Jenis Pemeriksaan Bayi Baru Lahir yang Penting Diketahui Orangtua

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Saat si kecil dilahirkan, tentu Anda sudah mempersiapkan perlengkapan bayi baru lahir. Tidak hanya itu, si kecil juga akan melakukan pemeriksaan kesehatan yang termasuk ke dalam perawatan bayi baru lahir untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan sejak awal kelahiran. Jadi apabila nanti ditemukan gangguan atau kelainan, bayi bisa ditangani sedini mungkin. Berikut penjelasan lengkap seputar pemeriksaan bayi baru lahir dan resusitasi pada bayi.

Prosedur pemeriksaan bayi baru lahir

anak yang baru lahir

Terdapat prosedur skrining yang perlu dilakukan pada bayi yang baru lahir. Ini untuk mendeteksi kelainan pada tubuh bayi agar tumbuh kembang si kecil bisa lebih optimal.  

Berikut prosedur pemeriksaan bayi baru lahir yaitu:

Apgar

Mengutip dari Kids Health, tes ini dilakukan dua kali, yaitu pada satu menit pertama dan lima menit pertama setelah bayi lahir. Tes apgar adalah serangkaian pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai kemampuan bayi baru lahir dalam beradaptasi terhadap kehidupan di luar rahim ibunya.

Apgar merupakan singkatan dari lima hal yang diperiksa bayi baru lahir, yaitu:

  • Appearance (warna kulit)
  • Pulse (frekuensi denyut jantung)
  • Grimance (pernapasan)
  • Activity (aktif atau tidaknya tonus otot)
  • Reflex (reaksi terhadap rangsangan)

Selain itu, bayi baru lahir memiliki feses yang berbeda tapi ini masih normal, sehingga orangtua perlu mengenal feses bayi untuk mengetahui perbedaan sehat dan tidak.

Tes gula darah

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tes gula darah dilakukan pada bayi untuk mengetahui apakah si kecil mengalami hipoglikemia atau tidak.

Hipoglikemia adalah kondisi kurangnya gula darah dalam tubuh. Pada bayi baru lahir, bila kadar glukosa dalam darahnya kurang dari 45 mg/dL, ia dinyatakan hipoglikemia. 

Meski pemeriksaan gula darah dilakukan pada bayi baru lahir, tapi ada beberapa kondisi yang membuat bayi baru lahir berisiko mengalami hipoglikemia, yaitu:

Ibu menderita diabetes

Masih dari situs IDAI dijelaskan bahwa ibu dengan kondisi diabetes yang tidak terkontrol, memiliki kadar glukosa darah yang tinggi lalu melewat plasenta. Ini bisa merangsang pembentukan insulin pada neonatus. 

Ketika bayi lahir, kadar glukosa pada bayi bisa tiba-tiba turun karena pasokan dari plasenta berhenti. Cara mencegah hal ini terjadi adalah dengan mengontrol kadar glukosa ibu ketika masa kehamilan. 

Bayi kurang bulan

Kondisi bayi dengan usia yang kurang berisiko mengalami hipoglikemia. Pasalnya, pasokan glukosa dalam bentuk glikogen baru terbentuk pada trimester tiga kehamilan.

Maka, ketika bayi lahir terlalu dini, persediaan glikogen terlalu sedikit dan cepat habis terpakai oleh bayi.

Bayi lebih bulan

Ketika usia bayi sudah cukup untuk lahir, fungsi plasenta sudah mulai berkurang. Asupan glukosa dari plasenta kurang memadai, sehingga janin menggunakan cadangan glikogen yang sudah diberikan sebelumnya. 

Bayi besar dan kecil untuk masa kehamilan

Pada bayi besar di masa kehamilan (BMK), biasanya lahir dengan kondisi berat yang berlebihan. Ini karena faktor dari ibu yang memiliki toleransi glukosa yang tidak normal.

Sementara pada bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK), ia sudah mengalami kekurangan gizi sehingga tidak sempat membuat cadangan glikogen.

Bayi stres

Janin yang mengalami stres di masa kehamilan bisa disebabkan oleh ibu dengan kondisi hipertensi. Setelah lahir, bayi memiliki metabolisme yang tinggi sehingga membutuhkan energi yang lebih besar dibanding bayi lain.

Pemeriksaan gula darah pada bayi baru lahir menggunakan suntik dan bisa menjadi penyebab bayi menangis, maka orangtua disarankan untuk memegangi tubuh lalu memijat bayi untuk menenangkannya. 

Oximetri pulse

Tes ini dilakukan untuk memeriksa kadar oksigen dalam darah bayi Anda. Sebab, jika kadar oksigen dalam darah rendah atau fluktuatif, hal tersebut cenderung menjadi tanda adanya Critical Congenital Heart Defect (CCHD) atau dalam bahasa Indonesia penyakit jantung bawaan kritis.

Penyakit jantung bawaan biasanya terjadi tanpa gejala namun bisa menyebabkan kematian jika tidak segera dilakukan pengobatan atau tindakan.

Resusitasi 

Mengutip dari Queensland Health, resusitasi adalah pemberian napas buatan guna memberikan pasokan oksigen lebih sehingga merangsang jantung dan paru bayi mulai bekerja. 

Resusitasi dilakukan pada bayi baru lahir dengan kondisi baik dan buruk sebagai prosedur pemeriksaan yang dokter lakukan.

Berdasarkan jurnal yang diterbitkan American Academy of Pediatrics (AAP) menilai bayi butuh resusitasi atau tidak bisa diidentifikasi dengan tiga penilaian, yaitu:

  • Apakah bayi lahir pada usia kandungan cukup bulan?
  • Apakah bayi bernapas atau menangis sesaat setelah lahir?
  • Apakah bayi memiliki kerja otot yang baik?

Jika jawabannya ‘tidak’ berarti bayi Anda membutuhkan resusitasi lanjutan yang khusus untuk bayi baru lahir.

Kalau setelah lahir bayi tidak kunjung bisa bernapas sendiri, tubuhnya akan perlahan kekurangan oksigen yang dapat mengarah pada kerusakan organ fatal bahkan kematian.

Pemeriksaan bayi baru lahir dalam kondisi khusus

bayi baru lahir

Pada bayi baru lahir dengan kondisi khusus atau memiliki masalah kesehatan tertentu, pemeriksaan dilakukan lebih detail. Selain melakukan resusitasi, APGAR, dan lainnya, bayi dengan kondisi khusus perlu mendapatkan pemeriksaan seperti berikut:

Resusitasi

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa resusitasi pada bayi baru lahir yang kondisinya kurang baik akan dilanjutkan pada proses pemeriksaan lainnya.

Biasanya resusitasi bayi diperlukan dalam kondisi tertentu seperti:

Lahir dalam kondisi prematur

Bayi prematur biasanya lahir tiga minggu sebelum tanggal perkiraan kelahiran (sebelum 37 minggu). Akibatnya, bayi prematur memiliki berbagai masalah kesehatan yang tidak bisa disepelekan, seperti paru-paru yang belum terbentuk sempurna.

Mengutip dari Mayo Clinic, masalah pernapasan yang sering kali menghampiri bayi prematur adalah penyakit paru-paru kronis (PPOK) dan apnea (napas ngorok saat tidur).

Resusitasi bayi saat lahir prematur menjadi salah satu langkah penyelamatan yang paling utama.

Terlambat lahir

Berbanding terbalik dengan prematuritas, bayi dikatakan terlambat lahir saat persalinan dimulai lewat dari 42 minggu usia kehamilan. Saat bayi terlambat lahir, plasenta yang bertugas memasok nutrisi dan oksigen dari ibu tidak lagi berfungsi seefektif sebelumnya.

Akibatnya muncul berbagai masalah seperti peningkatan risiko selama persalinan akibat pasokan oksigen yang buruk hingga berisiko mengalami aspirasi mekonium.

Aspirasi mekonium adalah kondisi saat bayi bernapas dengan cairan yang mengandung feses pertamanya. Kondisi ini tentu saja bisa menghalangi saluran pernapasannya untuk dapat berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, biasanya resusitasi diperlukan setelah kelahiran.

Proses persalinan yang lama

Persalinan normalnya memakan waktu 12-18 jam. Namun, pada kondisi tertentu proses melahirkan berjalan hingga 24 jam. Umumnya, persalinan macet terjadi pada proses melahirkan bayi besar lewat jalur normal atau posisi bayi sungsang.

Ibu yang memiliki jalur lahir terlalu sempit atau kontraksinya sangat lemah juga berisiko mengalami persalinan lama. Persalinan yang memakan waktu terlalu lama bisa membahayakan janin.

Berbagai risiko seperti kadar oksigen yang rendah untuk bayi, irama jantung bayi yang tidak normal, cairan ketuban yang terkontaminasi zat-zat berbahaya, dan infeksi uterus bisa saja terjadi.

Itu kenapa bayi bisa lahir dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Resusitasi bayi menjadi salah satu cara penyelamatan untuk menormalkan kondisi bayi.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Anda dan bayi akan dipulangkan dan istirahat di rumah. Untuk orangtua, sangat penting menjadikan rumah aman untuk anak terutama ketika anak sudah bisa bergerak aktif.

Tes pendengaran

Mengutip dari Baby First Test, pemeriksaan pendengaran pada bayi terdiri dari dua jenis, yaitu dengan Otoacoustic Emissions (OAEs) dan Auditory Brainstem Response (ABR).

Otoacoustic Emissions (OAEs) adalah tes yang digunakan untuk menentukan apakah bagian telinga bayi merespon suara. Cara pengujian ini adalah memakai earphone dan mikrofon kecil yang ditempatkan di telinga bayi, kemudian diputar suara. 

Bila pendengaran bayi normal, gema dari suara dipantulkan kembali ke saluran telinga dan diukur lewat mikrofon. Bila tidak ada gema yang terdeteksi, itu bisa menunjukkan gangguan pendengaran pada bayi.

Auditory Brainstem Response (ABR) adalah tes untuk melihat respon otak terhadap suara. Caranya masih sama, dengan menggunakan earphone kecil yang ditempatkan di telinga.

Sebuah alat diletakkan sepanjang kepala bayi untuk  mendeteksi respon otak terhadap suara. Jika otak bayi tidak merespon suara secara konsisten, kemungkinan bayi mengalami masalah pendengaran.

Kedua pemeriksaan bayi baru lahir ini biasanya berlangsung selama 10 menit.

Pemeriksaan bilirubin

Tes ini dilakukan untuk mengecek kadar bilirubin pada bayi melalui tes darah atau menggunakan light meter, yang bisa mendeteksi billirubin melalui kulit. Selain itu, si kecil juga melakukan imunisasi hepatitis B yang dilakukan 12 jam setelah dilahirkan.

Hipotiroid kongenital

Mengapa pemeriksaan ini penting untuk bayi baru lahir? DIkutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) skrining hipotiroid kongenital untuk mendeteksi dini adanya hipotiroid bawaan.

Hipotiroid yang tidak diobati sejak dini bisa mengalami gangguan perkembangan otak (retardasi mental) yang berat. Penyakit ini biasanya baru dikenali setelah timbul gejala atau wujudnya setelah anak berusia kurang lebih satu tahun.

Skrining hipotiroid kongenital paling baik dilakukan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang bersama orangtua dari rumah sakit.

Ketika masih di rumah sakit dan bayi sedang belajar menyusu, Anda perlu mengetahui cara menyendawakan bayi agar udara di dalam perut si kecil bisa keluar.

Pemeriksaan penglihatan 

Bila bayi lahir prematur, perlu pemeriksaan mata untuk mendeteksi retinopathy of prematurity (ROP).

Mengutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyakit ini sering terjadi pada bayi prematur dan salah satu penyebab kebutaan bayi dan anak. 

Pemeriksaan ROP dilakukan pada bayi baru lahir dengan berat kurang dari 1500 gram atau masa kehamilan kurang dari 34 minggu.

Selain itu juga perlu pemeriksaan pada bayi baru lahir dengan risiko kelainan jantung bawaan, gangguan napas, asfiksia, perdarahan di otak, dan gangguan pertumbuhan janin di dalam rahim.

Tempat dan biaya pemeriksaan bayi baru lahir

penyebab kematian bayi

Tes skrining bisa dilakukan oleh pihak laboratorium di rumah sakit tempat bayi dilahirkan. Anda bisa membawa si kecil ke laboratorium yang menyediakan pemeriksaan bayi baru lahir.

Biaya untuk skrining kesehatan bayi cenderung terjangkau. Bahkan, beberapa rumah sakit telah memasukkan tes ini sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan anak.

Karena itu, sebelum Anda melahirkan sebaiknya cek dulu apakah rumah sakit atau klinik bersalin Anda menyediakan fasilitas skrining.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perut Panas dan Ulu Hati Sakit Setelah Makan? Begini Mengatasinya

Apa yang biasanya Anda lakukan segera setelah makan? Rebahan karena ngantuk kekenyangan? Kebiasaan buruk ini bisa bikin perut panas dan perih, lho

Ditulis oleh: Priscila Stevanni
Hidup Sehat, Tips Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Cepat lelah dan kehabisan napas bisa jadi tanda kebugaran jantung dan paru-paru Anda kurang baik. Tapi bagaimana cara mengukurnya? Simak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Kebugaran, Hidup Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ketika Ada mengalami cedera kaki, mungkin Anda akan diminta untuk menggunakan tongkat penyangga (kruk) untuk berjalan. Lalu bagaimana cara menggunakannya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kepribadian introvert ekstrovert kesehatan

Apakah Kepribadian Anda Introvert atau Ekstrovert? Ini Pengaruhnya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
gangguan pencernaan anak

Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Penyakit Kawasaki

Penyakit Kawasaki

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 12 menit
Seks dengan Lampu Menyala

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit