Memahami Kebutuhan Protein Bayi dan Pilihan Sumbernya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal tayang April 9, 2020
Bagikan sekarang

Memerhatikan asupan nutrisi bayi setiap harinya merupakan salah satu hal utama agar kebutuhan gizi si kecil senantiasa terpenuhi. Dari berbagai zat gizi yang perlu untuk dikonsumsi bayi setiap harinya, satu di antaranya yakni asupan protein. Sebenarnya, apa pentingnya asupan protein dan berapa kebutuhan yang harus dipenuhi bayi?

Kenapa protein untuk bayi itu penting?

kebutuhan protein

Protein termasuk kelompok zat gizi makro selain karbohidrat dan lemak. Sama halnya dengan asupan karbohidrat dan lemak, peran protein di dalam tubuh juga tidak kalah penting untuk si kecil.

Protein diibaratkan sebagai mesin berukuran kecil yang ada di dalam sel. Sementara sel itu sendiri merupakan bagian penyusun tubuh manusia dengan jumlah yang sangat banyak bahkan bisa mencapai 100 triliun.

Masing-masing sel di dalam tubuh memiliki ribuan protein yang berbeda-beda. Kesemua protein ini kemudian mendukung setiap sel untuk melakukan tugasnya sendiri-sendiri.

Pertama, protein membantu menyusun setiap sel di dalam tubuh sehingga baik untuk mendukung tumbuh kembang bayi. Kedua, protein mendukung proses perbaikan jaringan-jaringan di dalam tubuh.

Itulah mengapa asupan protein yang cukup untuk bayi dapat membantu pertumbuhan kulit, tulang, rambut, kuku, bahkan hingga organ tubuh yang mengalami masalah.

Menariknya lagi, kebutuhan protein bayi yang terpenuhi dengan baik bisa melancarkan produksi enzim. Enzim yang dihasilkan dari protein ini nantinya bertindak dalam beragam reaksi biokimia guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Belum berhenti sampai di situ, proten juga terlibat dalam proses produksi beberapa hormon di dalam tubuh seperti hormon pertumbuhan dan hormon adrenalin.

Beberapa fungsi tersebut yang membuat kebutuhan protein untuk bayi sebaiknya dipenuhi secara optimal setiap harinya.

Berapa kebutuhan protein untuk bayi?

menu makanan bayi 8 bulan

Asupan protein memang biasanya didapat dari makanan dan minuman harian. Namun, bayi yang baru lahir sampai usia enam bulan belum diperbolehkan untuk makan makanan padat.

Selama belum berusia enam bulan, asupan makanan dan minuman bayi semuanya diperoleh dari ASI eksklusif.

Melihat pemberiannya yang hanya berupa ASI, mungkin membuat Anda berpikir apakah kebutuhan protein bayi yang baru lahir sampai usia enam bulan bisa tercukupi.

Sebenarnya, Anda tidak perlu khawatir karena ASI mengandung berbagai zat gizi yang penting untuk bayi selama enam bulan, tak terkecuali protein.

Baru saat usia bayi sudah enam bulan dan mulai menunjukkan tanda siap makan, Anda boleh memperkenalkannya dengan makanan pendamping ASI (MPASI). MPASI adalah pemberian makanan padat tetapi dengan masih tetap membiarkan bayi menyusu ASI.

Memperkenalkan bayi dengan MPASI bukan hanya melatihnya untuk belajar makan makanan padat, tetapi juga karena asupan ASI saja sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan gizinya.

Kebutuhan protein untuk bayi setiap usia pun tidak sama. Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan RI, berikut kebutuhan protein untuk bayi yang harus dipenuhi:

  • Bayi usia 0-6 bulan: 12 gram (gr)
  • Bayi usia 7-11 bulan: 18 gr
  • Bayi usia 12-24 bulan: 26 gr

Angka kebutuhan protein untuk bayi tersebut biasanya mencakup dua jenis protein, yakni protein hewani dan protein nabati.

Sesuai dengan namanya, protein hewani adalah jenis protein yang berasal dari hewan sedangkan protein nabati merupakan protein yang bersumber dari tumbuhan.

Apa saja sumber protein untuk bayi?

Perbedaan utama dari protein hewani dan protein nabati yaitu dari jumlah kandungan asam amino di dalamnya. Asam amino adalah suatu kandungan di dalam protein.

Jadi, ketika tubuh mencerna protein di dalam makanan, di saat itulah protein dipecah menjadi asam amino.

Akan tetapi, ketimbang protein hewani, kandungan asam amino yang ada di dalam beberapa makanan sumber protein nabati cenderung tidak begitu lengkap.

Oleh karena itu, ada baiknya untuk mencukupi kebutuhan protein untuk bayi dari berbagai sumber protein hewani dan nabati.

Anda bisa membiasakan bayi untuk menyukai berbagai makanan sumber protein agar kebutuhan gizi hariannya senantiasa tercukupi.

Berikut berbagai pilihan sumber protein untuk membantu memenuhi asupan gizi bayi:

1. Air susu ibu (ASI)

Ibu menyusui batuk dan bayinya

Meski berbentuk air susu, kandungan protein yang ada di dalam ASI untuk bayi tidak boleh Anda sepelekan. Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kandungan protein ASI terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan protein di dalam susu sapi.

Bahkan, komposisi protein di dalam ASI berbeda dengan susu sapi. Jenis protein yang ada baik di dalam ASI maupun susu sapi yaitu protein whey dan casein.

Kandungan protein pada ASI lebih banyak berisi protein whey yang cenderung lebih mudah diserap oleh usus bayi.

Sementara protein yang lebih mendominasi di dalam susu sapi adalah protein casein yang cenderung lebih sulit dicerna oleh usus bayi.

Lebih rincinya, sebanyak 60% protein ASI memiliki jenis whey dan 40% sisanya merupakan protein casein.

Whey bersifat mudah larut di dalam air, sedangkan casein tidak mudah larut bahkan bisa menggumpal saat terkena asam.

Asupan ASI dengan jumlah yang cukup dan jadwal yang sesuai dapat membantu menurunkan risiko infeksi pada bayi berkat kandungan protein whey yang memiliki sifat anti infeksi.

Kualitas protein ASI juga jauh lebih baik dibandingkan dengan susu sapi karena mempunya jenis asam amino yang lebih lengkap.

2. Daging ayam dan sapi

dada ayam dan sapi

Daging ayam dan daging sapi merupakan salah satu makanan sumber protein yang baik untuk si kecil dalam masa pemberian MPASI.

Berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia dari Kementerian Kesehatan RI, dalam 100 gr daging ayam terdapat sekitar 18,2 gr protein.

Sementara untuk 100 gr daging sapi dapat menyumbang 17,5 gr protein yang juga dilengkapi dengan aneka zat gizi lain seperti lemak, zat besi, hingga seng.

Proses pengolahannya pun tidak sulit. Supaya lebih mudah dimakan si kecil, Anda dapat menyajikannya dalam tekstur yang lembut maupun dipotong berukuran kecil. Sesuaikan tekstur makanan dengan usia buah hati Anda saat ini.

3. Makanan laut

obat nyeri sendi minyak ikan

Pilihan asupan protein untuk bayi bisa bersumber dari makanan laut mencakup ikan, cumi-cumi, udang, dan lainnya. Jenis ikan yang bisa Anda berikan untuk si kecil pun beragam.

Jenis ikan nantinya akan menentukan kandungan protein yang ada di dalamnya. Ambil contohnya cumi-cumi yang mengandung sekitar 16,1 gr protein dan ikan cakalang dengan 20,1 gr protein.

Sementara ada lagi ikan bawal dengan kandungan protein sebanyak 19 gr, ikan kakap 20 gr protein, ikan mas 16 gr protein, hingga udang dengan 21 gr protein.

4. Tahu dan tempe

tempe dan tahu

Selain sumber protein hewani, sesekali tidak ada salahnya untuk memberikan makanan sumber protein nabati untuk bayi.

Anda bisa memberikan tahu dan tempe yang sama-sama berasal dari olahan kacang kedelai, entah sebagai menu makanan utama maupun camilan untuk bayi.

Tak kalah dengan daging ayam, daging sapi, bahkan ikan, kandungan protein di dalam tahu yakni sebanyak 10,9 gr. Berbeda lagi dengan tempe yang berisi kurang lebih 14 gr protein di dalamnya.

Di samping memperkaya makanan yang disukai bayi, menyelingi aneka sumber protein juga dapat bertujuan untuk membuatnya tidak mudah bosan sehingga membuatnya susah makan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Menerapkan Jadwal MPASI Usia 6-24 Bulan Beserta Aturannya

Sejak dini bayi sebaiknya punya jadwal MPASI yang teratur. Agar lebih optimal, ortu perlu tahu seperti apa jadwal makan yang tepat untuk bayi.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Nutrisi Anak April 1, 2020

Aneka Macam Resep Makanan Bayi yang Sehat dan Menggugah Selera

Menyajikan menu makanan bayi dalam masa MPASI sebenarnya tidak sulit. Berbekal resep ini, mari buat aneka makanan yang sehat dan lezat untuk bayi yuk, Bu!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Nutrisi Anak April 1, 2020

Bayi Kurang dari 6 Bulan Diberikan Makanan, Boleh atau Tidak, Ya?

Bayi yang belum genap 6 bulan seharusnya masih menyusu ASI. Namun, bolehkah memberikan makanan untuk bayi di bawah 6 bulan?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Nutrisi Anak Maret 30, 2020

Panduan Menyiapkan dan Memberikan Makanan Bayi Sampai Usia 2 Tahun

Pemberian makanan untuk bayi penting guna memenuhi kebutuhan gizi hariannya. Namun, jangan asal, pahami dulu berbagai hal penting seputar makanan si kecil.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Nutrisi Anak Maret 29, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Panduan Seputar Kebutuhan Protein untuk Balita Usia 2-5 Tahun

Panduan Seputar Kebutuhan Protein untuk Balita Usia 2-5 Tahun

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Riska Herliafifah
Tanggal tayang April 10, 2020
Tidak Selalu Buruk, Ini Jumlah Kebutuhan Lemak untuk Bayi yang Harus Dipenuhi

Tidak Selalu Buruk, Ini Jumlah Kebutuhan Lemak untuk Bayi yang Harus Dipenuhi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang April 10, 2020
Agar Lebih Bervariasi, Begini Cara Membuat Menu Makanan Bayi 7 Bulan

Agar Lebih Bervariasi, Begini Cara Membuat Menu Makanan Bayi 7 Bulan

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang April 5, 2020
Ketika Sudah Mulai MPASI, Ini Jadwal Makan Bayi di Bawah Usia 6 Bulan

Ketika Sudah Mulai MPASI, Ini Jadwal Makan Bayi di Bawah Usia 6 Bulan

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang April 4, 2020