Memahami Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir, Ketika Persediaan Oksigen untuk Bayi Tidak Tercukupi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Bayi membutuhkan persediaan oksigen yang cukup selama proses persalinan. Sebab jika tidak, otak serta semua organ di dalam tubuh bayi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bukan tidak mungkin, salah satu komplikasi melahirkan bisa terjadi pada bayi baru lahir, yang dikenal dengan nama asfiksia. Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena dapat berakibat fatal. Untuk lebih jelasnya, berikut ulasan lengkap mengenai asfiksia pada bayi baru lahir.

Apa itu asfiksia pada bayi baru lahir?

risiko melahirkan bayi prematur

Asfiksia pada bayi baru lahir adalah sebuah kondisi ketika bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup selama proses persalinan berlangsung. Asfiksia pada bayi baru lahir juga bisa disebut sebagai asfiksia perinatal.

Secara harfiahnya, asfiksia adalah kondisi saat pasokan oksigen menurun atau terhenti. Sementara perinatal adalah kondisi yang mencakup sebelum, selama, dan setelah melahirkan.

Jadi sebenarnya bukan selama melahirkan saja, asfiksia perinatal juga bisa dialami bayi sebelum maupun setelah kelahiran. Asfiksia perinatal juga bisa disebabkan oleh meningkatnya kadar karbon dioksida.

Tidak bisa dipandang sebelah mata, karena asfiksia yang terjadi pada bayi baru lahir berisiko fatal. Ini karena tanpa adanya pasokan oksigen yang memadai untuk bayi, otomatis sel-sel di dalam tubuhnya tidak dapat bekerja dengan baik.

Alhasil, akan ada banyak produk sisa seperti limbah asam yang menumpuk di dalam sel, sehingga mengakibatkan gangguan pada tubuh.

Apa saja gejala asfiksia pada bayi baru lahir?

Gejala asfiksia pada bayi baru lahir bisa berbeda-beda antara satu dan lainnya. Bahkan, kadang gejala dari kondisi ini bisa langsung muncul, tapi bisa juga tidak terdeteksi sesaat setelah bayi dilahirkan.

Salah satu tanda yang biasanya muncul yakni denyut jantung bayi yang terlalu tinggi atau rendah. Secara umumnya, berikut berbagai gejala asfiksia perinatal sebelum bayi dilahirkan:

  • Denyut atau irama jantung yang tidak normal.
  • Peningkatan kadar asam di dalam aliran darah bayi.

Setelah dilahirkan, gejala asfiksia pada bayi mencakup:

  • Kulit tampak pucat atau berwarna agak kebiruan.
  • Susah bernapas, hingga menyebabkan bayi bernapas dengan cepat atau terengah-engah, dan menggunakan perut.
  • Detak jantung agak melambat.
  • Otot melemah.
  • Bayi terlihat lemas.

Lama waktu bayi tidak mendapatkan persediaan oksigen yang cukup dapat memengaruhi ringan serta parahnya gejala asfiksia. Artinya, semakin lama bayi tidak memperoleh jumlah oksigen yang cukup, akan semakin besar pula kemungkinan gejala asfiksia muncul.

Dalam beberapa kasus, gejala asfiksia yang parah pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ. Meliputi organ jantung, otak, ginjal, dan paru-paru.

Apa penyebab asfiksia pada bayi baru lahir?

penyebab down syndrome bayi anak

Ada berbagai hal yang bisa menjadi penyebab asfiksia pada bayi baru lahir. Itulah mengapa dokter dan tim medis harus selalu memantau kondisi Anda dan bayi sebelum, selama, bahkan setelah proses persalinan.

Berikut ini beragam hal penyebab asfiksia perinatal:

  • Tekanan darah ibu terlalu tinggi atau rendah selama persalinan.
  • Persediaan oksigen dalam darah ibu tidak tercukupi sebelum maupun selama persalinan.
  • Ada masalah pada saluran pernapasan bayi.
  • Bayi mengalami anemia, sehingga sel-sel darah tubuhnya tidak mendapatkan cukup oksigen.
  • Ada penyakit infeksi yang menyerang ibu atau bayi.
  • Proses persalinan yang sulit atau memakan waktu lama.
  • Ada masalah pada plasenta yang membungkus tubuh bayi.
  • Plasenta lepas terlalu cepat saat melahirkan, sehingga membuat bayi susah bernapas.
  • Tali pusat prolaps atau tali pusat yang terjepit
  • Terjadi sindrom aspirasi mekonium, yaitu mekonium bayi terhirup sebelum, selama ataupun setelah persalinan
  • Saat kelahiran bayi sebelum 37 minggu (bayi prematur) maka paru-paru bayi belum berkembang sehingga tidak dapat bernapas

Persediaan oksigen yang kurang pada bayi sebelum, selama, atau setelah melahirkan bisa terjadi dalam dua cara. Pertama menyebabkan gangguan secara langsung, yang terjadi selama beberapa menit setelah persalinan.

Kedua, gangguan yang muncul ketika sel-sel tubuh sebenarnya sudah tidak lagi kekurangan oksigen. Namun, sel-sel tersebut justru melepaskan racun ke dalam tubuh bayi.

Bagaimana cara mendiagnosis asfiksia pada bayi baru lahir?

skrining bayi baru lahir

Dokter dan tim medis akan melakukan penilaian menggunakan skor Apgar (Apgar score) untuk mendiagnosis asfiksia pada bayi baru lahir. Pemeriksaan dilakukan sekitar 1-5 menit, dengan menilai pernapasan, nadi, otot, respon terhadap rangsangan, maupun kondisi fisik bayi.

Skor bisa berkisar dari 0 sampai dengan 10. Jika setelah 5 menit diperiksa ternyata skor Apgar bayi di bawah angka 7, kemungkinan besar ia mengalami asfiksia perinatal.

Apalagi jika hasil pemeriksaan ini berada di angka 3 atau di bawah 3, artinya bayi baru lahir memang mengalami asfiksia.

Apa pengobatan untuk asfiksia pada bayi baru lahir?

melahirkan bayi besar

Pemberian perawatan untuk ibu dan bayi yang mengalami asfiksia biasanya ditentukan oleh dua hal. Meliputi tingkat keparahan gejala bayi, serta waktu ketika bayi didiagnosis mengalami asfiksia.

Jika asfiksia sudah terdeteksi sebelum kelahiran, ibu mungkin akan diberikan oksigen tambahan guna meningkatkan pasokan oksigen pada bayi. Dalam hal ini, dokter biasanya akan menyarankan persalinan melalui operasi caesar untuk mencegah risiko terjadinya komplikasi selama melahirkan.

Setelah lahir, bayi dengan asfiksia juga memerlukan pemberian ventilasi. Di sini, ventilasi merupakan tindakan memasukkan oksigen ke dalam paru-paru bayi untuk memudahkan pernapasannya.

Selain itu, dokter dan tim medis juga akan selalu memantau tekanan darah dan asupan carian bayi untuk memastikannya mendapatkan oksigen yang memadai.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca