Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenali Ciri Campak Jerman (Rubella) yang Bisa Menyerang Anak

Kenali Ciri Campak Jerman (Rubella) yang Bisa Menyerang Anak

Seperti apa ciri-ciri campak jerman (rubella)? Campak dan rubella adalah dua penyakit berbeda, sehingga memiliki ciri yang tidak sama. Berikut ciri-ciri campak jerman dan beberapa perbedaan antara campak biasa dan campak jerman.

Ciri-ciri campak jerman

campak, Penyakit campak, imunisasi campak, campak jerman, gejala campak, campak pada bayi

Jika dibandingkan dengan campak, ciri-ciri campak jerman (rubella) pada anak dan orang dewasa cenderung lebih ringan.

Itu sebabnya, gejala yang muncul biasanya sulit dikenali. Gejala umumnya timbul dalam waktu 2-3 minggu sejak virus menyerang tubuh.

Jadi, begitu virus masuk ke dalam tubuh, umumnya belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa anak terserang campak jerman.

Adapun ciri-ciri campak jerman pada anak dan orang dewasa, antara lain:

  • ruam merah di wajah yang lalu menyebar ke seluruh tubuh,
  • demam ringan,
  • mata merah,
  • sakit kepala,
  • nyeri otot,
  • hidung tersumbat, dan
  • kelenjar getah bening membengkak.

Biasanya bayi dan balita yang belum pernah melakukan vaksin MMR lebih rentan terkena penyakit yang satu ini. Imunisasi tersebut berguna untuk mengurangi infeksi virus penyebab campak (measles), gondongan (mumps), dan rubella.

Vaksin biasanya diberikan kepada anak sebanyak dua kali. Pertama, ketika anak berusia antara 12 hingga 15 bulan dan yang kedua ketika anak berusia antara 4 sampai 6 tahun.

Seseorang dengan rubella bisa menyebarkan penyakit ini kepada orang lain lewat batuk, satu minggu sebelum ruam muncul hingga 7 hari setelah kemunculannya.

Namun, dilansir dari Centers Disease Control and Prevention, 25-50 persen orang yang terinfeksi rubella biasanya tidak mengalami ruam atau gejala apa pun.

Meskipun tanda yang muncu hanya salah satu dari yang sudah disebutkan, penting untuk segera memeriksakan anak ke dokter.

Umumnya ciri-ciri campak jerman pada anak maupun orang dewasa tidak jauh berbeda. Namun, tingkat keparahannya berbeda untuk ibu hamil.

Perbedaan campak dan rubella

vaksin DBD untuk anak

Campak dan rubella atau campak jerman disebabkan oleh dua virus berbeda, tapi sama-sama berkembang di tenggorokan. Berikut beberapa perbedaan antara kedua penyakit ini.

Gejala yang dirasakan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya kalau campak jerman memiliki ciri-ciri yang tidak parah, seperti demam ringan

Sementara itu untuk campak biasa, memiliki gejala demam tinggi setelah terinfeksi virus sekitar 10 hingga 12 hari kemudian.

Demam tersebut berlangsung selama 4-7 hari. Di waktu tersebut ada juga keluhan lain berupa:

  • hidung berair,
  • mata merah,
  • sakit tenggorokan,
  • demam,
  • batuk kering,
  • bintik putih kecil di mulut,
  • ruam kulit dengan bercak besar dan merah, disertai rasa gatal di sekujur tubuh. (Ruam biasanya muncul lima hari sejak virus berkembang di dalam tubuh.)

Infeksi ini umumnya terjadi secara bertahap selama 2 hingga 3 minggu.

Virus yang menginfeksi

Perbedaan pertama antara campak dan rubella adalah virusnya. Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari keluarga paramyxovirus.

Sementara itu, campak jerman yang dikenal juga dengan istilah rubella adalah infeksi menular yang disebabkan oleh virus rubella.

Kedua virus ini bisa langsung melalui udara ataupun sentuhan langsung dengan cairan dari tubuh orang yang terinfeksi.

Baik virus campak maupun campak jerman dapat hidup di udara bebas hingga dua jam.

Jenis pengobatan

Sebelum mulai pengobatan, dokter akan mendiagnosis terlebih dulu dengan memeriksa ruam pada kulit dan ciri-ciri lain dari penyakit campak atau campak jerman (rubella).

Jika dirasa cukup sulit, dokter mungkin akan melakukan tes darah untuk memastikannya.

Namun jenis pengobatan antara campak dan rubella agak berbeda. Beberapa obat-obatan ini bisa dianjurkan untuk meredakan gejala campak.

  • Acetaminophen, untuk meredakan demam dan nyeri otot.
  • Suplemen vitamin A, untuk mengurangi keparahan penyakit.
  • Antibiotik, jika ada infeksi bakteri yang juga menyerang.
  • Vaksinasi setelah terpapar, untuk mencegah keparahan gejala.
  • Immune serum globulin, untuk mencegah gejala semakin parah terutama diberikan untuk wanita hamil, bayi, dan orang dengan imun lemah.

Jangan berikan aspirin pada anak atau remaja yang terserang kondisi ini. Pasalnya, meski aspirin disetujui untuk digunakan pada anak di atas usia 3 tahun, hal ini bisa jadi berbahaya.

Aspirin bisa menyebabkan sindrom Reye pada anak, yang menyebabkan membengkaknya organ hati dan otak.

Sementara pada campak jerman atau rubella,tidak ada obat khusus karena gejala yang muncul cukup ringan. Umumnya anak yang menderita campak jerman tidak memerlukan perawatan khusus.

Penderita hanya akan disarankan untuk memperbanyak istirahat di rumah dan menyertainya dengan minum acetaminophen atau ibuprofen guna meringankan gejala.

Sementara untuk ibu hamil bisa diobati dengan antibodi bernama hyperimmune globulin untuk melawan perkembangan virus.

Jika gejala tak juga membaik dan terdapat ciri-ciri campak jerman lain, konsultasikan kembali ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Komplikasi penyakit

Komplikasi akibat penyakit campak bisa sampai mengancam nyawa, seperti radang paru dan radang otak. Komplikasi lain yang mungkin terjadi yakni:

  • bronkitis,
  • pneumonia,
  • infeksi telinga,
  • keguguran atau persalinan prematur jika diderita oleh ibu hamil,
  • penurunan trombosit darah,
  • kebutaan, dan
  • diare berat.

Sementara pada rubella, keluhan yang paling sering dialami seperti radang sendi di jari, pergelangan tangan, hingga lutut.

Biasanya bisa terjadi dan berlangsung selama sekitar satu bulan. Dalam kasus yang jarang, rubella juga bisa mengakibatkan infeksi telinga dan peradangan otak.

Satu hal yang perlu menjadi perhatian, dan mungkin jadi perbedaan yang cukup signifikan pada ibu hamil, apabila campak jerman (rubella) menyerang ibu yang sedang hamil, kondisi ini bisa mengakibatkan sindrom rubella kongenital.

Beberapa masalah yang akan terjadi di antaranya yaitu:

  • katarak,
  • tuli,
  • kelainan jantung kongenital,
  • cacat organ,
  • cacat intelektual,
  • pertumbuhan yang tertunda,
  • keguguran, dan
  • bayi lahir mati.

Sindrom ini terjadi pada sekitar 80 persen bayi yang lahir dari ibu yang menderita campak.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Rubella – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 23 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rubella/symptoms-causes/syc-20377310
Measles – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 23 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/measles/symptoms-causes/syc-20374857
Rubella | Transmission | CDC. (2020). Retrieved 23 November 2020, from https://www.cdc.gov/rubella/about/transmission.html
Measles – Prevention . (2017). Retrieved 23 November 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/measles/prevention/
Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian II). (2015). Retrieved 23 November 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-ii
WHO South-East Asia | World Health Organization. (2020). Retrieved 23 November 2020, from https://www.who.int/southeastasia
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 14/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x