Saat Anak Sakit, Harus Istirahat di Rumah Atau Dibiarkan Masuk Sekolah?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 07/10/2017 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

“Mama… aku nggak masuk sekolah, ya, pusing soalnya”, kira-kira begitulah rengekan si kecil ketika ia merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya, atau bisa dibilang sakit. Memang, begitu anak mulai mengeluh sakit, orangtua pantas waspada. Tapi di sisi lain, si kecil mungkin juga hanya cari-cari alasan untuk tidak masuk sekolah. Begini cara cari tahunya apakah anak sakit beneran atau sebenarnya masih cukup kuat untuk bersekolah.

Anak sakit, harus istirahat di rumah atau masih kuat untuk sekolah, ya?

1. Ketika anak terkena flu

Anak sakit flu biasanya ditandai dengan gejala hidung ingusan atau mampet. Tapi biar hanya flu, orangtua ada baiknya tidak menganggap enteng penyakit ini.

Pasalnya, ketika anak sedang sakit flu, biasanya mood mereka cenderung berubah, lesu, dan nafsu makan pun ikut berubah. Demikian juga dengan gejala mengi ataupun sulit bernapas saat flu. Jika anak mengeluh dan merasakan gejala di atas, hal tersebut bisa Anda pertimbangkan untuk tidak memaksakan anak pergi ke sekolah. Lagipula, flu adalah penyakit menular. Sebaiknya istirahatkan dulu si kecil di rumah agar tidak mengoper penyakitnya ke teman-teman di sekolah.

2. Ketika anak terkena demam

Umumnya, paling mudah mengetahui anak sedang sakit demam. Para orang tua bisa mengetahui dari suhu tubuh yang meningkat. Demam pada dasarnya adalah cara tubuh melawan infeksi. Oleh karena itu, demam tidak selamanya buruk. Jika suhu tubuh anak masih di bawah 38,5 ° C dan ia tampaknya masih bisa beraktivitas seperti biasa, wwalau mungkin sedikit lemas, tak ada salahnya untuk memintanya tetap bersekolah. Tapi perhatikan jika suhu tubuh anak berada di kisaran 38,5 ° C, Anda bisa membawanya ke dokter dan beristirahat di rumah. Demamnya mungkin disebabkan oleh penyakit lain yang lebih serius.

3. Ketika anak mengalami muntaber

Sebetulnya, sulit untuk menentukan apa yang menjadi penyebab muntaber pada anak. Kemungkinan ada tiga hal, yaitu keracunan makanan, intoleransi laktosa, atau infeksi kuman (entah virus, parasit, atau bakteri).

Ketika memutuskan apakah anak Anda cukup sehat untuk bersekolah, Anda bisa melihatnya lewat seberapa sering ia ke kamar mandi untuk muntah ataupun buang air. Jika gejala tersebut berlangsung lebih dari 2-3 kali dalam 1 jam dan mengganggu rutinitas mereka, ada baiknya anak Anda istirahat di rumah. Terlebih jika muntaber yang di alami membuat anak sampai dehidrasi dan mengalami demam.

Intinya, percayakan naluri Anda untuk mendeteksi anak sakit beneran atau cuma alasan

Berdasarkan tiga cara di atas, tetap saja Anda harus menggunakan naluri untuk membuat keputusan bisa tidaknya anak Anda pergi ke sekolah. Apa masih bisa anak Anda masih berpartisipasi dalam kegiatan sekolah? Lagi pula gejala seperti sakit tenggorokan, batuk, atau demam ringan, tidak berarti juga menandakan anak jadi otomatis tidak aktif dan malas ikut serta dalam kegiatan sekolah.

Hanya Anda yang mengetahui apa yang terbaik untuk anak-anak Anda. Dengan begitu, mempercayakan insting dan naluri Anda bisa membantu memutuskan apakah anak cukup kuat masuk sekolah atau anak sakit Anda butuh perhatian dan perawatan lebih dari orangtuanya di rumah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Aktivitas Seru dan Menyenangkan untuk Si Kecil yang Gagap

Orangtua bisa mendorong kemampuan berbicara anak yang gagap lewat aktivitas menyenangkan. Apa saja aktivitas yang cocok untuk anak gagap? Lihat di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Parenting, Tips Parenting 07/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Supaya anak mau mendengarkan kata-kata orangtua, Anda perlu siasat khusus. Jangan malah dimarahi atau dibentak. Yuk, simak tips-tipsnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Tips Parenting 30/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Hewan peliharaan dan anak adalah gambaran yang menggemaskan. Namun, para orangtua perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih hewan untuk anak.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Parenting, Tips Parenting 10/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Imbauan penggunaan masker saat bepergian berlaku untuk siapa pun, termasuk anak. Apa saja aturan yang harus diperhatikan ketika anak memakai masker?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 08/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ruam susu bayi

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit
pelukan bayi perkembangan bayi 14 minggu perkembangan bayi 3 bulan 2 minggu

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit
akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit
mata plus pada anak

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit