Kekurangan Gizi pada Anak: Tanda, Jenis, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 September 2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Agar tumbuh kembangnya optimal, orangtua perlu memastikan asupan nutrisi anak terpenuhi dengan baik. Namun terkadang, kebutuhan gizi anak tidak sejalan dengan asupan makanan harian yang didapatkan. Bila berjalan cukup lama, hal tersebut bisa memicu timbulnya kekurangan gizi pada si kecil. Berikut penjelasan seputar kurang gizi pada anak yang perlu diperhatikan orangtua.

Apa itu kondisi anak kurang gizi?

Sumber: BBC

Kurang gizi adalah dampak dari tidak terpenuhinya kebutuhan gizi anak yang telah berlangsung sejak lama.

Bahkan, kondisi ini dapat dimulai ketika bayi atau masih berada di dalam kandungan.

Tidak hanya sampai di situ saja, setelah bayi lahir pun pemenuhan gizi untuk anak masih perlu diperhatikan setidaknya sampai ia berusia 2 tahun.

Hal tersebut harus menjadi perhatian utama yang tidak boleh disepelekan.

Pasalnya, sedari kehamilan sampai 2 tahun awal usia anak merupakan masa emas yang akan menentukan kehidupan anak selanjutnya.

Kurang gizi dapat diperparah bila anak sering mengalami penyakit infeksi.

Akibatnya, kurang gizi pada anak bisa membuat pertumbuhan dan perkembangan otak anak serta fisiknya terganggu.

Secara garis besar, anak kurang gizi umumnya mempunyai berat badan kurang (underweight), kurus (wasting), pendek (stunting), serta kekurangan vitamin dan mineral.

Di Indonesia sendiri, masalah kurang gizi pada anak masih menjadi perhatian yang serius.

Berdasarkan data Riskesdas 2013, jumlah anak balita yang menderita gizi kurang yakni sebesar 13,9 persen, pendek (stunting) sebesar 19,2 persen, dan kurus (wasting) sebesar 6,8 persen.

Apa saja gejala umum ketika anak kurang gizi?

Ciri anak kurang gizi bisa dibedakan berdasarkan usianya, seperti usia bayi dan anak di atas 5 tahun. Berikut penjelasan lengkapnya.

Gejala bayi kurang gizi

Bayi yang mengalami kurang gizi biasanya akan menunjukkan beberapa ciri-ciri atau tanda fisik. Melansir dari laman NHS, gejala yang tampak saat bayi kekurangan gizi, yaitu:

  • Pertumbuhan bayi tidak berjalan seperti yang seharusnya, misalnya berat badan bayi tidak kunjung bertambah.
  • Bayi mengalami perubahan perilaku, misalnya merasa gelisah dan sering rewel.
  • Mudah merasa lelah karena persediaan energi kurang optimal ketimbang bayi seusianya.

Kabar kurang baiknya, selain dapat dapat menimbulkan masalah gizi bayi dan kesehatan fisik yang cukup parah, kekurangan gizi ini juga berisiko mengancam nyawa si kecil.

Penting juga untuk diketahui bahwa ada kekurangan gizi bisa dibagi menjadi dua, yakni kurang gizi sedang (moderate malnutrition) dan kurang gizi akut (severe acute malnutrition).

Jika kurang gizi sedang pada bayi dibiarkan dalam waktu lama, kondisi ini bisa saja berkembang menjadi kekurangan gizi akut.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan kekurangan gizi sedang tersebut bisa menimbulkan wasting maupun stunting dalam bentuk yang lebih parah.

Gejala anak kurang gizi

Pada anak-anak yang mengalami kurang gizi berbagai tanda-tanda yang muncul, yakni:

  • Nafsu makan rendah
  • Anak mengalami gagal tumbuh (dilihat dari berat badan, tinggi badan, atau keduanya yang tidak sesuai dengan umurnya)
  • Kehilangan lemak dan massa otot tubuh
  • Kekuatan otot tubuh menghilang
  • Sangat mudah untuk marah, terlihat lesu, bahkan dapat menangis secara berlebihan
  • Mengalami kecemasan dan kurang perhatian terhadap lingkungan sekitar
  • Sulit berkonsentrasi dengan baik.
  • Kulit dan rambut kering, bahkan rambut mudah sekali rontok
  • Pipi dan mata tampak cekung
  • Proses penyembuhan luka sangat lama
  • Rentan terserang penyakit, dengan proses penyembuhan yang cenderung lama
  • Risiko komplikasi meningkat jika melakukan operasi

Bukan tidak mungkin juga, perkembangan balita dalam hal perilaku dan kemampuan intelektual anak terbilang sangat lambat.

Bahkan, anak bisa sampai mengalami kesulitan belajar ketika asupan gizi dalam tubuhnya kurang.

Apa saja permasalahan kurang gizi pada anak?

Menurut WHO, ada berbagai permasalahan yang timbul ketika anak mengalami kurang gizi (undernutrition), meliputi:

1. Berat badan kurang (underweight)

anak timbang berat badan

Berat badan anak kurang atau underweight ditandai ketika berat badan anak tidak setara dengan berat normal di kelompok usianya.

Namun, kondisi ini juga menunjukkan ketidakselarasan antara berat dan tinggi badan anak. Dalam arti, berat anak biasanya terlalu ringan untuk ukuran tinggi badan yang dimilikinya.

Oleh karena, berat badan kurang dapat diukur dengan menggunakan indikator berat badan berbanding dengan usia (BB/U) atau berbanding dengan tinggi badan (BB/TB).

Anak dikatakan memiliki berat badan kurang ketika nilai pengukuran z score di grafik pertumbuhan berada di antara <-2 SD sampai -3 standar deviasi (SD).

Selain tubuh yang kurus, gejala khas lainnya yang muncul ketika berat badan anak kurang yakni rentan sekali terserang penyakit.

Kondisi ini sulit ditentukan sendiri oleh orangtua. Butuh bantuan dokter gizi anak untuk mengeceknya.

2. Kurus (wasting)

anak kurang gizi

Berbeda dengan berat badan kurang (underweight), anak yang sangat kurus (wasting) memiliki berat yang sangat rendah dan tidak sesuai dengan tinggi badan.

Berat badan anak yang mengalami wasting biasanya jauh berada di bawah rentang normal yang seharusnya.

Indikator yang digunakan untuk menilai kemungkinan wasting pada anak yakni berat badan berbanding dengan tinggi badan (BB/TB).

Kondisi anak kurang gizi berat juga kerap digunakan untuk menggambarkan wasting.

Pasalnya, anak yang bertubuh sangat kurus biasanya sudah tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup dalam waktu lama.

Bahkan, anak tersebut juga bisa saja mengalami penyakit yang berhubungan dengan kehilangan berat badan, misalnya diare.

Gejala khas yang mudah terlihat jika anak mengalami wasting yaitu memiliki tubuh yang sangat kurus karena berat badannya sangat rendah.

3. Pendek (stunting)

anak stunting sebagai tanda kurang gizi

Pendek (stunting) adalah kondisi yang membuat pertumbuhan tubuh anak terganggu, sehingga tinggi badan anak tidak normal atau tidak setara dengan teman-teman seusianya.

Stunting tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan sudah terbentuk sejak lama karena tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.

Selain asupan gizi, stunting juga disebabkan oleh penyakit infeksi berulang serta berat badan lahir rendah (BBLR).

Sejak anak berusia 3 bulan, kondisi stunting umumnya sudah mulai meningkat, hingga prosesnya semakin melambat saat anak berusia sekitar 3 tahun.

Mulai sejak inilah grafik pertumbuhan tinggi badan anak bergerak mengikuti grafik normal, tapi dengan penilaian yang berada di bawah normal.

Indikator yang digunakan untuk menilai kemungkinan stunting pada anak yakni tinggi badan berbanding dengan usia (TB/U).

Anak dinyatakan bertubuh stunting jika grafik pertumbuhan tinggi badan sesuai usianya berada di angka kurang dari -2 SD.

4. Kekurangan vitamin dan mineral

anak kurang gizi

Bukan anak kurang gizi saja yang bisa mengalami kekurangan vitamin dan mineral, tapi anak dengan berat badan normal pun punya risiko yang sama.

Tanda kekurangan vitamin menjadi salah satu kondisi anak kurang gizi.

Mengutip dari WHO, beberapa jenis kekurangan vitamin dan mineral yang paling umum yaitu:

Vitamin A

Kekurangan vitamin A terjadi ketika asupan vitamin A dari makanan harian balita tidak mampu mencukupi kebutuhannya.

Kondisi tersebut bisa semakin memburuk jika anak rentan terserang penyakit infeksi, seperti diare dan campak.

Sulit melihat di malam hari merupakan salah satu gejala khas karena kekurangan vitamin A.

Dalam kondisi yang lebih parah, kekurangan vitamin A pada anak bisa mengakibatkan kebutaan karena rusaknya bagian retina dan kornea mata.

Jika tidak segera diatasi, anak yang kekurangan vitamin A berisiko mengalami masalah pernapasan dan penyakit infeksi.

Di sisi lain, kondisi ini juga mengarah pada terhambatnya laju pertumbuhan serta perkembangan tulang anak.

Ketika anak mengalami kekurangan vitamin A, beberapa gejala yang muncul meliputi:

  • Kulit dan mata kering
  • Pertumbuhan terhambat
  • Penglihatan anak kurang optimal pada malam hari atau saat kondisi cahaya redup
  • Infeksi pada saluran pernapasan
  • Proses penyembuhan luka lambat

Segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Zat besi

Kurang darah atau anemia terjadi ketika simpanan zat besi yang ada di dalam darah habis, serta persediaannya di dalam otot sangat sedikit.

Jika sudah sampai mengalami anemia, artinya kondisi kekurangan zat besi yang dialami anak tergolong parah.

Dengan kata lain, kadar hemoglobin dan hematokrit yang ada di dalam sel darah merah telah berada di bawah nilai normal atau cut off.

Jika anak mengalami kurang gizi karena zat besi, berbagai gejala yang akan terlihat seperti:

  • Kulit pucat
  • Mudah lelah
  • Pertumbuhan dan perkembangan lambat
  • Nafsu makan menurun
  • Merasa kesulitan dalam bernapas
  • Sering mengalami penyakit infeksi
  • Keinginan untuk makan makanan tertentu meningkat, seperti es krim, sumber karbohidrat, atau lainnya

Segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Yodium

Yodium adalah jenis mineral yang penting untuk mendukung produksi hormon tiroid, tiroksin, dan triodotyronine. Berbagai gejala kekurangan yodium pada anak seperti:

  • Pembengkakan di leher (gondok)
  • Kelelahan parah
  • Rambut mudah rontok
  • Kulit kering
  • Detak jantung melambat
  • Kesulitan dalam belajar dan berkonsentrasi

Apabila anak Anda menunjukkan tanda-tanda seperti yang disebutkan sebelumnya, sebaiknya segera bawa anak Anda ke dokter.

Bagaimana cara mengatasi kurang gizi pada anak?

kekurangan gizi pada anak

Sebenarnya penanganan kurang gizi pada anak akan disesuaikan kembali dengan tingkat keparahan dan kondisi khusus yang dialami masing-masing anak.

Adanya komplikasi yang turut menyerati gizi kurang juga akan menjadi pertimbangan tersendiri.

Bayi di bawah 6 bulan

Bagi bayi yang di bawah enam bulan dan termasuk dalam kategori kurang gizi (kurus) pada dasarnya tidak ada penambahan olahan makanan bayi lainnya.

Penanganan yang diberikan harus fokus pada ASI karena usia ini masih dalam masa pemberian ASI eksklusif.

Pemberian ASI sebaiknya lebih sering dari biasanya dan hindari langsung memberikan susu formula campur ASI untuk mengatasi masalah ini.

Penambahan susu formula pada bayi hanya dilakukan pada masalah tertentu dengan pengawasan dokter atau ahli gizi.

Jika tidak memiliki masalah kesehatan lain, bayi sebaiknya tetap diberikan ASI secara eksklusif.

Jadi, pemberian ASI eksklusif untuk bayi yang berusia kurang dari enam bulan sangat dianjurkan selama masih memungkinkan.

Perlu diperhatikan jika berat badan bayi Anda tidak bertambah selama 2 bulan berturut-turut atau pertambahan tidak sesuai grafik pertumbuhan bayi <6 bulan, Anda perlu berkonsultasi ke dokter.

Sementara itu, untuk bayi di bawah enam bulan yang mengalami kurang gizi akut (severe acute malnutrition) sebaiknya berikan makanan tambahan pada usia 4 bulan dengan berkonsultasi ke dokter sebelumnya.

Hal ini harus terus dilakukan sampai berat badan bayi mengalami kenaikan sesuai dengan standar normal seusianya.

Bayi di atas 6 bulan

Bayi di atas enam bulan disarankan untuk secara bertahap meningkatkan asupan energi, protein, karbohidrat, cairan, vitamin, serta mineralnya guna mengatasi kurang gizi.

Tujuannya adalah untuk menambah berat badannya dan memperkuat sistem imunnya agar bayi tersebut tidak berisiko tinggi mengalami infeksi.

Selain perubahan pola makan, jadwal makan, dan menu makanan anak, ada perawatan lain yang diperlukan untuk meningkatkan status gizi bayi, yakni:

  • Dukungan emosional dari keluarga
  • Pengobatan tertentu jika ada yang terkait dengan penyebab kenapa anak tersebut menjadi kurus
  • Pemberian vitamin dan mineral khusus

Setelah bayi cukup sehat dan berat badannya sudah mulai meningkat sehingga memenuhi standarnya, pola makannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan harian.

Anak usia 1 tahun ke atas

Secara umum, berikut beragam pengobatan yang dapat dilakukan untuk memulihkan anak yang kurang gizi:

Ubah pola makan anak

Dokter atau ahli gizi anak mungkin merekomendasikan perubahan dalam jenis dan jumlah makanan anak Anda, dan mungkin meresepkan suplemen makanan seperti vitamin, mineral, dan protein.

Perubahan pola makan anak biasanya akan disarankan secara bertahap meningkatkan asupan kalori, protein, karbohidrat, cairan, vitamin, dan mineral.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko anak Anda mengalami komplikasi seperti infeksi.

Anak Anda mungkin juga disarankan untuk mengonsumsi suplemen nutrisi khusus yang dapat meningkatkan asupan energi dan protein.

Anak-anak dengan kekurangan gizi yang berat perlu diberi makan dan minum dengan sangat hati-hati sehingga tidak dapat diberikan pola makan normal dengan segera.

Jika kondisinya seperti itu, anak Anda membutuhkan perawatan khusus di rumah sakit.

Pemberian suplemen

Suplemen vitamin dan mineral, baik yang berbentuk bubuk atau tablet, untuk remaja dengan gizi kurang bermanfaat agar nafsu makannya meningkat.

Namun, alangkah lebih baik bila Anda konsultasi lebih lanjut dengan dokter.

Dokter mungkin akan meresepkan vitamin penambah nafsu makan anak jenis tertentu tergantung dari kondisi kesehatan dan tingkat keparahan gizi kurang pada remaja.

Pantau perkembangan dan status gizi anak

Lakukan pemeriksaan ke dokter secara rutin untuk mengetahui bagaimana perkembangan kondisi dan status gizi anak.

Selain itu, meski Anda melakukan perawatan di rumah, Anda tetap butuh arahan dari dokter atau ahli gizi untuk mencukupi kebutuhan nutrisi anak yang kekurangan gizi.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kurang gizi pada anak?

anak kurang gizi

Cara mencegah kurang gizi pada anak yang paling utama adala memberikan makanan dengan gizi seimbang.

Adapun makanan bergizi seimbang ini terdiri dari empat kelompok makanan utama, yaitu:

  • Buah-buahan dan sayuran, setidaknya berikan anak 5 porsi per hari.
  • Makanan sumber karbohidrat, yaitu nasi, kentang, roti, pasta, dan sereal.
  • Makanan sumber protein, yaitu daging, telur, ayam, ikan, kacang-kacangan dan produknya.
  • Susu dan produk susu, seperti keju dan yogurt.

Berikan imunisasi lengkap pada anak untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak sehingga anak terhindar dari penyakit infeksi.

Berikan juga kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus sampai anak berusia 5 tahun.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kwashiorkor, Masalah Gizi yang Ditandai dengan Rambut Berwarna Kuning Seperti Jagung

Kwashiorkor adalah kondisi kurang gizi pada anak yang bisa mengakibatkan kematian bila tidak segera ditangani. Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 29 September 2020 . Waktu baca 14 menit

Perkembangan Anak Usia 16 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

Di usia 16 tahun anak sudah berada di fase remaja akhir. Berikut berbagai perkembangan yang terjadi saat usia anak 16 tahun.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 27 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Perkembangan Anak Usia 15 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

DI usia ini, anak sudah masuk masa pertengahan remaja. Lantas, apa saja perkembangan yang terjadi pada anak usia 15 tahun? Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 25 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Osteoporosis

Osteoporosis adala kondisi tulang mengalami pengeroposan secara berkelanjutan. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, dan pencegahannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Osteoporosis, Kesehatan Muskuloskeletal 23 September 2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
asupan nutrisi yang baik membantu pertumbuhan tinggi badan anak

Peran Penting Nutrisi dalam Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
anak stunting

Stunting pada Anak: Ketahui Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 12 menit
perkembangan anak 17 tahun

Perkembangan Anak Usia 17 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 9 menit
perkembangan anak usia 18 tahun

Perkembangan Anak Usia 18 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 9 menit