balita adalah pemilih-milih makanan dan 22 persen dari mereka memiliki orangtua yang mengakui bahwa mereka juga pemilih-milih makanan.

Apabila Anda membatasi diri Anda untuk makan makanan yang kurang beragam, anak Anda akan melihat dan meniru perilaku Anda. Jangan membatasi keragaman makanan anak Anda dengan makan-makanan pilihan Anda saja. Mungkin selera anak Anda berbeda dari Anda dan Anda hanya menyajikan makanan yang mereka tidak suka.

Makanan dan pertumbuhan

Sepertiga dari orangtua khawatir anak mereka tidak cukup makan. Kecuali bila mereka sakit, anak-anak tidak akan dengan sengaja mogok makan.

Apabila anak Anda terlihat sehat dan enerjik, mereka sudah cukup makan. Apabila Anda masih khawatir, awasi berapa banyak makanan yang mereka makan dalam sehari. Anak-anak cenderung sering mengemil, dibandingkan makan tiga kali sehari seperti orang dewasa. Anda mungkin akan kaget seberapa banyak makanan ringan yang mereka makan. Untuk kepastian lebih lanjut, periksa grafik pertumbuhan dan berat badan atau konsultasikanlah pada dokter atau bidan anak Anda. Ingatlah bahwa tingkat pertumbuhan anak Anda semakin melambat, jadi asupan dapat dikurangi.

Tetaplah tenang, ini cara mengatasinya

Orangtua yang merasa khawatir mengenai kebiasaan makan anak mereka mungkin akan mencoba untuk memaksa atau membujuk anak mereka untuk makan. Apabila anak Anda tetap menolak, waktu makan dapat menjadi menjadi sumber stres. Jangan biarkan makanan menjadi ajang adu keras kepala.

Saran-saran termasuk di bawah ini:

  • Jangan menunda mengenalkan makanan semi padat.
  • Ingatlah bahwa anak Anda tidak akan melaparkan diri sendiri dengan sengaja. Anak-anak sangat baik dalam mengetahui sinyal lapar dan kenyang mereka.
  • Tetap tenang dan jangan membuat keributan saat anak Anda tidak mau makan. Baiknya Anda berkonsentrasi untuk membuat waktu makan menjadi acara keluarga yang menyenangkan. Apabila mereka mendapat pengalaman yang menyenangkan, anak Anda akan ingin mengulangnya.
  • Tetap realistis dalam mengerahkan usaha untuk membuat makanan anak Anda. Jangan merasa kesal saat mereka menolak untuk makan.
  • Jangan mengancam, mengomel, atau berteriak.
  • Jangan menggunakan permen, coklat, biskuit, susu, atau makanan penutup sebagai sogokan.

Di waktu makan, yang bisa Anda lakukan adalah:

  • Jadilah contoh yang baik. Makan beragam makanan bersama anak Anda.
  • Ajak anak Anda ikut menyiapkan makanan. Mereka cenderung lebih tertarik untuk makan makanan yang mereka bantu persiapkan.
  • Buat kebiasaan rutin untuk makan, seperti selalu menaruh anak di kursi tinggi atau makan pada meja yang sama.
  • Berikan beragam makanan yang berwarna-warni pada piringnya dan biarkan anak Anda untuk memilih sendiri apa yang ingin mereka makan. Sajikan makanan dengan menarik.
  • Dukung anak Anda untuk bereksplorasi dan mencoba makan sendiri sejak dini. Jangan mengkhawatirkan nanti dia membuat berantakan.
  • Berikan makanan alternatif dari tiap kelompok makanan. Misalnya, apabila anak tidak suka keju, berikan yogurt sebagai gantinya.
  • Saat waktu makan sudah habis, ambil piring anak Anda. Apabila mereka belum makan terlalu banyak, berikan makanan ringan sehat beberapa saat kemudian atau tunggu hingga waktu makan berikutnya
  • Dukung anak Anda untuk mencoba makan sendiri. Pastikan Anda menyediakan makanan ringan sehat. Selalu awasi mereka makan untuk menghindari risiko tersedak. Ajarkan mereka untuk makan sambil duduk, tidak sambil berlari-larian

Beradaptasilah pada kebiasaan makan anak Anda

Mungkin masalah ini terjadi karena Anda memaksa anak Anda untuk makan seperti orang dewasa. Saran-saran termasuk:

  • Pertimbangkanlah ukuran perut anak Anda. Terlalu banyak minum susu atau sari buah dapat membuat mereka kenyang.
  • Sajikan makanan dalam porsi anak-anak. Toh, kalau masih lapar, mereka selalu bisa meminta tambahan. Umumnya ini berarti tiga porsi kecl makanan sehari, dengan makanan ringan di sela-selanya.
  • Apabila makan malam keluarga dilakukan terlalu malam, anak Anda mungkin akan terlalu lelah untuk makan. Sajikan makanan mereka lebih cepat.
  • Perhitungkan asupan makanan anak Anda dalam jangka waktu mingguan, bukan harian.
  • Bebaskan anak Anda menentukan apabila mereka sudah merasa kenyang atau belum—hal ini mengajarkan mereka untuk mendengar tubuh mereka.

Faktor lain yang membuat anak Anda kurang tertarik pada makanan termasuk:

  • Penyakit
  • Kelelahan
  • Gejolak emosi

Yang juga perlu Anda baca