Mengenal Penyebab dan Gejala Trauma PTSD Pada Anak

Seseorang yang melihat atau mengalami sebuah peristiwa, lalu berdampak pada respon emosionalnya, bisa dikatakan mengalami trauma. Trauma ini bisa terjadi pada usia anak-anak sekalipun, tidak hanya orang dewasa. Trauma pada anak yang tidak diatasi bisa berujung pada PTSD. Apa itu PTSD pada anak? 

Apa yang dimaksud trauma PTSD pada anak? apa semua trauma berujung PTSD?

PTSD adalah posttraumatic stress disorder, di mana ini adalah gangguan psikologis yang terjadi setelah anak mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan, yaitu trauma. 

Contoh, trauma pada anak yang bisa berubah menjadi PTSD bisa disebabkan oleh peristiwa seperti adanya bencana, mengalami kecelakaan, kekerasan, atau meninggalnya seseorang yang punya hubungan dekat dengan anak.

Namun perlu diketahui, bahwa tidak semua trauma pada anak menyebabkan PTSD.  Bagaimanapun, setiap anak punya faktor-faktor yang membuat ia mampu untuk menghadapi trauma.

Misalnya dengan dukungan lingkungan sosial yang baik, anak mampu mengelola emosinya, dan konsep diri yang baik.  

Setiap peristiwa yang terjadi pada anak juga punya dampak yang berbeda-beda. Misalnya, pada dua anak yang berbeda melihat adanya kecelakaan. 

Pada anak pertama, efeknya bisa hanya takut dan menangis. Setelah menyaksikan kejadian tersebut, ia dapat kembali ceria tanpa ada keluhan apa pun. Sedangkan pada anak kedua, setelah melihat kecelakaan tersebut sikapnya bisa berubah jadi diam dan menunjukkan tanda-tanda PTSD. 

Apa saja gejala anak mengalami trauma yang mengarah ke PTSD?

Ada beberapa ciri-ciri PTSD  akibat trauma yang dapat orang tua perhatikan pada anak setelah ia mengalami peristiwa traumatis:

  • Anak mengalami tekanan berulang tentang peristiwa itu. Misalnya anak jadi suka bermain tentang kecelakaan yang ia lihat, atau anak mengakui bahwa ia memikirkan hal itu terus menerus
  • Anak bermimpi buruk dan berhubungan dengan peristiwa itu; 
  • Anak mengulang kembali reaksi saat peristiwa itu terjadi, misalnya takut, teriak, menangis
  • Anak menghindari apapun yang mengingatkan tentang peristiwa itu, misalnya kecelakaan menghindari mobil
  • Anak sulit konsentrasi pada suatu hal
  • Anak jadi mudah terkejut

Apakah ada yang bisa dilakukan ortu saat anak trauma agar tidak sampai mengalami PTSD?

Ada beberapa hal yang dapat orangtua lakukan untuk mencegah trauma peristiwa pada anak tidak sampai menyebabkan PTSD. Berikut aksi yang bisa dilakukan para orang tua:

1. Orang tua dapat menanyakan apa anak pikirkan, apa yang ia lihat, dan apa yang mereka rasakan setelah melihat peristiwa  traumatis tersebut.

2. Orang tua bisa membiarkan anak untuk mengungkapkan perasaan mereka sembari didengarkan baik-baik. Bila anak sulit mengungkapkan dengan cerita langsung, Anda dapat mengetahui perasaannya lewat cara lain.

Misalnya seperti saat ia menggambar dan coba cari tahu apa ia ceritakan tentang apa yang digambarnya. Lalu, saat anak bermain boneka, orangtua juga dapat menanyakan apa yang bonekanya sedang lakukan. Dengan cara ini, orangtua dapat mengetahui isi perasaan anak

3. Anak yang khususnya usia di bawah 6 tahun, biasanya lebih mudah mengungkapkan perasaannya dengan ada simbol-simbol dari apa yang mereka gambar dan boneka yang mereka mainkan

4. Orang tua juga dapat bantu menciptakan rasa aman pada diri mereka. Misalnya dengan mengatakan “ Tenang ya adik, di sini ada Ayah dan Ibu yang menjaga kamu, kamu aman sekarang”. Anda juga bisa memberikan pelukan hangat atau membelai lembut anak untuk menambah rasa aman pada mereka. 

5. Setelah itu, orangtua bisa mengajak anak kembali ke rutinitasnya. Bila sudah melakukan langkah-langkah di atas dan masih ada perilaku yang membuat ortu khawatir, segera bawa buah hati ke psikolog anak.

Apa yang akan terjadi apabila trauma dan PTSD anak dibiarkan begitu saja?

Trauma berujung PTSD pada anak yang tidak diatasi akan memberikan dampak negatif. Misalnya, dapat memunculkan perilaku-perilaku negatif seperti kecemasan dan ketakutan berlebihan pada mereka.

Anak juga bisa jadi murung, menarik diri, dan sulit konsentrasi pada pelajar. Hal-hal tersebut dapat berdampak pada prestasi belajar, beradaptasi dengan teman, dan sikap anak ke depan nanti.

Pengobatan atau metode apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma anak?

Pengobatan trauma PTSD pada anak bisa diberikan melalui terapi, Terapi bisa diberikan tergantung keadaan anak, beberapa terapi untuk anak adalah play therapy, art therapy,  atau cognitive behavior therapy. Konsultasikan dan periksakan kondisi si kecil pada psikolog anak untuk mendapatkan perawatan yang terbaik

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 3, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 3, 2020

Sumber
Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog Psikolog

Hertha Christabelle Hambalie adalah seorang psikolog klinis anak. Ia menyelesaikan studi S1 dan S2 profesi Psikolog di Universitas Tarumanagara, Jakarta.

 

Hertha memiliki pengalaman menangani berbagai kasus anak hingga remaja dengan gangguan perkembangan, misalnya autisme, gangguan bicara, ADHD, dan disabilitas intellektual.

Ia juga melakukan pemeriksaan psikologis untuk membantu anak dan remaja menggali minat dan bakat, serta potensinya demi arahan yang tepat. Konseling untuk orangtua dan anak juga menjadi salah satu bidang yang ia tekuni.  

Ia percaya setiap anak memiliki potensi yang dapat dikembangkan, hanya saja perlu diberikan kesempatan dan arahan yang tepat.

Saat ini, Hertha berpraktik di konsultan psikologi miliknya yang bernama Clarity Psychology Assesment & Development Centre. Ia bisa dihubungi di 085781839363 atau melalui email [email protected]

Selengkapnya
Artikel Terbaru