Apa yang Terjadi Kalau Anak Kelebihan atau Kekurangan Asupan Garam?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 22/09/2017 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Tak lengkap rasanya menyantap makanan tanpa garam. Agar si kecil menyukai makanannya, tambahan garam tentunya bisa membuat cita rasa makanan makin lezat. Namun, sebaiknya anak mengonsumsi garam sampai seberapa banyak dalam sehari? Apa yang akan terjadi kalau ternyata anak kekurangan atau kelebihan garam? Simak informasi lengkap seputar garam untuk anak di bawah ini.

Rekomendasi asupan garam untuk anak

Bayi dan anak di bawah usia 11 tahun seharusnya mengonsumsi garam lebih sedikit dari orang dewasa. Bayi hanya membutuhkan garam dalam jumlah sangat sedikit, karena ginjal mereka terlalu muda untuk mencerna garam tambahan. Oleh karena itu garam tidak boleh ditambahkan ke makanan yang dimasak untuk bayi Anda. ASI secara alami memenuhi semua kebutuhan nutrisi untuk bayi Anda. Bayi Anda akan mendapatkan jumlah mineral yang tepat, termasuk garam dari ASI. 

Sedangkan untuk anak-anak, jumlah garam harian yang direkomendasikan setiap harinya disesuaikan dengan usia anak. Menurut National Health Service, yaitu badan kesehatan resmi Inggris, berikut adalah anjuran konsumsi garam untuk anak yang ideal setiap harinya.

  • 1 – 3 tahun: 2 gram (setengah sendok teh) per hari
  • 4 – 6 tahun: 3 gram (setengah sendok teh lebih sedikit) per hari
  • 7 – 10 tahun: 5 gram (satu sendok teh) per hari
  • 11 tahun dan diatasnya: 6 gram (satu setengah sendok teh) per hari

Hindari memberikan garam tambahan pada makanan untuk bayi di bawah satu tahun. Ginjal mereka belum berkembang sempurna untuk mengolah garam. Dengan menghindari memberikan garam tambahan, Anda mencegah ginjal bayi bekerja terlalu berat.

Memastikan anak Anda tidak makan terlalu banyak garam berarti Anda juga membantu mereka untuk tidak mengembangkan candu terhadap rasa asin. Anak yang suka makanan yang asin dikhawatirkan akan cenderung mengonsumsi terlalu banyak garam saat dewasa nanti.

Manfaat garam untuk anak

Menurut penelitian medis, kekurangan garam akan membuat si kecil kekurangan yodium, yaitu zat yang dibutuhkan tubuhnya untuk perkembangan otak. Yodium juga penting untuk menjaga kesehatan kelenjar tiroid. Maka, anak memang tetap disarankan untuk mengonsumsi yodium lewat garam.  

Makanan yang tidak mengandung garam sama sekali juga mungkin membuat si kecil jadi tidak nafsu makan karena makanannya terasa hambar. Apalagi makanan sehat seperti sayur. Karena itu, menambahkan garam secara tidak langsung bisa membantu asupan nutrisi si kecil.

Risiko terlalu banyak garam bagi anak

Meskipun garam ada manfaatnya, kelebihan konsumsi garam dalam makanan anak memicu meningkatnya tekanan darah, yang merupakan sumber penyakit, misalnya stroke dan penyakit jantung. 

Anak-anak biasanya dapat mengomsumsi makanan yang tinggi garam dari daging olahan, camilan kemasan, atau junk food. Anda dapat mengurangi konsumsi garam berlebih pada anak dengan cara memasak sendiri makanan untuk si kecil sehingga Anda dapat mengatur takaran garam untuk anak yang ideal.

Lebih banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran daripada makanan ringan kemasan juga dapat membantu mengurangi kelebihan garam. Jika anak Anda terlalu sering mengonsumsi makanan mengandung garam yang tinggi, anak jadi tidak doyan makanan dengan cita rasa lainnya. Jadi coba variasikan jenis makanannya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Cari tahu perbedaan protein susu sapi dan susu soya untuk si kecil. Pastikan kandungan susu yang ibu berikan baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 03/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

Ketika anak suka olahraga atau termasuk aktif beraktivitas, penting untuk menyesuaikan asupan nutrisi agar tumbuh kembangnya tetap optimal.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Nutrisi Anak 30/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit