Berbagai Masalah yang Dialami Anak Broken Home

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Broken home adalah kondisi ketika sebuah keluarga mengalami keretakan dan ujungnya berpisah. Keretakkan ini bisa disebabkan karena pertengkaran, KDRT, hingga perceraian. Tak hanya berdampak pada orangtua saja, broken home juga dapat memengaruhi anak-anak.

Para peneliti dari University of New Hampshire Cooperative Extension menjelaskan bahwa efek dari keluarga yang tidak harmonis pada anak berbeda-beda. Hal ini tergantung pada usia seorang anak ketika orangtua bercerai, kepribadian anak, dan hubungan di dalam keluarga.

Masalah-masalah yang sering dialami anak broken home

Tanpa disadari, mendengar pertengkaran orangtua setiap hari dapat melukai hati anak. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, anak akan memuculkan berbagai reaksi sebagai bentuk ungkapan isi hati dan pikirannya. Hal ini tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga memengaruhi hubungan anak dengan orang-orang di sekitarnya.

Balita dan anak-anak yang masih sangat kecil mungkin tidak akan mengalami efek perkembangan yang terlalu negatif. Namun, anak-anak yang orangtuanya bercerai saat mereka sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja mungkin mengalami beberapa masalah dalam fungsi sosial, emosional, dan pendidikan mereka.

Beberapa masalah yang sering dialami oleh anak broken home adalah:

1. Masalah emosional

Perceraian orangtua tentu menyisakan luka yang mendalam pada anak. Apalagi jika anak sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja. Emosinya yang masih labil dan meluap-luap membuat anak-anak broken home cenderung sulit untuk mengontrol emosi mereka sendiri. Anak broken home usia sekolah dan remaja mungkin akan secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka dengan cara berbuat anarkis, seperti sering berteriak-teriak, berbuat kasar, dan lain sebagainya.

Tak hanya itu saja, anak-anak juga lebih rentan mengalami stres dan depresi, yang merupakan keadaan emosional jangka panjang. Masalah emosional ini bahkan  dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah perceraian orangtua, jelas psikolog asal Amerika Serikat, Lori Rappaport.

Di sisi lain, beberapa anak yang sudah beranjak dewasa mungkin menunjukkan reaksi emosional yang jauh lebih sedikit ketika menghadapi perpisahan orangtua mereka. Meski di luar mereka tampak baik-baik saja, namun banyak anak usia dewasa sebenarnya memendam perasaan negatif di dalam dirinya. Penekanan emosional ini justru dapat membuat orangtua, guru, dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses perasaannya dengan cara yang tepat.

Sebuah studi menunjukkan bahwa kasus bunuh diri yang dilakukan oleh anak broken home jauh lebih tinggi ketimbang anak yang berasal dari keluarga yang harmonis. Meski begitu, sampai saat ini para peneliti belum menemukan korelasi yang tepat antara perceraian dan bunuh diri seorang anak. Para peneliti menduga  bawah tampaknya hal tersebut bisa dipicu oleh bentuk penolakan anak terhadap sikap yang diambil orangtua.

2. Masalah pendidikan

Masalah lain yang mungkin dialami anak yang broken home adalah menurunnya prestasi akademik di seklah. Sebenarnya hal ini tidak mengagetkan. Jika ditelisik lagi, masalah stres secara emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis anak di sekolah, apalagi perubahan gaya hidup dan suasana keluarga yang tidak harmonis. Hal ini pada akhirnya dapat berkontribusi pada hasil pendidikan anak yang buruk.

Berbagai masalah akademik ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk lingkungan rumah yang tidak kondusif, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak konsisten. Alhasil, anak jadi malas belajar, sering bolos, atau membuat keributan di sekolah. 

3. Masalah sosial

Perceraian juga dapat memengaruhi hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya, Akibat perceraian, beberapa anak mungkin akan melepaskan rasa kegelisahan mereka dengan bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying (penindasan). Keduanya sama-sama tindakan negatif. Jika dibiarkan terus-terusan, kondisi tersebut dapat memengaruhi hubungan anak dengan teman sebayanya.

Masalah lainnya yang juga sering dialami anak broken home adalah munculnya rasa cemas berlebih. Kecemasan ini dapat membuat mereka sulit untuk melakukan interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan pengembangan diri yang bermanfaat, seperti olahraga.

Anak broken home mungkin juga akan memunculkan sikap sinis dan rasa tidak percaya terhadap sebuah hubungan, baik terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka, jelas psikolog Carl Pickhardt, dalam artikelnya yang berjudul “Parental Divorce and Adolescents” yang diterbitkan pada laman Psychology Today.

4. Masalah dinamika keluarga

Menurut hakikatnya, perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga, namun juga dinamikanya. Bahkan jika Anda dan pasangan Anda bercerai secara damai, hal itu pada akhirnya akan menciptakan dua rumah tangga baru yang secara permanen mengubah interaksi dan peran keluarga. Nah, berdasarkan aturan kehidupan yang baru, anak-anak Anda mungkin perlu melakukan beberapa tugas rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga yang baru pula.

Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung sering kali akan mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya. Entah karena kesibukan orangtua untuk bekerja atau karena orangtua memang tidak bisa selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.

Dalam banyak kasus, anak broken home di rentang usia 18 hingga 22 tahun kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua mereka. Kebanyakan dari mereka akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku. Tak jarang, banyak dari mereka yang sampai membutuhkan bantuan psikologis untuk membantu mengontrol emosisinya sendiri.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Child Psychology Divorce juga menemukan bahwa anak broken home kurang patuh pada orangtua mereka yang bercerai.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Sociological Association menemukan bahwa efek perceraian tidak hanya dapat dirasakan saat itu saja, tapi juga bisa bertahan lama dalam jangka waktu yang panjang, sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Fungsi Testis, Anatomi, dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

Fungsi testis sangat penting sebagai salah satu bagian organ reproduksi pria. Kenali anatomi testis normal dan risiko penyakit yang menyertai berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Kesehatan Pria, Kesehatan Penis 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ternyata menonton film sedih bukan cuma membuat kita menangis, tapi ada juga manfaat lainnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Manfaat Buah Stroberi yang Baik untuk Kesehatan Tubuh

Tahukah Anda, buah stroberi dapat membantu mencegah katarak dan menurunkan tekanan darah? Apalagi manfaat buah merah asam ini untuk kesehatan tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Fakta Gizi, Nutrisi 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

7 Olahraga untuk Membantu Menambah Tinggi Badan

Usia remaja belum terlambat untuk menambah tinggi badan lewat berbagai cara, terutama asupan nutrisi dan olahraga berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Olahraga Lainnya, Kebugaran 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

putus kenapa cinta memudar

4 Alasan Psikologis Cinta Bisa Memudar

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
resep oatmeal sehat

7 Resep Oatmeal Sehat dan Mudah untuk di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
tips waxing di rumah

Tips Melakukan Waxing di Rumah Dengan Bahan-bahan Alami

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
cara menghilangkan rasa cemas

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit