Antibodi hu1B7, Obat Baru untuk Melindungi Bayi dari Batuk Rejan (Pertussis)

Oleh Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Anak-anak dan balita adalah kelompok usia yang paling rentan mengalami batuk. Akan tetapi, waspada jika batuk anak keras, parah, berlangsung lama, juga disertai napas terengah dan suara mengi (napas berbunyi ngik-ngik). Ini bisa jadi tanda batuk rejan. Nah, sebuah penelitian baru-baru ini menemukan jenis obat baru yang berpotensi mencegah infeksi pertusis. Berikut informasi lengkapnya seputar obat batuk rejan baru tersebut.

Siapa saja yang paling berisiko terkena pertussis?

Batuk rejan, dikenal sebagai pertusis, adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), dari sekitar 30-50 juta kasus batuk rejan per tahunnya di seluruh dunia, 300.000 kasus di antaranya berakhir pada kematian. Di Amerika Serikat, kasus penyakit ini diperkirakan sekitar 800.000 sampai 3,3 juta kasus per tahun.

Pertusis lebih sering terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan dan anak-anak kecil berusia satu sampai enam tahun. Namun, yang paling berisiko untuk mengalami batuk rejan adalah kelompok bayi baru lahir pada dua bulan pertama kehidupannya. Pasalnya, mereka belum cukup umur untuk mendapatkan vaksin pertusis (Tdap dan Dtap). Itu sebabnya untuk alasan ini, ibu hamil disarankan untuk mendapatkan vaksin Tdap untuk dapat memberikan perlindungan kepada janinnya sejak sebelum dilahirkan.

Namun masalahnya, tidak semua ibu hamil mendapatkan vaksin pertussis. Solusi potensial untuk masalah tersebut yaitu dengan memberikan obat kepada bayi-bayi yang baru lahir agar dapat melindungi mereka dari infeksi penyakit batuk rejan.

Antibodi huB17, obat batuk rejan baru yang diformulasikan di Texas

Sebuah tim peneliti dari Universitas Texas di Austin and Syntethic Biologics inc., mengembangkan jenis obat yang berpotensi untuk mencegah atau menyembuhkan batuk rejan. Obat batuk rejan baru ini mengandung antibodi bernama hu1B7, yang dapat mengikat racun dari bakteri penyebab pertussis dan menjadikannya tidak berbahaya.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti memberikan antibodi hu1B7 kepada 7 ekor bayi babon yang baru beberapa hari dilahirkan, dan membandingkannya dengan 7 ekor babon lain yang tidak mendapatkan antibodi hu1B7. Ketika semua hewan tersebut disenutikkan dengan bakteri Bordetella pertussis, kelompok babon yang menerima antibodi hu1B7 tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala batuk rejan. Sebaliknya, babon yang tidak menerima antibodi hu1B7 jatuh sakit, dan empat dari mereka harus disuntik mati.

Kekurangan antibodi hub17

Meskipun obat baru tersebut menunjukkan efek pencegahan batuk rejan yang potensial pada hewan, namun tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk bisa sampai diberikan kepada manusia.

Terlebih tidak seperti vaksin, antibodi hu1B7 tidak memberikan perlindungan jangka panjang. Pasalnya, antibodi tersebut akan dipecah dan dibersihkan dari tubuh setelah jangka waktu tertentu. Obat batuk rejan hu1B7 dilaporkan memiliki jangka waktu efektivitas hingga 25 hari pada manusia. Setelahnya, residu obat ini akan dikeluarkan dari tubuh secara total.

Meski begitu, peneliti masih terus mengembangkan versi antibodi huB17 yang lebih mutakhir agar bisa bertahan hingga 80-100 hari dalam tubuh manusia. Dengan “umur” yang lebih panjang ini, satu dosis obat batuk rejan tersebut dapat melindungi bayi selama periode rentan mereka, yaitu pada masa sebelum bisa mendapatkan vaksin pertusis (Tdap dan Dtap).

Batuk rejan dapat dicegah dengan vaksin

Batuk rejan sangat mudah menular lewat partikel air yang menyembur keetika batuk atau bersin tidak ditutup. Namun, vaksin DtaP dan Tdap dapat membantu mencegah penyebaran infeksi. Risiko penularan bahkan bisa ditekan drastis hingga 55 persen hanya dengan vaksin ini.

Sedangkan untuk penanganan penyakitnya lebih bersifat suportif, yaitu dengan resep antibiotik (erythromycin dan azithromycin) dan memperhatikan asupan nutrisi serta kebutuhan cairan anak. Langkah perawatan dokter selanjutnya adalah mencegah risiko terjadinya gagal napas dan kekurangan oksigen.

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We are excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca