Muntah Pada Bayi dan Balita: Mana yang Normal, Mana yang Berbahaya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/05/2020
Bagikan sekarang

Muntah merupakan terjadinya pengeluaran kembali sebagian atau seluruh isi lambung, yang terjadi setelah makanan agak lama masuk ke dalam lambung. Muntah sering ditemui pada bayi dan balita dan dapat bersifat berbahaya maupun tidak berbahaya. Muntah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Infeksi saluran pencernaan: atau biasa disebut gastroenteritis, dapat disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit. Selain muntah, infeksi pada saluran pencernaan ini juga dapat mengakibatkan diare. Gastroenteritis merupakan penyebab muntah yang paling sering terjadi pada anak. Pada kasus gastroenteritis, muntah-muntah biasanya akan berlangsung selama beberapa hari.
  • Keracunan makanan: jika anak Anda tidak sengaja menelan sesuatu yang bersifat racun, atau memakan makanan yang sudah buruk kualitasnya, maka tidak menutup kemungkinan terjadinya keracunan makanan yang dapat menyebabkan demam serta muntah.
  • Alergi makanan: sesaat setelah mengonsumsi makanan yang menimbulkan alergi, anak dapat mengalami gejala seperti mual, muntah, hingga sakit di bagian perut.
  • Infeksi dan penyakit lain: adanya infeksi di bagian lain seperti infeksi telinga dan infeksi saluran kemih, terjangkit flu, hingga pneumonia dan meningitis juga dapat memicu terjadinya muntah pada anak.
  • Kecemasan berlebih dan stress: muntah tidak hanya dapat dipicu oleh faktor fisik saja melainkan juga oleh faktor psikologis. Kecemasan yang berlebihan misalnya saat anak Anda menghadapi hari pertama sekolah, atau ketakutan berlebihan pada sesuatu juga dapat memicu muntah pada anak.

Muntah atau regurgitasi?

Muntah dapat dibedakan dari regurgitasi, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan gumoh, dan sering terjadi pada anak usia 4-6 bulan karena kerja sistem pencernaan yang belum sempurna. Regurgitasi merupakan keadaan di mana anak mengeluarkan kembali sedikit makanan atau susu yang baru saja diminumnya. Regurgitasi bersifat pasif, artinya tidak membutuhkan usaha dan paksaan dari anak. Ini berbeda dengan muntah yang terjadi secara aktif dimana terjadi paksaan untuk mengosongkan isi lambung.

Regurgitasi dapat terjadi karena anak terlalu kenyang, posisi anak yang kurang tepat saat menyusui, udara yang ikut masuk saat menyusu, serta terburu-buru saat menghisap susu. Namun jika regurgitasi terjadi lebih dari empat kali sehari dan tidak hanya sesaat setelah makan tetapi juga terjadi saat tidur, maka hal tersebut perlu diperhatikan.

Muntah yang normal

Meski menimbulkan kepanikan, sebenarnya sebagian besar penyebab muntah pada anak cenderung tidak berbahaya.  Misalnya bayi yang baru lahir akan sering muntah di minggu-minggu pertama karena ia masih membiasakan diri dengan makanan yang masuk. Menangis dan batuk yang berlebihan juga dapat memicu refleks muntah. Anak Anda juga mungkin sedang membiasakan diri dengan porsi makannya yang baru, sehingga bisa kemudian muntah karena terlalu kenyang.

Lalu keadaan seperti apa yang menandakan bahwa sebenarnya keadaan anak Anda tergolong normal?

  • Anak Anda tidak demam tinggi
  • Anak Anda masih mau makan dan minum
  • Anak masih bisa bermain, tidak rewel berlebihan
  • Anak masih responsif
  • Gejala dan efek muntah mereda setelah 6-24 jam
  • Tidak ada darah dan cairan empedu (biasanya berwarna kehijauan) pada muntahan anak Anda

Lalu bagaimana muntah yang harus diwaspadai?

Meski kebanyakan muntah adalah normal, Anda tetap harus waspada dan memperhatikan setiap anak muntah, karena jika diiringi beberapa gejala berikut ini, artinya mungkin ada masalah lain yang lebih serius.

  • Anak lemas dan tidak responsif
  • Kulit menjadi pucat dan dingin
  • Anak kehilangan nafsu makan dan menolak makan
  • TImbul gejala dehidrasi seperti mulut kering, menangis tapi tidak mengeluarkan air mata, dan buang air kecil tidak sesering biasanya
  • Muntah lebih dari tiga kali dalam 24 jam atau berlangsung selama lebih dari tiga hari dan disertai demam
  • Muntah dan diare secara bersamaan
  • Sakit pada perut yang tidak tertahankan serta muncul pembengkakan pada perut
  • Ada substansi darah atau cairan empedu pada muntahannya
  • Nafas menjadi pendek-pendek

Jika keadaan seperti d iatas muncul, Anda harus mempertimbangkan memeriksakan anak Anda ke dokter.

BACA JUGA:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Cara Agar Tidak Lemas Akibat Muntah-muntah Saat DBD

Muntah termasuk gejala demam berdarah yang sering terjadi dan mengakibatkan tubuh cepat lemas. Lakukan hal ini agar rasa lemas hilang dan tubuh cepat pulih.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Berat Badan Bayi Ideal Usia 0-12 Bulan

Berat badan bayi ideal merupakan patokan utama terhadap kualitas perkembangan dari bayi. Berapa seharusnya berat badan bayi di satu tahun pertamanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

Tahukah Anda, bahwa melakukan aborsi sendiri dapat menyebabkan munculnya penyakit ganas pada sang ibu? Itulah penyebab utama dari kematian ibu di dunia.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Melahirkan, Kehamilan 01/04/2020

Mencegah Anak Shopaholic, Begini Caranya

Anak menjadi kecanduan belanja atau shopaholic memang merepotkan. Kita harus mencegahnya agar tidak terbiasa hingga dewasa. Berikut tips mencegahnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Direkomendasikan untuk Anda

Pilihan Obat yang Ampuh untuk Meredakan Gejala Muntaber

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020
memilih hewan untuk anak

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020
susu formula yang tidak bikin sembelit untuk bayi anak

Pilihan Susu Formula Agar Bayi Tidak Sembelit

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 22/04/2020
perkembangan psikologi anak

Mendidik Anak yang Sukses, Lakukan Tips Berikut Ini!

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 11/04/2020