4 Masalah Makan yang Paling Umum Dialami Oleh Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Kebutuhan gizi di masa kanak-kanak tidak serta-merta sama dengan orang dewasa. Atas dasar itulah, memastikan anak memperoleh asupan zat gizi yang cukup setiap harinya seolah menjadi ‘PR’ bagi semua orangtua. Terlebih ketika anak punya masalah susah makan. Jangan sampai ini menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan kebutuhan zat gizi harian yang cukup. Mari pahami sederetan masalah makan pada anak yang sering terjadi.

Apa itu masalah makan pada anak?

anak makan berantakan

Mengingat ukuran dan bentuk tubuhnya berbeda, otomatis nutrisi anak dengan orang dewasa tidak bisa disamakan. Bahkan, terkadang ada beberapa zat gizi yang sangat dibutuhkan di masa kanak-kanak tapi tidak pada orang dewasa. Begitu pula sebaliknya.

Sayangnya, tidak semua anak bisa makan dengan tenang, lancar, dan nyaman. Pada beberapa kasus, ada saja masalah makan pada anak yang membuatnya susah dan menolak untuk makan. Ya, masalah makan adalah kondisi yang memengaruhi kemampuan serta kebiasaan makan anak.

Jika hanya terjadi sekali atau dua kali mungkin tidak masalah. Namun, kondisi ini bisa saja berlangsung dalam waktu lama. Bahkan tidak menutup kemungkinan, hal ini akan terus berlanjut sampai anak beranjak dewasa kelak.

Maka itu, sebagai orangtua, penting untuk memantau dan mengenali sedini mungkin ketika anak memiliki masalah yang membuatnya sulit makan dengan nyaman.

Apa saja masalah yang membuat anak susah makan?

Berikut berbagai masalah makan pada anak yang kerap membuatnya jadi lebih susah makan:

1. Nafsu makan anak berubah

gizi buruk

Banyak sedikitnya asupan makanan harian anak biasanya dipengaruhi oleh nafsu makannya. Meski begitu, nafsu makan anak tidak selalu dalam keadaan baik atau prima. Ketika nafsu makannya sedang baik, anak umumnya lebih gampang makan bahkan mau makan dalam porsi banyak.

Sebaliknya, saat nafsu makannya sedang menurun, anak biasanya lebih susah makan dan cenderung pilih-pilih makanan. Penting untuk diketahui, bahwa perubahan nafsu makan anak ini tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan disebabkan oleh beberapa hal.

Berikut berbagai penyebab perubahan nafsu makan anak:

1. Memiliki penyakit tertentu

Mengalami sakit tenggorokan, flu, sakit perut, demam, diare, sembelit, maupun kondisi lainnya bisa memengaruhi asupan makanannya. Anak cenderung lebih susah makan, yang tentu akan menjadi masalah pada pola makannya.

Bukan hanya itu, jumlah atau porsi makanan yang ia makan pun menjadi jauh lebih sedikit ketimbang hari-hari biasanya. Namun, Anda tak perlu khawatir. Setelah sembuh dari penyakitnya, nafsu makan anak berangsur-angsur dapat kembali membaik seperti sedia kala.

2. Stres

Bukan hanya orang dewasa saja yang bisa mengalami stres, tapi anak-anak juga. Hanya saja bedanya, penyebab stres yang dialami anak-anak memang tidak serumit orang dewasa.

Kematian hewan peliharaan, menjadi korban bully di sekolah, dan berbagai hal lainnya bisa membuat pikiran anak terganggu sehingga berujung pada stres. Secara tidak langsung, kondisi inilah yang kemudian memengaruhi nafsu makan anak.

3. Efek samping obat-obatan

Rutin minum obat-obatan tertentu tanpa sadar juga dapat menurunkan nafsu makan anak, sehingga membuatnya susah makan.

4. Mengalami cacingan

Minimnya kesadarakan mengenai kebersihan diri sendiri dan lingkungan merupakan salah satu penyebab cacingan yang biasa terjadi pada anak-anak. Salah satu ciri cacingan yang paling umum yakni hilangnya nafsu makan anak, hingga nantinya bisa membuat berat badannya menurun.

Penanganan perubahan nafsu makan pada anak

Jika masalah makan pada anak membuat nafsu makannya berubah, berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

  • Berikan camilan sehat untuk anak di sela-sela waktu makan utamanya. Misalnya roti isi kacang atau buah-buahan.
  • Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi dalam waktu yang sering.
  • Biarkan anak memilih makanan yang ingin dimakannya. Namun tetap pastikan masih dalam batasan yang sehat.
  • Berikan lebih banyak makanan sumber protein dan lemak di menu harian anak.

2. Alergi makanan

alergi anak atau masalah pencernaan

Alergi makanan adalah suatu kondisi yang ditimbulkan oleh respon sistem kekebalan tubuh setelah makan makanan tertentu. Dengan kata lain, masalah makan pada anak karena alergi, akan membuatnya mengalami berbagai gejala usai makan makanan tersebut.

Di antaranya rasa tidak nyaman seperti gatal di mulut, kulit kemerahan dan gatal, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, sulit bernapas, mual, muntah, hingga diare. Melansir dari laman Mayo Clinic, alergi makanan biasanya dialami oleh sekitar 6-8 persen anak di bawah usia 3 tahun.

Meski begitu, anak-anak di usia berapa pun sebenarnya rentan mengalami alergi makanan. Alergi makanan pada anak bisa terjadi karena tubuh menganggap makanan atau zat yang terkandung di dalamnya sebagai sesuatu yang berbahaya.

Alhasil, sistem kekebalan tubuh kemudian melepaskan suatu pertahanan dalam bentuk antibodi, yang bertugas untuk melawan zat yang dianggap berbahaya tersebut.

Di lain waktu ketika anak makan makanan yang sama tersebut, zat bernama histamin akan dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh dan mengalir dalam darah. Histamin inilah yang nantinya menimbulkan satu atau lebih gejala alergi makanan pada anak.

Penanganan alergi makanan pada anak

Cara paling mudah untuk mengatasi alergi makanan yang dialami anak, yakni dengan menghindari makanan-makanan tertentu penyebab alergi. Jangan lupa, perhatikan juga dengan seksama komposisi bahan di dalam suatu produk makanan sebelum memberikannya pada anak.

Jika gejala yang ditimbulkan dari alergi makanan sudah cukup parah, dokter dapat meresepkan obat-obatan untuk membantu meringankan gejala. Misalnya antihistamin atau epinefrin, tergantung kondisi alergi yang dialami anak.

3. Intoleransi makanan

anak alergi susu sapi

Banyak orang sering tertukar antara alergi makanan dan intoleransi makanan. Padahal, kedua kondisi ini tidaklah sama. Intoleransi makanan adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam mencerna suatu makanan tertentu.

Terlihat bedanya, bahwa intoleransi makanan yang tidak dipicu oleh masalah pada sistem kekebalan tubuh anak. Salah satu intoleransi makanan yang sering terjadi pada anak yakni laktosa di dalam susu. Sama halnya seperti alergi makanan, masalah makan pada anak yang satu ini juga bisa menimbulkan berbagai gejala

Namun, rentang waktu kemunculan gejala intoleransi makanan umumnya lebih lama ketimbang alergi makanan. Beberapa anak mungkin bisa merasakan gejala dalam hitungan jam setelah makan makanan tertentu. Sementara beberapa anak lainnya, bisa mengalami gejala setelah 48 jam kemudian.

Berbagai gejala intoleransi makanan yang paling umum berupa:

  • Diare
  • Mual muntah
  • Sakit perut
  • Perut kembung

Penanganan intoleransi makanan pada anak

Hampir serupa dengan alergi makanan, anak yang memiliki intoleransi terhadap beberapa jenis makanan tertentu juga dianjurkan untuk tidak makan makanan tersebut. Setiap anak merespon dengan cara yang berbeda-beda ketika dihadapkan dengan makanan penyebab intoleransi.

Itu sebabnya, mungkin diperlukan beberapa kali ‘percobaan’ sampai akhirnya ditemukan solusinya. Entah apakah anak benar-benar harus menghindari makanan tersebut, atau hanya boleh memakannya dalam porsi yang sedikit saja.

4. Kebiasaan makan anak

anak makan terus

Kebiasaan makan anak umumnya tercermin dari pola makan hariannya. Misalnya adanya keinginan untuk mencoba berbagai jenis makanan, atau justru sering menolak makanan dan cenderung lebih pilih-pilih. Beruntung jika anak mau makan jenis makanan apa pun, sehingga tidak memiliki masalah susah makan.

Sebaliknya, jangan biarkan begitu saja ketika anak hanya mau menyantap makanan dalam jenis yang sama setiap harinya. Atau ketika anak selalu menolak untuk mencoba makanan baru. Pasalnya, kebiasaan makan anak seperti masalah susah makan yang terbentuk sedari kecil, akan terus terbawa hingga ia dewasa kelak.

Penanganan kebiasaan makan anak

Sebagai orangtua, berikut beberapa tindakan yang bisa Anda lakukan untuk mengubah kebiasaan anak yang buruk:

  • Ajak anggota keluarga untuk mencontohkan makan jenis makanan baru.
  • Berikan makanan yang belum pernah dicoba anak saat ia sedang lapar, tepatnya di awal sebelum memberikan jenis makanan lain yang sudah sering dimakannya.
  • Berikan jenis makanan baru dan makanan favoritnya di saat yang sama.
  • Sajikan jenis makanan baru dalam bentuk yang semenarik mungkin.

Memang, kadang gemas rasanya saat anak hanya mau makanan yang itu-itu saja dan mengabaikan makanan baru yang sudah anak siapkan. Namun dalam hal ini, sebaiknya jangan terlalu memaksa anak untuk langsung mengubah kebiasaan makannya tersebut.

Sebagai gantinya, beri ia semangat dan dorongan lebih disertai dengan contoh yang baik. Dengan begitu, anak jadi lebih tertarik untuk mencoba hal-hal baru terkait kebiasaan makan harian.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca