Jangan Tunda, Ini Pengobatan Hidrosefalus untuk Memperbaiki Kepala Bayi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Bayi baru lahir yang didiagnosis dengan hidrosefalus membutuhkan pengobatan sesegera mungkin. Ini karena hidrosefalus bisa menyebabkan kerusakan pada otak maupun gangguan kesehatan lainnya bila tidak segera dideteksi dan ditangani. Lantas, seperti apa pengobatan untuk hidrosefalus pada bayi?

Pengobatan hidrosefalus harus melalui diagnosis

hidrosefalus pada anak

Hidrosefalus adalah kondisi kelainan atau cacat lahir bawaan pada bayi yang membuat ukuran lingkar kepala si kecil membesar lebih dari normalnya.

Penyebab hidrosefalus atau pembesaran ukuran kepala ini dikarenakan adanya penumpukan cairan serebrospinal di dalam ventrikel alias rongga otak.

Dalam kondisi normal, cairan serebrospinal seharusnya mengalir di otak dan sumsum tulang belakang. Selanjutnya, cairan serebrospinal tersebut diserap oleh pembuluh darah.

Namun, tidak demikian pada bayi yang mengalami hidrosefalus karena cairan serebrospinal tidak mengalir dengan lancar di dalam otak.

Bukannya terserap oleh pembuluh darah, cairan serebrospinal justru menumpuk pada otak sehingga menimbulkan pembesaran atau pembengkakan.

Itulah mengapa salah satu gejala hidrosefalus pada bayi yang paling mudah terlihat yakni membesarnya ukuran lingkar kepala lebih dari normal.

Sebelum mencari tahu pengobatan apa yang tepat untuk mengatasi hidrosefalus pada bayi ini, ada baiknya Anda pahami dulu cara mendiagnosisnya.

Biasanya, kelainan atau cacat lahir bawaan hidrosefalus bisa mulai dideteksi saat bayi masih berada di dalam kandungan.

Diagnosis hidrosefalus saat masa kehamilan dapat dilakukan dengan menggunakan ultrasonografi (USG) saat jadwal pemeriksaan kehamilan.

Sementara untuk bayi yang sudah lahir, diagnosis hidrosefalus bisa dilakukan dengan pengukuran lingkar kepala. Jika ukuran lingkar kepala bayi lebih dari normal, artinya si kecil didiagnosis mengalami hidrosefalus.

Namun, dokter biasanya akan memastikan hal tersebut dengan melakukan pemeriksaan lanjutan. Dokter mungkin akan menyarankan tes USG pada bayi baru lahir, tes magnetic resonance imaging (MRI), dan tes computerized tomography (CT-scan).

Berbagai tes tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai kondisi otak bayi saat ini. Setelahnya, dokter baru bisa melakukan pengobatan yang tepat untuk mengatasi hidrosefalus pada bayi.

Apa saja pengobatan untuk hidrosefalus?

Pengobatan hidrosefalus untuk bayi sebaiknya segera dilakukan setelah selesai didiagnosis. Bukan tanpa alasan, ini karena hidrosefalus berisiko berakibat fatal bagi bayi jika tidak ditangani secepatnya.

Pengobatan hidrosefalus memang tidak mampu mengembalikan kerusakan otak yang sudah terjadi. Akan tetapi, pengobatan hidrosefalus setidaknya dapat mencegah terjadi kerusakan lebih lanjut pada otak bayi.

Selain itu, pengobatan hidrosefalus pada bayi juga ditujukan untuk melancarkan aliran cairan serebrospinal di dalam otak. Berikut beberapa pilihan pengobatan hidrosefalus pada bayi:

1. Metode shunt

tanda dan gejala hidrosefalus

Pengobatan paling umum untuk hidrosefalus pada bayi adalah dengan prosedur shunt. Shunt adalah alat dalam pengobatan hidrosefalus pada bayi yang berguna untuk mengeluarkan kelebihan cairan serebrospinal dari dalam otak.

Struktur alat shunt terdiri atas tabung panjang dan fleksibel yang disertai dengan kateter dan katup. Berbagai komponen yang ada pada alat shunt akan membantu mengarahkan cairan di dalam otak agar mengalir ke arah yang benar.

American Association of Neurological Surgeons menjelaskan bahwa alat shunt dipasang di bawah kulit kepala kemudian diarahkan ke bagian atau rongga tubuh lain.

Sebagai gambarannya, salah satu ujung tabung pada alat shunt ditempatkan pada salah satu ventrikel atau rongga otak.

Dengan begitu, diharapkan kelebihan cairan serebrospinal yang ada di dalam otak dapat mengalir masuk ke dalam tabung alat shunt hingga berakhir di bagian tubuh lainnya.

Bagian tubuh lain yang dijadikan tempat mengalirkan kelebihan cairan serebrospinal otak biasanya pada rongga peritoneum (area sekitar organ perut) dan ruang di jantung.

Ini karena kedua bagian tubuh tersebut dinilai mudah dan cepat dalam menyerap kelebihan cairan serebrospinal dari otak.

Menariknya, di dalam alat shunt terdapat katup khusus yang bertugas untuk mengontrol aliran pergerakan cairan serebrospinal.

Dengan begitu, kelebihan cairan serebrospinal yang mengalir dari otak ke bagian tubuh lain tidak akan terlalu cepat. Setelah dipasang pada kepala, pengobatan hidrosefalus pada bayi dengan alat shunt ini akan terus digunakan seumur hidup.

Dokter akan memantau kondisi bayi secara rutin dan mungkin melakukan operasi tambahan untuk memperbaiki alat shunt bila diperlukan.

Prosedur pengobatan hidrosefalus ini akan membantu menjaga cairan serebrospinal pada otak bayi tetap dalam batas normalnya.

2. Ventrikulostomi endoskopi ketiga

ruam bayi

Ventrikulostomi endoskopi ketiga atau disebut juga dengan endoscopic third ventriculostomy (ETV) adalah prosedur bedah pengobatan hidrosefalus tetapi tidak ditujukan untuk semua kondisi.

Pertama-tama dokter akan menggunakan endoskop untuk mendapat penglihatan yang jelas mengenai kondisi otak bayi. Endoskop adalah tabung panjang dan tipis yang dilengkapi oleh cahaya dan kamera di bagian ujungnya.

Namun sebelumnya, dokter akan membuat lubang kecil terlebih dahulu di tengkorak otak. Secara lebih rincinya, pembuatan lubang dilakukan di bagian bawah salah satu rongga otak atau di antara rongga otak.

Hal ini bertujuan untuk memudahkan kelebihan cairan serebrospinal untuk mengalir keluar dari dalam otak.

Setelah kelebihan cairan serebrospinal berhasil dikeluarkan dengan membuat lubang, selanjutnya endoskop atau kamera kecil diambil kembali.

Selanjutnya, dokter menutup luka atau lubang pada otak dan kepala dengan membuat jahitan. Keseluruhan rangkaian prosedur ventrikulostomi endoskopi ketiga dapat memakan waktu sekitar 1 jam.

Meski pengobatan hidrosefalus pada bayi ini hanya bisa dilakukan untuk kondisi tertentu, prosedur ini bisa menjadi pilihan untuk penumpukan cairan serebrospinal yang disebabkan oleh penyumbatan.

Cairan serebrospinal nantinya akan mengalir ke luar melalui lubang guna mengurangi penyumbatan.

Adakah risiko komplikasi dari pengobatan hidrosefalus?

masalah gizi pada bayi

Ada beberapa faktor yang menjadi penentu tingkat keparahan hidrosefalus. Berbagai faktor tersebut meliputi sejak kapan hidrosefalus mulai muncul dan bagaimana perkembangannya.

Jika kondisi hidrosefalus semakin parah setelah bayi lahir, kemungkinan besar si kecil bisa mengalami kerusakan otak dan cacat fisik.

Sementara bila kondisi hidrosefalus tidak begitu parah dan bayi segera diberikan pengobatan, otomatis kesehatan tubuh bayi nantinya juga akan jauh lebih baik.

Meski begitu, kedua jenis pengobatan hidrosefalus pada bayi yang telah dijelaskan sebelumnya tidak luput dari risiko dan kemungkinan komplikasi.

Prosedur shunt dapat mengalami kerusakan mekanis, penyumbatan, maupun infeksi sehingga membuatnya berhenti mengalirkan cairan serebrospinal.

Sementara komplikasi dari ventrikulostomi endoskopi ketiga atau endoscopic third ventriculostomy (ETV) bisa mengakibatkan perdarahan dan infeksi.

Gangguan atau komplikasi apa pun terkait pengobatan hidrosefalus pada bayi membutuhkan penanganan segera mungkin.

Melansir dari laman Mayo Clinic, berikut beberapa gejala adanya komplikasi pada bayi setelah menjalani penanganan hidrosefalus:

  • Bayi demam
  • Mudah rewel dan marah
  • Sering mengantuk
  • Mual dan muntah
  • Bayi sakit kepala
  • Mengalami masalah penglihatan
  • Muncul kemerahan dan rasa sakit pada kulit di sepanjang jalur aliran alat shunt
  • Timbul nyeri area katup shunt ada di perut
  • Gejala hidrosefalus awal kambuh kembali

Sebaiknya jangan sepelekan tanda dan gejala hidrosefalus pada bayi, entah itu muncul sebelum pengobatan maupun setelahnya.

Anda sangat disarankan untuk segera membawa si kecil ke dokter agar segera mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat guna mencegahnya mengalami gangguan pertumbuhan.

Jangan lupa juga untuk rutin periksa kehamilan dan mendapatkan imunisasi saat hamil untuk mencegah risiko terjadinya hidrosefalus.

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan munculnya infeksi selama kehamilan dan bayi lahir prematur yang dapat meningkatkan risiko hidrosefalus.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah kondisi pembesaran ukuran kepala bayi karena penumpukan cairan. Kenali penyebab, gejala, dan pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 3 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

Katarak Kongenital

Katarak kongenital adalah kelainan bawaan lahir pada bayi, yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh dan menghambat penglihatannya. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Mata, Katarak 7 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Achondroplasia (Akondroplasia)

Achondroplasia atau akondroplasia adalah kelainan tulang pada bayi yang baru lahir. Simak gejala, penyebab, dan cara mengatasinya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Hemofilia

Hemofilia adalah kelainan darah akibat rusaknya faktor pembekuan darah. Ini adalah kondisi genetik yang menyebabkan perdarahan sulit dihentikan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Kelainan Darah, Hemofilia 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

retardasi atau keterbelakangan mental

Retardasi Mental (Keterbelakangan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 12 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
tourette syndrome sindrom tourette adalah

Tourette Syndrome, Gangguan Saraf yang Membuat Anak Tidak Bisa Mengendalikan Gerakan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
feses bayi

Hirschsprung (Hisprung)

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
gastroschisis adalah

Gastroschisis, Kondisi Saat Bagian Dalam Perut Anak Berada di Luar Tubuh

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit