Aspirasi Mekonium, Ketika Bayi Keracunan Air Ketuban yang Terkontaminasi Oleh Feses

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Kesehatan bayi selama masih di dalam kandungan atau setelah dilahirkan tentu menjadi dambaan setiap orangtua. Sayangnya, tak jarang ada masalah selama di dalam kandungan mau pun setelahnya yang memengaruhi kesehatan tubuh bayi. Aspirasi mekonium, misalnya, yang disebabkan oleh tercampurnya feses pertama bayi bersama air ketuban sehingga menyebabkan keracunan.

Sebagai orangtua, penting untuk memahami segala kemungkinan gangguan yang mengganggu kesehatan tubuh bayi. Termasuk keracunan air ketuban yang terkontaminasi ini. Untuk lebih jelasnya, mari simak ulasan lengkapnya.

Apa itu aspirasi mekonium?

higroma kistik

Aspirasi mekonium adalah kondisi ketika bayi keracunan air ketuban yang mengandung mekonium. Mekonium adalah kotoran, feses, atau tinja pertama bayi yang baru lahir dan biasanya mulai dihasilkan oleh usus sebelum kelahiran.

Sebenarnya mekonium merupakan hal normal dan memang dialami oleh setiap bayi yang baru lahir. Hanya saja, mekonium dapat mengganggu kesehatan bayi bila keluar saat masih di dalam kandungan, dan bercampur dengan air ketuban.

Ini bisa menyebabkan bayi keracunan karena telah menghirup air ketuban yang mengandung mekonium. Entah sebelum, selama, atau setelah kelahiran. Kondisi ini kemudian disebut sebagai aspirasi mekonium atau meconium aspiration syndrome (MAS).

Jadi, aspirasi mekonium pada bayi bukan sekadar keracunan air ketuban saja. Sebab selama berada di dalam kandungan, air ketuban memang berfungsi sebagai penghantar zat gizi untuk bayi.

Singkatnya, bayi memang akan meminum dan menghirup air ketuban saat berada di dalam kandungan. Ini tidak dapat dikatakan sebagai keracunan air ketuban.

Lagi-lagi, keracunan air ketuban pada bayi hanya terjadi jika ada mekonium yang tercampur di dalamnya dan terhirup oleh bayi. Pengaruh dari tekanan atau stres yang dialami bayi sebelum atau saat proses melahirkan, dapat menyebabkan bayi mengeluarkan mekonium saat masih di dalam kandungan.

Aspirasi mekonium biasanya dialami oleh bayi yang lahir di usia kehamilan cukup umur dan lebih dari 42 minggu. Kondisi ini memang tidak terlalu mengancam nyawa.

Namun, aspirasi mekonium bisa mengakibatkan komplikasi kesehatan pada bayi, dan berisiko fatal bila tidak segera diobati.

Apa penyebab aspirasi mekonium pada bayi?

kelahiran prematur bayi prematur

Aspirasi mekonium atau keracunan air ketuban pada bayi karena mekonium, bisa disebabkan oleh stres dan tekanan yang dialami bayi. Bayi dapat mengalami stres karena berbagai hal.

Salah satunya ketika tidak mendapatkan jumlah darah dan oksigen yang cukup saat di dalam kandungan. Selain itu, berikut berbagai penyebab stres pada bayi yang akhirnya mengakibatkan aspirasi mekonium:

  • Persediaan oksigen yang berkurang sebelum atau selama proses kelahiran.
  • Usia kehamilan sudah lebih dari 40 minggu.
  • Proses melahirkan memakan waktu lama, panjang, atau sulit.
  • Ibu mengalami masalah kesehatan tertentu saat hamil, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) dan diabetes gestasional.
  • Pertumbuhan janin dalam rahim terhambat

Mekonium biasanya baru akan diproduksi oleh tubuh bayi menjelang waktu melahirkan tiba. Itu sebabnya, kebanyakan kasus aspirasi mekonium dialami oleh bayi yang lahir cukup umur atau lewat dari usia kehamilan normal.

Terlebih karena semakin lama usia kehamilan, jumlah cairan ketuban juga akan semakin sedikit. Nah, di waktu inilah bayi berisiko mengalami keracunan air ketuban yang mengandung mekonium.

Setelah terhirup, air ketuban yang telah terkontaminasi tersebut kemudian masuk ke dalam paru-paru bayi. Kondisi ini bisa terjadi saat bayi masih di dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. Namun, aspirasi mekonium jarang terjadi pada bayi yang lahir prematur.

Apa gejala aspirasi mekonium pada bayi?

kulit sensitif pada bayi akibat terlalu higienis

Setiap bayi mungkin mengalami gejala aspirasi mekonium yang berbeda-beda. Gejala yang paling umum yakni pernapasan bayi tampak sangat cepat dan kuat saat mengembuskan napas.

Bayi yang baru lahir juga mungkin sampai susah bernapas karena saluran pernapasannya tersumbat oleh mekonium. Berikut berbagai gejala aspirasi mekonium yang dialami oleh bayi:

  • Napas berubah menjadi lebih cepat.
  • Pernapasan terganggu dan bermasalah, karena susah bernapas dengan normal.
  • Muncul suara mendengus saat mengembuskan napas.
  • Mengalami retraksi atau otot-otot dada dan leher tampak turun saat bayi bernapas.
  • Warna kulit bayi berubah menjadi berwarna kebiruan (sianosis).
  • Tekanan darah bayi rendah.
  • Air ketuban berubah warna menjadi agak gelap dan kehijauan.
  • Tubuh bayi tampak lemas.
  • Terlihat adanya mekonium di dalam air ketuban saat bayi lahir.

Mekonium yang ada di dalam air ketuban dalam waktu lama dapat mengakibatkan kulit dan kuku bayi menjadi menguning.

Apa komplikasi yang mungkin muncul dari aspirasi mekonium?

bayi berjemur penyakit kuning pada bayi

Sebagian besar bayi baru lahir yang mengalami aspirasi mekonium, jarang sampai mengalami komplikasi kesehatan jangka panjang. Meski begitu, keracunan air ketuban yang mengandung mekonium dapat berdampak langsung pada kesehatan bayi baru lahir.

Bukan tidak mungkin, mekonium ini bisa berdampak pada peradangan dan infeksi di paru-paru bayi dan menghambat saluran pernapasannya. Kondisi tersebut bisa membuat paru-paru mengembang.

Semakin sering paru-paru mengembang, udara di dalamnya dapat semakin menumpuk di rongga dada dan sekitar paru-paru. Kondisi ini dikenal dengan nama pneumotoraks, yang membuat proses pernapasan bayi menjadi sulit.

Di sisi lain, aspirasi mekonium juga dapat meningkatkan risiko hipertensi paru pada bayi baru lahir, atau pulmonary hypertension of the newborn (PPHN). PPHN merupakan kondisi langka, tapi dapat mengancam jiwa.

Ini karena tekanan darah tinggi di pembuluh paru-paru bisa membatasi aliran darah, sehingga membuat bayi susah bernapas dengan nyaman. Aspirasi mekonium pada bayi juga dapat menimbulkan komplikasi berupa terbatasnya aliran oksigen menuju ke otak.

Alhasil, sedikitnya oksigen untuk otak berisiko menimbulkan kerusakan permanen pada otak bayi.

Bagaimana cara mendiagnosis aspirasi mekonium pada bayi?

induksi melahirkan induksi persalinan

Cara mendiagnosis aspirasi mekonium yang paling awal yaitu dengan melihat adanya mekonium di dalam air ketuban bayi saat dilahirkan. Bahkan biasanya sebelum lahir, detak jantung bayi yang diamati tampak sangat lambat saat diperiksa.

Jika setelah lahir dokter mencurigai bayi mengalami keracunan air ketuban yang mengandung mekonium, dokter akan melakukan laringoskopi. Laringoskopi adalah prosedur pemeriksaan pita suara, tenggorokan, serta kotak suara (laring).

Dokter juga akan mendeteksi suara pernapasan yang tidak normal dengan menggunakan stetoskop yang ditempelkan di dada bayi. Pemeriksaan ini akan membantu dokter untuk menemukan suara yang tidak normal dan serak saat bayi bernapas.

Jika bayi mengalami aspirasi mekonium, akan muncul berbagai gejala khasnya segera setelah dilahirkan. Sekali pun sesaat setelah lahir bayi tampak kuat dan sehat, tapi beberapa jam kemudian bayi dapat mengalami gangguan pernapasan parah.

Untuk lebih memastikannya, selain dengan prosedur laringkoskopi dan menggunakan stetoskop, masih ada beberapa metode pemeriksaan lainnya. Berikut ini pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh dokter untuk memperjelas diagnosis aspirasi mekonium:

  • X-ray atau rontgen dada, untuk melihat apakah ada zat asing yang masuk ke dalam paru-paru bayi.
  • Tes darah, untuk mencari tahu hasil kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam tubuh bayi.

Bagaimana penanganan aspirasi mekonium pada bayi?

hb rendah pada bayi

Perawatan untuk bayi yang keracunan air ketuban mengandung mekonium bisa bervariasi. Ini tergantung dari lama waktu bayi keracunan air ketuban, jumlah mekonium, serta tingkat keparahan gangguan pernapasan yang dialami bayi.

Saat proses melahirkan

Mekonium dapat terlihat saat ketuban pecah atau adanya warna hijau tua di cairan ketuban. Jika hal itu terjadi, dokter akan memantau denyut jantung janin untuk melihat tanda-tanda gawat janin. Selain itu, dalam beberapa kasus dokter mungkin merekomendasikan penggunaan amnioinfusion yaitu mengencerkan cairan ketuban dengan larutan saline. Fungsinya adalah mencuci mekonium dari kantong ketuban sebelum bayi dapat menghirupnya saat lahir. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukkan tabung kecil ke dalam rahim melalui vagina.

Tabung tersebut bertugas untuk mengalirkan cairan steril agar bercampur dengan air ketuban yang telah terkontaminasi oleh mekonium.

Setelah bayi lahir

Sementara setelah lahir, bayi yang mengalami aspirasi mekonium harus menjalani penanganan segera untuk menghilangkan mekonium dari saluran pernapasannya.

Jika bayi yang baru lahir mengalami aspirasi mekonium tapi tubuhnya masih tampak baik dan detak jantung kuat lebih dari 100 detak per menit (BPM), tim medis akan mengamati kemungkinan munculnya gejala. Ketika nantinya muncul gejala yang menandakan masalah pada bayi, akan segera diberikan penanganan.

Sedangkan jika bayi yang keracunan air ketuban memiliki detak jantung rendah di bawah 100 BPM dan tampak lemas, akan langsung diberikan perawatan. Dokter biasanya menggunakan tabung untuk mengambil mekonium tersebut melalui hidung, mulut, maupun tenggorokan bayi.

Jika bayi baru lahir susah bernapas, tabung bisa dimasukkan ke dalam tenggorokan untuk menyedot air ketuban yang mengandung mekonium tersebut. Proses ini akan terus dilakukan sampai tidak terlihat lagi adanya mekonium pada saluran pernapasan bayi.

Dalam kasus lainnya, bagi bayi baru lahir yang susah bernapas dan denyut jantungnya rendah, pemberian oksigen tambahan bisa menjadi pilihan terbaik. Dokter akan memberikan oksigen tambahan melalui ventilator dan selang melalui tenggorokan bayi.

Hal ini ditujukan guna membantu mengembangkan paru-paru dan melancarkan saluran penapasan bayi.

Perawatan lanjutan untuk bayi

Setelah penanganan yang diberikan segera saat bayi baru lahir selesai, kemudian bayi ditempatkan di unit perawatan khusus agar bisa ditangani secara intensif. Ruang perawatan ini disebut juga dengan neonatal intensive care unit (NICU).

Berikut ini penanganan tambahan yang dapat dilakukan dokter dan tim medis pada bayi, guna mencegah munculnya komplikasi akibat aspirasi mekonium:

  • Terapi oksigen untuk memastikan kadar oksigen di dalam darah tercukupi.
  • Menggunakan penghangat untuk membantu menjaga suhu tubuh bayi.
  • Penggunaan ventilator atau alat bantu pernapasan untuk memudahkan bayi saat bernapas.
  • Memberikan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) pada bayi.

Untuk ECMO, baru akan diberikan pada komplikasi yang parah dan sebagai pilihan lanjutan jika bayi tidak merespon perawatan lain atau mengalami tekanan darah tinggi di paru-paru. Prosedur ini dilakukan dengan cara menggunakan sebuah alat medis yang bertugas untuk melakukan kerja selayaknya organ paru-paru dan jantung.

Dengan begitu, kondisi organ jantung dan paru-paru bayi yang mungkin bermasalah bisa membaik secara perlahan. Terkadang, dokter mungkin akan memberikan antibiotik selama perawatan untuk mencegah serta mengobati infeksi pada bayi.

Sumber foto: Human Parts

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca