Seberapa Penting Kebutuhan Karbohidrat untuk Balita Usia 2-5 Tahun?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 Agustus 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi balita sangat penting untuk tumbuh kembangnya, termasuk asupan karbohidrat. Kandungan makanan yang satu ini merupakan sumber energi yang bisa ditemui dalam berbagai jenis menu dan kudapan. Berikut penjelasan seputar kebutuhan karbohidrat balita, mulai dari jenis karbohidrat, cara tubuh mengolahnya, sampai membatasi konsumsi karbohidrat demi kesehatan anak.

Mengapa karbohidrat penting untuk kebutuhan nutrisi balita?

Karbohidrat termasuk sumber energi utama yang bisa didapatkan dari berbagai jenis makanan. Setidaknya, setiap satu gram karbohidrat, menghasilkan 4 kilokalori (kkal). Untuk balita usia 2-5 tahun, kebutuhan karbohidrat sekitar 55-65 persen dari total kalori. 

Pada dasarnya, karbohidrat menjadi zat gizi utama untuk kebutuhan otak anak. Jadi, tidak bisa menghilangkan makanan berkarbohidrat meski Anda ingin menurunkan berat badan anak karena kegemukan. 

Selain itu, karbohirat juga punya banyak manfaat untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Jenis-jenis karbohidrat yang penting untuk kebutuhan balita

Ada dua jenis karbohidrat yang terkandung di dalam makanan, karbohidrat kompleks dan sederhana. Berikut penjelasannya mengutip Kids Health:

Karbohidrat sederhana

Nama lain dari jenis karbohidrat ini adalah gula. Karbohidrat sederhana bisa Anda temukan di gula putih, buah, susu, madu, sampai permen lolipop.

Meski banyak makanan mengandung karbohidrat sederhana, Anda perlu memilih sesuai dengan kebutuhan gizi balita.

Jadi, pastikan Anda memilih jenis karbohidrat sederhana yang rendah gula. Adapun karbohidrat sederhana rendah gula yaitu buah dan susu yang juga mengandung nutrisi lain, seperti serat dan kalsium. 

Dibanding jenis karbohidrat lain, karbohidrat sederhana paling cepat diserap oleh tubuh karena mudah dicerna. Namun, karbohidrat sederhana juga sangat mudah diubah menjadi gula darah di dalam tubuh. 

Konsumsi karbohidrat yang terlalu banyak pada balita dan orang dewasa sering menjadi sorotan karena bisa memicu diabetes pada anak.

Anda bisa menggantinya dengan pemanis alami dari daun stevia. Ini baik untuk menghindarkan balita dari diabetes atau mengurangi risikonya di usia dewasa kelak.

Karbohidrat kompleks

Karbohidrat kompleks adalah jenis karbohidrat yang cenderung lebih sulit dicerna. Oleh karena itu, karbohidrat kompleks biasanya cenderung lebih sehat karena tidak menaikkan gula darah dengan cepat.

Beberapa makanan yang termasuk karbohidrat kompleks yaitu:

  • Kelompok umbi-umbian (kentang dan ubi)
  • Roti
  • Pasta
  • Jagung
  • Gandum
  • Singkong

Selain mengandung karbohidrat yang bisa melengkapi kebutuhan nutrisi balita, makanan di atas juga mengandung vitamin, mineral, dan serat yang membantu pencernaan.

Selain itu, jenis karbohidrat kompleks juga membuat anak lebih cepat kenyang. Ada dua kelompok karbohidrat kompleks, yaitu:

Pati

Semua makanan pokok mengandung jenis karbohidrat kompleks yang mengandung pati. Makanan yang mengandung pati cenderung lebih lama dicerna tubuh karena memiliki struktur yang rumit dibanding karbohidrat sederhana.

Serat

Jenis makanan yang termasuk karbohidrat kompleks dan mengandung serat adalah sayur dan buah. Jenis karbohidrat ini juga bisa Anda temukan di makanan pokok lain, seperti nasi merah atau roti gandum. 

Mengingat kadar seratnya yang tinggi, makanan yang mengandung karbohidrat komplek satu ini tidak berdampak buruk pada kesehatan gula darah.

Karbohidrat mengandung serat tinggi cocok untuk balita yang memiliki kebutuhan khusus dalam masalah gula darah dan obesitas. 

Bagaimana tubuh mengolah karbohidrat?

Ketika anak Anda mengonsumsi karbohidrat, tubuh akan memecahnya menjadi gula sederhana dan diserap ke dalam aliran darah.

Ketika kadar gula naik, pankreas melepas hormon bernama insulin yang berperan untuk memindahkan gula dari darah ke dalam sel. Gula di sini berguna sebagai sumber energi. 

Proses ini berjalan cepat dan membuat si kecil lebih mudah lapar. Bila Anda memberikan karbohidrat tinggi serat seperti gandum dan kentang untuk balita usia 2-5 tahun, energi anak lebih lama bertahan di dalam tubuh. 

Perlukah balita membatasi konsumsi karbohidrat?

Bagi orang dewasa, diet karbohidrat cukup familiar untuk mengurangi kadar gula dalam darah. Namun, perlukah balita melakukan hal yang sama? Sebenarnya tidak perlu.

Prinsip diet ini membuat asupan karbohidrat balita tidak boleh melebihi 30 persen dari kebutuhan harian. Padahal, anak masih butuh 50-60 persen dari kebutuhan kalori setiap harinya. 

Bila Anda menerapkan diet rendah karbohidrat pada balita, bisa menurunkan berat badan anak dengan cepat. Bila salah langkah dalam penerapan diet ini, justru bisa membuat pertumbuhan dan perkembangan balita terganggu.

Hal ini mengingat, balita usia 2-5 tahun masih dalam masa pertumbuhan. Beberapa efek yang ditimbulkan bila balita diet karbohidrat yaitu:

Penurunan kemampuan otak

Disadari atau tidak, balita yang kekurangan kebutuhan karbohidrat mengalami penurunan kemampuan berpikir. Karbohidrat berperan untuk meningkatkan kinerja otak sehingga ketika kandungan ini berkurang, kinerja otak bisa menurun.

Penurunan berat badan

Orang dewasa mungkin senang ketika berat badannya turun, tapi bagi balita, ini kondisi yang kurang baik. Penurunan berat badan secara drastis bisa membuat anak kekurangan gizi dan kemungkinan buruknya yaitu terjadi malnutrisi.

Kalau memang anak kegemukan atau obesitas dan ingin melakukan diet, konsultasikan dulu ke dokter anak. Ceritakan seputar kondisi si kecil mulai dari kebiasaan makan dan apa yang harus diubah. 

Lebih cepat lelah

Balita usia 2-5 tahun merupakan masa anak sedang sangat aktif dan karbohidrat berperan sebagai sumber energi utama.

Ketika Anda mengurangi porsinya, tubuh anak kesulitan mendapatkan energi dan membuatnya lesu, tidak aktif, dan lebih cepat lelah. 

Porsi kebutuhan karbohidrat yang sesuai dengan usia balita

Meski karbohidrat untuk anak tidak boleh dihilangkan, Anda tetap harus memilih jenis dan menyesuaikan dengan porsi makan anak.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, rata-rata kebutuhan karbohidrat balita, yaitu:

  • 1-3 tahun: 155 gram
  • 4-6 tahun: 220 gram

Pada rentang usia balita 2-5 tahun, kebutuhan karbohidrat menyesuaikan dengan poin di atas.

Anda bisa memilih karbohidrat yang tidak hanya mengandung kalori, tetapi juga menyediakan vitamin, mineral dan serat.

Agar kebutuhan karbohidrat balita tetap terjaga dengan baik, pilihsumber karbohidrat kaya nutrisi misalnya, roti gandum, seream, kentang, dan kacang-kacangan. 

Bagaimana dengan susu rendah lemak? Eat Right menjelaskan bahwa susu rendah lemak mengandung karbohidrat alami yang disebut laktosa. Jadi, Anda tetap bisa memberikan susu rendah lemak tanpa pemanis untuk si kecil.

Bagaimana menghadapi anak picky eater agar mau mengonsumsi karbohidrat?

Ketika si kecil seorang picky eater, tentu ada kesulitan sendiri dan harus mengakali agar ia mau makan karbohidrat. Berikut berbagai tips yang bisa dicoba agar anak mau makan karbohidrat:

  • Tidak terburu-buru dalam mengubah kebiasaan makan anak
  • Membuat waktu makan jadi menyenangkan misalnya dengan melibatkannya saat memasak
  • Kreasikan karbohidrat yang sehat menjadi lebih menarik untuk anak
  • Membuat makanan kaya warna sehingga anak semangat makan

Pastikan Anda melakukan langkah di atas dalam pengawasan dokter agak kesehatan si kecil tidak terganggu. Jika si kecil tetap tidak mau makan karbohidrat, segera konsultasikan ke dokter untuk tahu solusi terbaiknya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Lengkap Memenuhi Kebutuhan Gizi Bayi (Usia 0-11 Bulan)

Pemberian nutrisi di awal masa kehidupan penting bagi pertumbuhan si kecil. Bagaimana aturan untuk memenuhi kebutuhan gizi pada bayi setiap harinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 3 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit

Peran Penting Nutrisi dalam Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Nutrisi memiliki peran penting membantu pertumbuhan tinggi badan anak. Simak selengkapnya dan cari tahu standar tinggi badan anak Indonesia di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
asupan nutrisi yang baik membantu pertumbuhan tinggi badan anak
Parenting, Nutrisi Anak 1 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Kwashiorkor, Masalah Gizi yang Ditandai dengan Rambut Berwarna Kuning Seperti Jagung

Kwashiorkor adalah kondisi kurang gizi pada anak yang bisa mengakibatkan kematian bila tidak segera ditangani. Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 29 September 2020 . Waktu baca 14 menit

Ini Alasannya Kenapa Nasi Merah Jauh Lebih Sehat dari Nasi Putih

Apa yang membuat beras merah selalu diyakini lebih baik dari beras putih? Dan apakah benar beras merah dapat membantu menurunkan berat badan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Nutrisi, Hidup Sehat, Fakta Unik 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kandungan asi

Mengenal ASI: Jenis, Warna, Kandungan, dan Kebutuhan Harian untuk Bayi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 14 menit
resep menu mpasi bayi 6 bulan

Panduan Merancang Menu MPASI Bayi 6 Sampai 11 Bulan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit
sumber karbohidrat paling sehat

Nasi, Mie, Pasta, dan Roti: Sumber Karbohidrat Mana yang Paling Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
anak tidak nafsu makan

Kenapa Anak Saya Sekarang Jadi Tidak Nafsu Makan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit