home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa yang Terjadi Jika Pria Tidak Disunat? Ketahui Beberapa Risiko Berikut Ini

Apa yang Terjadi Jika Pria Tidak Disunat? Ketahui Beberapa Risiko Berikut Ini

Di Indonesia, sunatan menjadi tradisi bagi anak laki-laki yang tengah beranjak remaja. Biasanya diadakan pesta sebagai tanda kebahagiaan keluarga bahwa anak laki-laki mereka sudah berani disunat. Di balik tradisi tersebut, sunat memang menyimpan berbagai manfaat bagi laki-laki. Namun, adakah risiko berbahaya apabila laki-laki yang tidak sunat?

Penis pada bayi laki-laki baru lahir memiliki kulit tambahan

Bayi laki-laki baru lahir memiliki lapisan kulit pelindung tambahan pada bagian kepala penis (glans). Lapisan kulit tambahan pada struktur penis ini disebut sebagai kulup atau preputium. Saat lahir, kulup yang melekat pada kepala penis merupakan suatu hal yang normal. Seiring dengan pertumbuhan laki-laki, kulup akan mulai memisah dari kepala penis secara alami.

Kulit kulup harus benar-benar terpisah dari kepala penis pada saat pubertas atau bisa juga terjadi lebih cepat, saat anak berusia lima tahun. Biarkan kulup terlepas secara alami dan jangan sesekali memaksakan kulit pelindung ini terlepas lebih cepat.

Seiring anak bertambah besar, bagian kulit kulup biasanya akan dihilangkan atau biasa disebut dengan sunat. Penghilangan kulup atau sunat adalah sebuah tradisi, bentuk kebersihan diri, atau untuk mencegah berbagai penyakit. Namun bagi sebagian kalangan pria, sunat bukan dianggap menjadi sesuatu yang harus mereka lakukan.

Adakah bahaya apabila penis pria tidak disunat?

bahaya tidak disunat

Penis yang tidak disunat membutuhkan perawatan ekstra. Anda harus benar-benar menjaga kebersihan penis dengan benar. Tarik kulit kulup sampai berada pada posisi yang nyaman dan bersihkan kepala penis yang terlihat sampai bersih.

Setelah membersihkannya, pastikan tidak ada sisa sabun yang bisa menyebabkan iritasi kulit sensitif pada kepala penis. Selain itu, penis yang tidak disunat lebih rentan terhadap bakteri atau agen penyakit tertentu, sehingga kebersihannya harus benar-benar Anda perhatikan.

Jika tidak, maka anak laki-laki hingga pria dewasa yang tidak disunat bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti berikut ini.

1. Penyakit menular seksual

Laki-laki yang tidak disunat lebih berisiko mengalami gonore dan peradangan pada uretra. Penyakit menular seksual lainnya, seperti sifilis, human papillomavirus, herpes simplex, juga lebih sering terjadi pada laki-laki yang tidak disunat.

Selain itu, adanya kulit kulup pada laki-laki yang tidak disunat juga merupakan faktor risiko utama dari infeksi HIV. Pria yang tidak disunat memiliki risiko infeksi HIV sampai 2-8 kali lebih besar dibandingkan dengan pria yang disunat.

Hal ini bisa terjadi karena pertumbuhan agen yang menyebabkan penyakit menular seksual lebih rentan terjadi pada laki-laki yang tidak disunat. Penghilangan kulup atau sunat dapat melindungi laki-laki dari berbagai penyakit ini.

2. Kanker penis

Kanker penis bisa terjadi pada laki-laki yang tidak disunat, bahkan kondisi ini berisiko lebih besar menyebabkan kematian hingga 25 persen. Penelitian juga menunjukkan kanker penis 20 kali lebih jarang ditemukan pada laki-laki yang disunat dibandingkan mereka yang tidak.

Selain kanker penis, laki-laki yang tidak disunat juga lebih berisiko menderita kanker prostat. Menurut sebuah studi pada tahun 2012, pria yang melakukan sunat sebelum hubungan seksual pertama kali memiliki penurunan risiko 15 persen terhadap kanker prostat.

3. Peradangan atau infeksi penis

Penis yang tidak disunat dapat mengalami berbagai peradangan, seperti peradangan pada kepala penis (balanitis), peradangan pada kulup (posthitis), dan peradangan pada kepala penis dan kulup (balanoposthitis).

Laki-laki yang tidak disunat juga bisa mengalami fimosis, yaitu ketidakmampuan kulit kulup untuk ditarik kembali ke belakang. Selain itu, berisiko juga mengalami parafimosis, yaitu kondisi penis terjepit karena kulup yang tidak dapat kembali ke posisi normal.

Kedua kelainan kulit kulup pada penis pria ini biasa terjadi pada mereka yang tidak disunat, yang mana risikonya lebih rendah atau hilang sepenuhnya pada pria yang telah disunat karena kulit kulup sudah dihilangkan.

Apa saja manfaat melakukan sunat bagi pria?

anak disunat

Sunat merupakan prosedur bedah kecil yang mungkin saja bisa menimbulkan rasa sakit pada beberapa laki-laki. Masalah yang bisa Anda alami saat melakukan prosedur sunat adalah rasa sakit, risiko perdarahan, infeksi, iritasi pada kepala penis, hingga risiko cedera penis.

Namun di balik risiko yang Anda terima selama melakukan prosedur ini, ada berbagai manfaat yang bisa menurunkan risiko Anda mengalami berbagai penyakit yang berkaitan dengan kesehatan organ reproduksi.

Dikutip dari Mayo Clinic, ada beberapa keuntungan kesehatan bagi pria yang disunat antara lain seperti berikut ini.

  • Menjaga kebersihan penis lebih mudah. Prosedur sunat membuat Anda lebih mudah mencuci penis, terutama bagian yang tertutup kulit kulup yang sering luput dari jangkauan Anda.
  • Menurunkan risiko infeksi saluran kencing. Kebersihan organ reproduksi yang lebih terjaga membuat Anda memiliki risiko lebih rendah terhadap kondisi ini. Infeksi saluran kencing parah yang terjadi mungkin saja menyebabkan masalah ginjal ke depannya.
  • Menurunkan risiko penyakit menular seksual. Pria yang sudah disunat mungkin memiliki risiko lebih rendah terhadap infeksi menular tertentu, termasuk HIV. Namun, hal ini juga harus Anda barengi dengan perilaku seksual yang aman.
  • Mencegah gangguan penis. Kulit kulup yang Anda biarkan bisa menyebabkan masalah, seperti fimosis atau parafimosis yang menyebabkan radang kulup dan kepala penis.
  • Menurunkan risiko kanker penis. Kanker penis lebih jarang terjadi pada pria yang disunat. Prosedur ini juga bermanfaat untuk mencegah kanker serviks, di mana kondisi ini lebih jarang terjadi pada wanita dengan pasangan pria yang disunat.
  • Melindungi dari risiko kanker prostat. Bayi laki-laki yang disunat memiliki risiko lebih kecil mengembangkan kanker prostat daripada laki-laki yang tidak disunat. Hal yang sama juga berlaku saat sunat dilakukan pada anak laki-laki yang usianya lebih besar.

Kesimpulan: Apakah pria perlu melakukan sunat?

Sudah dijelaskan di atas bahwa keuntungan yang Anda dapatkan dari sunat lebih banyak dibandingkan dengan kerugiannya dari sisi kesehatan. Sunat sudah terbukti dapat mencegah laki-laki dari berbagai penyakit, terutama berkaitan dengan organ reproduksi pria.

The American Academy of Pediatrics (AAP) juga telah menemukan bahwa manfaat kesehatan dari sunat pada anak laki-laki yang baru lahir lebih besar daripada dengan risikonya. Namun, sunat mungkin bayi prematur atau dengan kondisi tertentu tidak disarankan untuk melakukan prosedur ini tanpa pengawasan dokter.

Jika seorang pria tidak disunat, bukan berarti mereka harus segera melakukannya. Hindari risiko berbagai penyakit, terutama infeksi menular seksual, dengan cara membersihkan penis dengan setiap mandi dan selesai buang air. Selalu praktikkan hubungan seks aman dengan menggunakan kondom saat berhubungan seks dan tidak bergonta-ganti pasangan seks.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Circumcision (male) – Mayo Clinic. Mayoclinic.org. (2020). Retrieved 22 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/circumcision/about/pac-20393550

Bhargava, H. (2020). Circumcision Basics. WebMD. Retrieved 22 April 2021, from https://www.webmd.com/sexual-conditions/guide/circumcision

Caba, J. (2014). Male Circumcision: 5 Things You May Or May Not Know About Circumcision. Medical Daily. Retrieved 22 April 2021, from https://www.medicaldaily.com/male-circumcision-5-things-you-may-or-may-not-know-about-circumcision-287600

Uncircumcised vs. Circumcised: Which Is Better?. New Health Advisor. Retrieved 22 April 2021, from https://www.newhealthadvisor.org/Circumcised-Vs-Uncircumcised.html

Perlstein, D., & Stoeppler, M. (2020). Circumcision Procedure: Pros & Cons & Benefits. MedicineNet. Retrieved 22 April 2021, from https://www.medicinenet.com/circumcision_the_medical_pros_and_cons/article.htm

Poncelet, B., & Jassey, J. The Right Way to Care for an Uncircumcised Penis. Verywell Family. Retrieved 22 April 2021, from https://www.verywellfamily.com/uncircumcised-penis-care-3200892

Where We Stand: Circumcision. HealthyChildren.org. (2014). Retrieved 22 April 2021, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/prenatal/decisions-to-make/Pages/Where-We-Stand-Circumcision.aspx

Wright, J., Lin, D., & Stanford, J. (2012). Circumcision and the risk of prostate cancer. Cancer, 118(18), 4437-4443. https://doi.org/10.1002/cncr.26653

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Arinda Veratamala
Tanggal diperbarui 17/03/2017
x