Apa Akibatnya Bagi Kesehatan Jika Anak Suka Pilih-Pilih Makanan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27/08/2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anak yang suka pilih-pilih makan memang membuat orangtua jengkel dan khawatir. Ada anak yang hanya ingin makan sosis dan chicken nugget pakai mie instan, atau hanya mau makan menu paket spesial di restoran fastfood supaya dapat hadiah mainannya. Fase pilih-pilih makanan sebenarnya wajar saja di masa tumbuh kembang anak, tapi bukan berarti orangtua lantas terus membiarkannya hingga berlarut-larut. Kebiasaan makan seperti ini lama-lama tidak baik untuk kesehatan si kecil.

Kenapa anak suka pilih-pilih makanan?

Anak pilih-pilih makan pada umumnya karena mereka belum terbiasa saja dengan kebiasaan makan seperti orang dewasa. Terutama bagi anak balita yang baru saja beralih ke menu makanan padat, macam-macam bentuk, tekstur, warna, bau, dan rasa baru dari berbagai makanan bisa membuatnya kaget.

Selain itu, kecenderungan pilih-pilih makanan juga mungkin timbul dari kebiasaan anak melihat pola makan kedua orangtuanya sendiri. Misalnya si ibu yang tidak doyan makan sayur atau ayahnya yang cuma mau makan itu-itu saja. Anak bertumbuh kembang mengikuti apa yang biasa ditunjukkan orangtua sebagai panutan utama mereka. Maka ketika Anda menawarkannya makan sayur, ia akan menolaknya karena berpikiran “Orangtuaku saja tidak makan itu, kenapa aku harus?”

Mereka akan menunjukkan “protes”nya dengan nafsu makan rendah, sering kali menolak makan, hanya mau makan makanan yang ia tahu dan suka, dan hanya mau makan dalam jumlah sedikit.

Suka pilih-pilih makan membuat kecukupan nutrisi anak tidak seimbang

Apabila anak sudah terbiasa makan makanan yang sama terus, tubuhnya secara otomatis akan menganggap pola makan tersebut sebagai rutinitas. Hal ini tentu merugikan proses tumbuh kembangnya. Ketika menu atau bahan makanan yang anak makan tiap hari mulai dari pagi hingga malam semuanya sama, lambat laun ini akan membatasi asupan nutrisi si kecil. Padahal, tubuh anak membutuhkan asupan gizi yang bervariasi dalam jumlah yang proporsional tiap harinya untuk hidup sehat.

Jika kecukupan gizi anak buruk, mereka berpotensi mengalami komplikasi serta gangguan kesehatan jangka panjang. Misalnya jika anak selalu menyantap makanan kemasan yang serba tinggi kalori dan garam, ia akan cenderung tumbuh bertubuh gemuk dan berisiko obesitas pada usia dini. Jika sudah obesitas, biasanya akan cenderung merambat ke diabetes akibat peningkatan gula darah akibat kelebihan karbohidrat.

Sama halnya jika anak hanya ingin makan sedikit. Berdasarkan penelitian, kebiasaan buruk pilih-pilih makan dapat mengakibatkan anak memiliki berat dan tinggi badan yang lebih rendah dibanding anak lain usia sepantaran. Anak picky eater kerap kali kekurangan asupan serat yang membuat mereka rentan mengalami sembelit kronis.

Selain itu, mereka juga cenderung kekurangan energi dan kekurangan mikronutrien, terutama zat besi dan vitamin A. Anak yang gizinya kurang sangat rentan terserang penyakit infeksi. Maka, bukan tidak mungkin tumbuh kembang si kecil malah terhambat bahkan berhenti sebelum waktunya jika ia terbiasa pilih-pilih makan.

Anak picky eater memiliki perkembangan mental yang lambat

Kebiasaan pilih-pilih makan tidak hanya bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik anak saja, tapi juga perkembangan mentalnya. Berdasarkan sejumlah penelitian yang ada, anak picky eater ternyata memiliki perkembangan mental 14 point lebih rendah daripada anak yang gampang makan.

Hal ini didukung oleh data dari World Bank yang mengemukakan bahwa gizi buruk buruk pada anak berhubungan dengan skor IQ yang rendah. Berbagai masalah kesehatan yang dihadapi anak akibat kekurangan gizi membuat mereka tidak bisa berkonsentrasi belajar di kelas

Cara mencegah anak menjadi picky eater

Meski picky eating termasuk ke dalam fase tumbuh kembang anak yang wajar, orangtua bisa mencegah buah hatinya untuk mulai terbiasa pilih-pilih makanan dengan cara:

  • Saat Anda akan menyiapkan makanan, anda dapat mencoba mengajak si kecil untuk membantu anda. Namun, perlu diingat untuk tidak membiarkan si kecil menggunakan peralatan masak yang dapat membahayakan dirinya, misalnya seperti pisau.
  • Ajak si kecil untuk mencoba berbagai menu makanan baru. Hal ini akan meningkatkan rasa ingin tahu si kecil untuk mengenali beragam makanan.
  • Saat makan bersama, ciptakanlah suasana yang menyenangkan. Misalnya, ajaklah berbiacara hal-hal yang positif, luangkan waktu makan bersama secara berkualitas dan jangan memaksa si kecil untuk memakan.
  • Cobalah untuk menyajikan makanan dalam bentuk yang unik dan menarik, agar si kecil merasa tertarik untuk mencobanya.
  • Berikan jarak setiap penyajian makanan minimal berjarak 3 jam dan sajikan 5-6 kali makanan per hari (sudah termasuk makanan berat dan makanan ringan).
  • Cobalah untuk mengonsumsi makanan yang si kecil tidak sukai di depan si kecil. Misalnya, si kecil tidak menyukai bayam. Anda dapat mencoba mencontohkan memakan bayam tersebut di depan si kecil dan ajaklah secara perlahan agar si kecil juga menjadi tertarik dan ingin mencobanya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Cari tahu perbedaan protein susu sapi dan susu soya untuk si kecil. Pastikan kandungan susu yang ibu berikan baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
protein susu soya
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 03/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

Ketika anak suka olahraga atau termasuk aktif beraktivitas, penting untuk menyesuaikan asupan nutrisi agar tumbuh kembangnya tetap optimal.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
nutrisi untuk anak aktif
Parenting, Nutrisi Anak 30/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Para ibu mungkin sudah tidak asing lagi dengan kemunculan ruam susu atau ruam di pipi bayi. Namun, apakah ruam susu itu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Baru-baru ini ilmuwan jepang menemukan rahasia cara sempurna memeiuk bayi. Bagaimana caranya agar bayi nyaman dan tenang?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Parenting, Tips Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor

Peran Penting Nutrisi untuk Kurangi Dampak Stunting pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit
makanan sehat untuk orang sibuk

13 Tips Makan Sehat untuk Orang yang Super Sibuk

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22/07/2020 . Waktu baca 12 menit
Konten Bersponsor
penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit